Matahari redup di petala langit, Awan abu-abu kehitaman menutupi langit. Salju sudah turun, walau tidak banyak namun kini rerumputan kota Seoul ditutupi putihnya serpihan salju. Angin semakin dingin menggigit. Namun tak membuat semangat manusia pagi itu menghilang, beberapa orang berjalan menuju tempat kerja mengenakan pakaian hangat agar udara tidak menusuk ketulang. juga ada memilih menaiki kendaran dan bersantai dirumah sambil menyalakan penghangat.
Heeko yang biasa bangun pagi sengaja untuk tidak terjaga lebih awal. Sebab tidak ada yang perlu di sibukan di kafe. Heeko baru terbangun ketika jam sudah menunjukan pukul sembilan pagi.
Sejak Yoongi mengusirnya dari kamar, Heeko menjadikan sofa di depan televisi sebagai tempat tidurnya. Pria tak punya belas kasihan itu malah tidak peduli dengan gadis yang harus tidur di ruang tengah, tapi Heeko tidak mempermasalahkannya, bisa tidur dengan nyenyak itu sudah cukup.
Heeko meregangkan tubuh. Bersiap untuk menyelam dalam kesibukan harian. Netranya tertumpu pada Yoongi yang baru keluar dari kamar. Pria itu tampak lebih rapi dari biasa Heeko lihat setiap pagi, berbalut mantel tebal hitam dan celana denim yang senada. Yoongi sepertinya hendak pergi.
"Mau kemana Yoon?" Tanya Heeko sembari mengucek matanya.
Yoongi diam seperti batu, tidak ada respon dari pria itu atau tanda-tanda akan menyahut, itu membuat Heeko geram. Dengan segala perhitungan Heeko melempar kaleng soda kosong dan mendarat tepat di ubun-ubun Yoongi. Pria itu meringgis, Heeko tersenyum puas.
"Mau kemana?" Tanya Heeko sekali lagi.
"Bukan urusan mu" jawabnya datar.
"Ayolah, jangan ada rahasia-rahasia, bukankah sekarang kita teman? Bahkan kita sudah tinggal bersama seperti sepasang suami istri" Heeko tersenyum aneh menampakan jejeran gigi yang belum digosok.
"Cih" Yoongi berdecih jengkel.
"Hei jangan membuatku melempar remot ini padamu" Heeko menunjuk-nunjuk remot di atas meja dengan perasaan dongkol.
"Aku ingin bertemu adikku" suaranya seperti semilir angin jika tak fokus mendengarnya
"Adikmu?" Untungnya rungu Heeko menangkap ucapan Yoongi. "Aku ikut ya?" Pinta Heeko melembut.
"Kenapa harus ikut?, jangan"
"Hey kenapa begitu. Aku ingin kenal dengan adikmu, boleh ya"
"Jangan"
"Apa aku harus beraegyo baru kau mau mengizinkanku?"
"Cih sialan" Yoongi berdecih tetapi tidak kesal.
"Oke tunggu sebentar, dua puluh menit lagi aku selesai" Heeko menghambur ke kamar mandi.
Dua puluh menit pas, Heeko kini sudah bersih dan berpakaian hangat, bahkan gadis itu sempat berhias. Awalnya Heeko tak yakin apa Yoongi benar-benar menunggunya, tetapi ekspetasinya di luar dugaan. Yoongi menunggunya. Pria itu bersandar di depan pintu sambil menatap langit-langit.
"Ayo" pinta Heeko.
Mereka menuju ke basement, mengambil mobil dan melaju menuju tujuan mereka, Rumah Sakit Jiwa Hongnam.
"Yoon, apa makanan favorit adikmu?" Tanya Heeko bersemangat.
Yoongi diam kembali seperti benda mati, ia fokus menyetir seolah keberadaan Heeko tidaklah ada.
"Min Yoongi, jangan buat aku berucap dua kali!" Bentak Heeko serius.
"Dia suka kimbab mozarela" jawab Yoongi datar.
"Benarkah?. kebetulan" netra Heeko berkelana keluar jendela mobil "berhenti!" Pintanya.
"Eh?" Yoongi terheran.
"Aku bilang berhenti!" Pekik Heeko berhasil membuat Yoongi menepikan mobilnya mendadak dan berhenti. "Tunggu sebentar" Heeko keluar dari mobil menuju toko kimbab yang ada di seberang jalan. Tak lama Heeko kembali membawa satu kotak kimbab hangat.
"Aku membawakannya untuknya" Heeko tersenyum lebar ke arah Yoongi yang tak di gubris sama sekali.
Tiga puluh menit perjalanan, mereka tiba ditujuan, di Rumah Sakit Jiwa Hongnam. Yoongi menuju admisnitrasi untuk membayar uang rawatan bulanan adiknya.
"Aku ingin bertemu Yoonji" pinta Yoongi pada salah satu staff administrasi. Staff tersebut memanggil salah satu perawat dan memintanya menuntun Yoongi dan Heeko ke tempat dimana adik Yoongi berada.
"Dia sedang ditaman" perawat itu menunjuk pada gadis yang berjarak dua puluh meter dari tempat mereka berada. Gadis itu tengah duduk di bangku taman. Ditengadahkan kepalanya menikmati mentari pagi yang bersembunyi di balik awan. "Sudah dua hari Yoonji kehilangan nafsu makan. Pagi ini juga tidak sarapan. Aku harap kedatanganmu bisa membantunya" tukas perawat itu.
"Baiklah akan ku coba" sahut Yoongi tersenyum kecut.
Yoongi duduk di salah satu bangku taman dan diikuti oleh Heeko disampingnya. Bangku yang jaraknya beberapa meter dari tempat dimana Yoonji berada.
"Kenapa duduk disini, bukankah kamu ingin menemuinya?" Tanya Heeko penuh rasa penasaran.
Yoongi mendengus sebelum berucap "dia tak ingin bertemu denganku" lirih Yoongi pasrah.
"Kenapa begitu?"
"Kejadian itu membuat Yoonji takut dengan semua laki-laki, juga sangat menyalahkanku"
"Kenapa tidak berusaha memperbaiki kembali hubungan kalian?"
Yoongi menggeleng "Aku tidak ingin menyakitinya lagi"
Heeko tak habis pikir bagaimana bisa Yoongi membiarkan hubungan mereka merenggang hanya gara-gara peristiwa lima tahun yang lalu, memang itu bukanlah permasalahan biasa, tapi seharusnya Yoongi berusaha menyatukan hubungan mereka kembali secara mereka adalah kakak beradik dan harus saling melindungi satu sama lain.
"Dasar bodoh" ucap Heeko remeh.
"Kau tidak mengerti" Yoongi berdecih.
"Jika aku mengerti apa yang akan kau lakukan?" Tanya Heeko.
"Cukup! Kau terlalu jauh untuk ikut campur" elah Yoongi jengkel.
"Maaf Min Yoongi, bukan bermaksud lain. Namun sejak kita menjalin pertemanan urusanmu adalah urusanku juga. Maksudnya aku akan membantumu apapun itu walaupun kamu menolak. Jadi maaf kau tidak bisa melarangku untuk ikut campur urusanmu, kecuali jika kita tidak serumah" ucap Heeko sebelum memanggil kembali perawat yang menuntun mereka ke taman tadi.
"Jadi gadis itu belum makan ya?" Tanya Heeko pada sang perawat.
"Belum nona"
"Ya sudah terima kasih"
Heeko beranjak dari bangku taman, bersiap pergi "setidaknya berusahalah untuk mencoba, kamu hanya mampu membunuh tetapi malah tidak bisa memperbaiki hubungan kalian. Dasar pengecut"
-Tbc
KAMU SEDANG MEMBACA
BOY MEETS EVIL || Min Yoongi
FanfictionYoo Heeko, gadis keturunan Jepang dan Korea mencoba mencari peruntungan di negeri Ginseng sembari belajar hidup mandiri. Gadis itu baru saja mulai menata hidup barunya. Membeli sebuah apartemen di Kota Seoul. Siapa sangka apartemen yang di beli deng...
