Bagian Tiga Puluh Dua

9.2K 1K 115
                                        

"Mulai besok kau sudah bisa bekerja disana" Yoongi memulai percakapan pertama kali setelah lima belas menit berdiam selama perjalanan.

Heeko terus-menerus mendengus, sejak mulai menaiki mobil air wajah Heeko sudah jengkel.

"Ada apa?" Yoongi menyadari sikap Heeko yang tidak biasa.

"Seharusnya minta pendapatku dulu. Aku tidak ingin bekerja di perusahaan besar seperti itu"

"Kenapa? Bukankah seharusnya bersyukur masuk tanpa wawancara atau bermacam-macam tes? "

"Tapi aku ingin memperkerjakan bukan di perkerjakan"

"Hei, setidaknya sampai uangmu terkumpul untuk membuka kafe kembali"

Heeko memutar otaknya. Netranya beralih menatap keluar jendela. Yoongi benar, setidaknya untuk enam bulan kedepan itu sudah cukup membeli tempat untuk membuka kafe kembali.

"Hmm benar juga"

Hening kembali menyelimuti mereka berdua. Suasana yang sempat hangat kini tidak ada bedanya dengan  tumpukan salju yang semakin meninggi. Yoongi sibuk menyetir dan Heeko sibuk menatap kosong jalanan, diam-diam Heeko melirik pada Yoongi. Memindai wajahnya dari samping. Pria itu tampak tampan dengan relief wajah yang sangat rupawan.

"Kenapa? Apa yang sedang kau lihat?" Yoongi berhasil membuat Heeko tertegun dan berubah menjadi salah tingkah, gadis itu mengalihkan pandangannya.

"Huh hanya perasaanmu saja" Heeko mengelak jengah.

"kau lapar?" tanya Yoongi datar.

"tidak, aku tidak lapar" Heeko menolak sebab tubuh nya masih gemetar akibat efek Yoongi yang menangkap basah dirinya. Namun beberapa detik kemudian perut Heeko tidak bisa di ajak berkompromi. Perutnya melolong seperti meminta tolong. Yoongi menangkap jelas suara itu. Diam-diam pria itu menggulum senyum.

"aku tahu tempat makan yang enak" sahut Yoongi.  Heeko merutuk perutnya dan ingin memarahinya setiba di umah nanti.

¤¤¤

Mereka makan di restoran tak jauh dari apartemen, sebuah restoran kecil di ujung sebuah gang, restoran yang jauh lebih kecil dari kafe Heeko. Namun pengunjung selalu ramai di sana, bahkan Yoongi dan Heeko harus menunggu sesaat sampai mendapat tempat.

"Wah aku tidak pernah tau jika ada restoran kecil seperti ini disini" Heeko berdecak kagum, gadis itu memindai seisi ruangan bernuansa khas Jepang.

"Makanya gunakan penglihatanmu dengan baik"

"Heh aku tidak punya waktu untuk memindai seluruh negeri ini" Heeko berdecih.

Tak lama seorang pelayan datang menghampiri, menanyakan makanan apa yang ingin mereka pesan, Yoongi memesan Ramen beef sementara Heeko memesan Ramen katsu dan secangkir matcha hangat. Selam menunggu pesanan Heeko kembali curi-curi pandang, menggunakan kamera ponsel untuk menatap pria itu diam-diam adalah sebuah ide bodoh, agar Yoongi menyangka Heeko sekedar bermain ponsel. Heeko memperdekat jarak kamera ponselnya, mengamati pria berkulit pucat itu dengan jantung yang berdegup dua kali lebih cepat. Bagi Heeko, Yoongi akan terlihat jauh lebih tampan jika pria itu diam. Heeko memperdekat kameranya. Wajah pucat nan rupawan itu memenuhi seluruh ponselnya, hingga tanpa di sadari Heeko memperdekat kameranya tepat bibir Yoongi. Bibir yang pernah diciun kemarin pagi, Heeko membayangkan betapa hangatnya ciuman kala itu. Detak jantung Heeko semakin terpacu lebih cepat hingga ponselnya terbang saking jengah begitu pikirannya dipenuhi ciuman itu.

"Ada apa?" Tanya Yoongi mengambilkan ponsel Heeko yang jatuh ke lantai.

"Aku hanya bingung" gadis itu berusaha untuk mengendalikan ekspresinya lalu mengambil matcha hangat yang baru di antar pelayan dan menyeruputnya perlahan.

"Apa karena ciuman itu?" Heeko tersedak. Gadis itu terbatuk-batuk. Yoongi lalu menyodorkan segelas air. Dan Heeko segera meminumnya.

"Aku tidak apa-apa" Heeko kembali meminum air tersebut.

"Aku sudah pernah bilang padamu, tapi selama ini kau seolah mengabaikan peringatanku. Soal ciuman itu sebuah bukti bahwa aku tak main-main"

Pipi Heeko bersemu merah. ia menunduk malu, memainkan tali tas yang di pangku di pahanya. "Jadi itu bukanlah gertakan?"

Yoongi menggeleng.

"Jadi apa maksud mu menciumku kala itu?" lirihnya. suara Heeko terdengar seperti semilir angin yang berhembus pelan jika tidak berhasil mendengarkan dengan baik.

Yoongi menangkap pertanyaan itu dengan amat jelas. Yoongi menghela sembari menatap gadis di depannya yang masih tertunduk.

"Jauh sebelum aku mencium mu pagi itu, bagiku kau wanita ku" Yoongi berucap

"Apa kita berkencan?" Netra Heeko beralih menatap netra milik Yoongi yang tidak beralih menatap Heeko.

"Anggap seperti itu"

"Bagaimana bisa, kau bahkan tidak tau apa aku juga mencintai mu atau tidak" Gadis itu tertawa aneh.

"Akan ku buat kau jatuh cinta padaku"

"Ya! Min Yoongi bagaimana bisa kau memaksa seperti itu, apa kau mencintaiku?"

"Cukup, yang terpenting aku sudah memberi tahumu"

"Dasar gila"

Pria itu tersenyum puas, netra Heeko menangkap semuanya, mata yang dulu seperti panah terbuat dari es yang bisa membidik siapa saja kini memancarkan kehangatan dari sana. Heeko akui Yoongi mulai banyak berubah.

¤¤¤

"Sesuai janjiku mulai sekarang kamar ini milikmu" Yoongi membentangkan tanganya ke arah ranjang. Menunjukan kalau ini bukan tempat nya lagi.

"Lalu bagaimana denganmu?"

"Aku akan tidur disana" Yoongi menunjuk ke arah lemari buku terbuat dari kayu jati yang ada di sisi kanan samping kamar.

"Kau akan tidur di lemari?" Heeko terkekeh.

"Ada ruang di balik lemari itu, jangan mencoba untuk masuk kesana"

"Kenapa?"

"Kalau aku bilang jangan ya jangan"

"Cih, pria aneh" Heeko berdecih hendak meninggalkan kamar menuju ke kamar mandi untuk membersihkan diri.

Tak lama ponsel Yoongi berdecit. Satu panggilan dari Taehyung. Heeko sempat menguping pembicaraan mereka. Sepertinya ada misi lagi untuk Yoongi.

"Mau sampai kapan kau membunuh orang-orang itu" Batinnya.

¤¤¤

"Aku pergi"

"Tunggu" Heeko menghampiri Yoongi tengah memasang sepatunya. "Ini untukmu" Heeko menyodorkan satu buah permen rasa karamel pada Yoongi

"Apa ini?"

"jika kau merasa gelisah atau takut makan lah ini"

"Aku tidak butuh itu"

"Tidak, kau butuh" Heeko meraih tangan Yoongi dan meletakan permen itu di telapak tanganya.

Yoongi menyimpan permen itu di saku di dalam saku . Dan berlalu mendekati pintu. Namun tiba-tiba Yoongi kembali berbalik ke arah Heeko. meraih pinggang Heeko dalam sekejap gadis itu jatuh dalam pelukannya

"Sebentar saja, biarkan aku memeluk mu" bisiknya sebelum kepalanya tenggelam di leher Heeko.

Gadis itu tertegun, perlahan tangannya meraih punggung Yoongi dan membalas pelukan itu. Menepuk pelan punggungnya.

"Tidak masalah" lirih Heeko tenang.

"Terima kasih" 

"Berhati-hatilah aku tidak ingin kau terluka"

"Aku akan kembali tiga hari lagi"

"Iya, jaga dirimu"

Yoongi menangguk sebelum pria itu benar-benar berlalu.

Heeko terjerembab. Disentuh dadanya bermaksud menyuruh jantungnya kembali normal setelah terpacu lebih cepat.

"Ya Tuhan sepertinya aku benar-benar mencintainya" lirihnya.

Tbc

BOY MEETS EVIL || Min YoongiCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang