Bagian Dua Puluh Tiga

8.8K 908 19
                                        

"Jam berapa kamu sampai Heeko?" Ucap Haruna di seberang telepon.

"Mungkin satu dua jam lagi"

"Kamu pergi sendiri?"

"Ti-tidak, aku bersama Junghee" Heeko harus bisa setenang mungkin agar dustanya bisa terdengar nyata.

"Syukurlah. Aku hanya memastikanmu baik-baik saja. Aku mau berangkat kerja. Aku tutup dulu"

"Hati-hati jangan sampai tertabrak lagi"

"Nyaris Hee" jengkel Haruna mematikan ponselnya. Disandarkannya kepalanya pada sandaran bangku halte kemudian menghela panjang.

Haruna hendak berangkat kerja. Namun pagi itu Haruna sedikit mendapat kesialan. Sudah satu jam Haruna menunggu bus, kebanyakan bus berbeda arah dengan tujuannya. Jika ada itu sudah penuh.

Jam sudah menunjukan pukul enam empat puluh pagi, dua puluh menit lagi Haruna harus berada di tempat kerjanya.

"Baiklah tidak ada cara lain" gumamnya penuh ambisi. Tidak ada pilihan lain selain berjalan kaki, mungkin dua puluh menit cukup untuk sampai jika ditempuh dengan berlari.

Haruna bangkit dari duduknya bersiap untuk menyeberang, namun kecerobohan kembali terjadi padanya. Efek dari keterburu-buruan Haruna nyaris menuju alam lain jika  pengendara itu tidak berhasil mengendalikan mobilnya. Haruna hampir ditabrak. Lagi.

Haruna roboh dan beruntung dalam kondisi sadar. Haruna hanya terjerembab kaget. Si pemilik kendaraan yang ternyata seorang pria keluar dengan jantung yang juga naik turun.

"A-anda tidak apa-apa non... Haruna?" Tanya pria memastikan.

Merasa namanya dipanggil Haruna mendongak ke arah pemilik suara yang berdiri di hadapannya " Park-park Jimin?"

"Kamu baik-baik saja?"

Haruna mengangguk yakin setelah memeriksa tubuhnya.

"Mari ku bantu" Jimin mengulurkan tangannya membantu Haruna kembali berdiri. Kaki gadis itu masih bergetar efek dari syok yang baru saja dialaminya. "Bagaimana jika aku benar-benar menabrak mu" tukas Jimin dengan nada meninggi.

"Maafkan kecerobohanku Jim, aku terburu-buru"

"Kamu mau kemana?"

"Aku bekerja" Haruna melirik jam perak yang bergelayut di lengannya "sepuluh menit lagi aku harus disana, jika tidak tamat lah riwayatku. aku pergi dulu Jim"

"Tidak, biar ku antar" dengan cepat Jimin meraih lengan Haruna menghalanginya untuk pergi. Gadis itu terhenti.

"Tidak usah, aku harus segera pergi"

"Aku tak yakin sepuluh menit cukup untuk sampai di tempat kerjamu, ayo"

"Ba-baiklah"

Haruna menyerah, diikutinya perkataan Jimin yang memang adanya. Jimin membantu Haruna untuk menaiki mobilnya.

"Kamu bekerja dimana?" Jimin mengambil alih percakapan.

"Aku karyawan di perusahan properti Hwashin group"

"Oh ya? Berarti tujuan kita sama"

"Benarkah?"

Lampu merah menyela. Jimin memberhentikan sesaat mobilnya lalu menoleh ke arah Haruna dengan ekpresi senang "aku juga bekerja disana" imbuhnya.

"Oh ya? Ba-Bagaimana bisa?" Haruna terkejut.

"Sepulang dari New York aku di tempatkan bekerja disana. Baru satu bulan"

"Begitukah, pantas saja aku tidak pernah melihatmu"

"Ya begitulah"

Lampu menyala hijau, mobil itu kembali melaju membelah angin musim gugur yang semakin dingin.

BOY MEETS EVIL || Min YoongiCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang