Pagi itu tampak sedikit lebih cerah. Langit lebih cerah meskipun ditutupi semburat awan abu-abu. Pendar sinar matahari terhalang kabut tipis sudah mengintip dari ufuk timur.
Heeko berdiri di depan cermin merapikan diri sembari mendesah berat. Gadis itu menggunakan dress hitam setinggi lutut berlengan panjang dan berkerah putih. Rambut coklat panjangnya di biarkan tergerai begitu saja. Satu buket bunga lili putih yang di pesan tadi pagi terletak indah di atas tempat tidur. Hatinya gundah, ada rasa takut yang tengah bersembunyi di relung hatinya.
"Yoongi, hari ini aku ke pemakaman. Aku pergi" ucapnya lesu.
Yoongi tengah menikmati musik sembari bersandar di ranjang. Ia menoleh ke arah Heeko menatap gadis itu dengan sorot khas Min Yoongi "aku ikut" ucapnya datar.
"Kenapa ikut?"
"Aku bosan"
"Aku hanya ke pemakaman, kamu bisa berjalan-jalan di sekitar sini"
Tanpa mempedulikan ucapan Heeko Yoongi beranjak dari ranjangnya. Mengambil hoodie di atas kursi lalu menunggu gadis itu di luar kamar hotel "ayo".
"Iy-iya"
Heeko tak habis pikir, sebelumnya Yoongi berkata jika ia bosan di Seoul. Namun ketika sampai di Busan pria itu malah berdiam diri di kamarnya. Lalu saat Heeko hendak pergi ke pemakaman lelaki ingin ikut dengan alasan yang sama 'aku bosan'. Heeko tidak tahu apa sebenarnya yang ada di benak Yoongi. Apa maksud Yoongi sebenarnya?. Terlepas dari itu setidaknya bersama Yoongi Heeko merasa aman. Seolah pria itu sebuah perisai untuknya di kota antah berantah itu.
¤¤¤
Sepuluh menit dari Hotel menggunakan mobil. Mereka sampai pada tujuan. Pemakaman itu terletak di belakang sebuah gereja tua. Dari kejauhan gereja itu sudah terlihat puncak yang runcing bagaikan anak panah. Jendela bundar utamanya menghadap ke taman depan yang dilingkari pohon dengan dedaunan maple rontok musim gugur.
Yoongi memarkir mobil di depan gereja. Mereka lalu berjalan lewat samping gereja yang memang khusus jalan menuju ke pemakaman. Di belakang gereja juga memiliki pekarangan amat luas. Di sana terdapat rumah-rumah kecil berisi ribuan abu jenazah. Yoongi mengikuti Heeko memasuki salah satu ruangan itu. Lalu langkah mereka terhenti pada sebuah etalase yang di tengah ruangan bertuliskan nama pria yang di rindukannya, Jeon Jungkook. Ada foto pria itu terpampang disana. Foto di hari kelulusan SMA. Hari dimana Heeko belum mengenal Jungkook. Ia tersenyum manis bagaikan gula tebu.
Ada satu buket bunga mawar merah disana. Bunga itu masih terlihat segar. Sepertinya ada yang datang sebelum mereka. Mungkin bunga itu dari pihak keluarga Jungkook.
Heeko lalu meletakan bunga lili di samping mawar tersebut. Sebelum memberikan penghormatan
"Bagaimana kabarmu?, tiga bulan yang lalu aku kesini. Dan sekarang aku kembali, apa kamu tidak bosan denganku?" Heeko mulai berbicara pada laci berisi abu Jungkook di depannya.
"Apa kamu tenang disana? Apa kamu makan dengan baik? Apa kamu tetap setampan dulu? Apa menyenangkan disana?, apa tidak ada gadis yang mengganggu sepertiku?" Suara Heeko terdengar serak. Gadis itu kini bergetar menahan tangisnya.
"Tepat hari ini aku datang untuk memperingati tiga tahun kematianmu. Seperti ulang tahun saja bukan?" Gadis itu tertawa dalam sedihnya.
"Seharusnya di tahun ini kau menikahiku, tapi aku malah membuatmu pergi dari dunia ini" Tangis Heeko pecah. gadis itu kini terisak. Kaki yang tak mampu menopang diri kini goyah. Heeko roboh seketika. Bersimpuh sembari terus menangis tersedu-sedu.
Yoongi hanya bisa melihat dari belakang dan tahu betul ini bukan urusannya, jadi Yoongi tidak ingin ikut campur kecuali memang di minta. Yoongi menatap gadis itu dengan sorot datar. Tak ada niat untuk menenangkan sebab Yoongi tahu Heeko datang kesini untuk hal semacam ini.
"Maafkan aku Jungkook" tukasnya terisak.
"Rasa bersalah itu terus menyelimutiku, ini semua salahku. Maafkan aku sayang" Heeko berusaha bangkit kembali namun kakinya terlalu lemah untuk berdiri. Heeko nyaris jatuh tapi dengan gesit Yoongi menangkap Heeko dan membantunya kembali berdiri. "Tetaplah tenang disana, ku harap kau tidak bertemu wanita jahat seperti ku" sambungnya.
Heeko memberikan penghormatan terakhir sebelum mereka keluar dari ruangan itu dan keluar dari area pemakaman.
"Yoongi aku ingin ke pantai" pinta Heeko serak.
"Baiklah"
¤¤¤
Matahari berubah menjadi jingga dan bersiap menutup hari, menunggu kelamya malam yang tak tahu apakah bulan akan bersedia memberikan sedikit cahayanya untuk menyinari bumi.
Gelombang ombak yang tidak terlalu besar datang bergulung silih berganti menyambut siapa yang datang seakan ingin mengajak bermain. Air jernih dan pasir putih lembut yang terhampar luas tanpa ada karang yang menghalangi. Heeko dan Yoongi duduk di salah satu batu besar yang terdapat di tepi pantai.
Suasana menenangkan pantai sore itu tidak lah menggambarkan perasaan Heeko saat ini. Gadis itu duduk menekuk kakinya menjadikan lututnya sebagai topangan dagunya. Heeko sudah tidak menangis tapi kemelut luka lama yang kembali terbuka masih meninggalkan rasa pedih yang teramat luar biasa. Hanya semilir angin laut menyapu wajahnya yang dapat sedikit menenangkan hatinya.
Yoongi duduk tenang di samping Heeko dengan posisi yang sama, awalnya pria itu merasa gelisah saat baru sampai di pantai, namun seiring waktu berjalan juga sembari menemani Heeko melampiaskan kesedihannya Yoongi kini bisa mengendalikan kegelisahannya.
"Aku ingin memberi tahu jika aku merasa sedih aku akan memilih duduk di pantai dan melepaskan semuanya. Yoongi apa kami suka pantai?" Heeko akhirnya memulai percakapan pertama sejak mereka duduk disana beberapa jam yang lalu.
"Pantai adalah salah satu tempat yang paling kuhindari" ucap Yoongi datar.
"Kenapa begitu?"
"Sebab ditempat ini mengingatkan saat aku tidak menghiraukan panggilan dari adikku. Saat ia dalam bahaya"
Mendengar ucapan Yoongi barusan Heeko lantas berdiri, ia bersihkan pasir yang melekat di dress nya, Heeko merasa tidak enak pada Yoongi "kenapa tidak bilang, maaf membuat mu tidak nyaman, ayo pergi" ajak Heeko tersenyum kecut.
"Sudahlah aku bisa tidak apa sekarang. Bukankah kau sedang menenangkan dirimu"
"Jangan pikirkan aku dan jangan paksakan dirimu"
"Justru kau yang jangan paksakan dirimu. Aku sungguh tak apa" ucap Yoongi sedikit meninggi "duduklah kembali" sambungnya.
Heeko kembali duduk, gadis itu kembali ke posisinya. Menatap kosong ombak sembari menghela. Keheningan kembali menyelimuti mereka. Heeko berusaha mengendalikan emosinya, dan Yoongi berusaha mengendalikan kegelisahannya.
"Aku menangis seperti anak kecil ketika mengingat kematian kekasihku"
"Itu hal yang wajar"
"sementara kau begitu tenang dengan masalahmu yang luar biasa rumit dan kau bisa membunuh banyak orang tanpa perasaN. Boleh aku tahu kenapa bisa seperti itu?" Heeko mengambil alih pembicaraan.
Yoongi terdiam, ia menatap kosong gulungan ombak yang terus datang silih berganti. Lalu menghela "Sebenarnya aku takut"
Tbc...
KAMU SEDANG MEMBACA
BOY MEETS EVIL || Min Yoongi
FanfikceYoo Heeko, gadis keturunan Jepang dan Korea mencoba mencari peruntungan di negeri Ginseng sembari belajar hidup mandiri. Gadis itu baru saja mulai menata hidup barunya. Membeli sebuah apartemen di Kota Seoul. Siapa sangka apartemen yang di beli deng...
