1. Si Bungsu dari Tiga Bersaudara

185K 13.7K 378
                                        

"Navya .... ke mana aja kamu ditelepon gak pernah diangkat?" Semburan dari seberang telepon sudah memburu ketika gadis muda dengan muka mengantuknya baru saja menggeser layar untuk menerima panggilan.

"NAVYA!" teriak di seberang telepon setelah tidak menerima sahutan padahal si penelepon sudah bicara nyerocos dari tadi.

"Ehm ...," sahut gadis muda yang belum sepenuhnya mengumpulkan nyawanya itu.

"Navya ... jangan bilang kamu masih tidur? Ini sudah jam berapa, Vya? Anak gadis itu seharusnya ... bla ... bla ... bla ...."

"Ya Allah, Mama Cantikku. Kenapa pagi-pagi begini sudah telepon adek, sih? Pake ngomel-ngomel lagi, inget darah tinggi, Ma," jawab Navya setelah nyawanya dipaksa berkumpul karena omelan ibunya.

"Pagi katamu? Lihat jam, sekarang sudah jam sepuluh, dan kamu bilang masih pagi," omel Nyonya Sartika pada putri bungsunya itu.

Navya melihat jam di dinding kamarnya dan mengucek matanya. Ternyata ibunya benar, pantas saja perutnya sudah melilit, waktu makan paginya sudah terlewat tiga jam dari jam makan pagi biasanya.

"Maafin Vya, Ma. Vya sibuk jadi bangun kesiangan dan gak sempat angkat telepon dari Mama," ucap Navya mengalah, daripada omelan ibunya semakin panjang.

"Sibuk apaan kamu? Emang Mama gak tahu kalau kamu tinggal nunggu wisuda saja? Tega banget kamu, yah, gak kasih kabar sama mamamu kalau kamu sudah lulus sidang. Untung om kamu dosen di universitasmu, kalau tidak ... bla ... bla ... bla ... ." Ibu dari 3 anak itu melanjutkan omelannya untuk si bungsu. Sementara itu orang yang sedang diomelinya meregangkan tubuhnya dan berjalan ke kamar mandi untuk membasuh wajah dan menggosok gigi.

Omelan dari nyonya Sartika yang cetar membahana badai itu masih berlanjut, padahal Navya sempat meninggalkan kamar kostnya untuk membeli nasi uduk di depan.

"Ma, ngomelnya udah belum? Emang mama kagak cape?" tanya Navya enteng.

"Kamu ini paling pinter kalau bantah orang tua, heran, deh, Mama," protes nyonya Sartika setelah cape mengomel.

"Vya lagi sibuk sama bisnis EO-nya Vya, Ma. Bulan-bulan ini, tuh, lagi banyak-banyaknya yang pake jasa EO Vya, Ma. Vya minta maaf gak kasih tahu mama perkara sidang Vya. Mama sama Papa, kan, lagi sibuk urus pernikahannya Kak Nitya, jadi bakal ribet kalau Mama mesti keluar kota juga buat hadir di sidang Vya. Lagian Kak Nitya sama Bang Ganes juga hadir buat dukung Vya di sini. Ada om Ramli sama tante Sita juga kok," ucap Navya.

"Bilang aja, kamu gak bilang mama sama papa karena takut mama dan papa langsung bawa kamu pulang."

"Kok mama bisa aja nebaknya sih?" tanya Navya cengengesan.

"Vya janji, seminggu sebelum nikahan Kak Nitya, Vya udah pulang ke rumah. Masa calon pengantinnya belum pulang, Vya harus pulang duluan, sih," protes Navya.

"Kamu gak kangen emang sama Mama? Udah lama kamu gak pulang karena kemarin-kemarin sibuk skripsi. Kalau kakak kamu, kan, begitu orangnya susah banget dibilangin,mentang-mentang pinter, gak mau dengerin nasihat orang tua . Mama udah pesen buat pulang sebelum seminggu pernikahan tapi tetap saja bilangnya lihat nanti kalau dia gak sibuk baru pulang cepat katanya. Yang nikahkan dia, kenapa dia gak mau lebih meluangkan waktu untuk pernikahannya sendiri," ucap Ibu Sartika setengah curcol.

Navya adalah anak bungsu dari tiga bersaudara, kakak pertamanya, Nitya, adalah seorang dokter bedah di rumah sakit besar. Kakak perempuannya adalah sosok yang jenius dan ambisius dalam meraih kariernya. Kakak keduanya, Nattan, adalah pengusaha meubel melanjutkan jejak ayah mereka. Sebenarnya kakaknya juga punya perusahan sendiri di bidang IT, tapi karena sebagai anak laki-laki satu-satunya, mau tidak mau kakaknya meneruskan usaha ayah mereka. Sementara dia baru saja menyelesaikan kuliahnya dan meraih gelar sarjana sastra. Navya juga membuka EO bersama teman-teman dekatnya yang membuat dia sangat sibuk dan mendapatkan protesan dari sang ibu.

Paradise GardenCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang