33. Pria Dalam Mimpi Itu

61K 8.5K 568
                                        

Navya masih belum bisa menggerakan tangan dan kakinya. Dia merasa tubuhnya mulai kedinginan, dia ingin berontak tapi tidak bisa melakukan apa pun. Sekelilingnya terdengar sangat hening, hanya suara barang terbuat dari stainless yang beradu yang terdengar. Sesekali suara bor halus juga terdengar. Navya merasa dia sedang berada dalam ruang operasi seperti film-film yang pernah dia lihat saat ini. Samar-samar dia juga mendengar orang yang berbincang. Karena suasana yang hening, meskipun sepertinya orang yang berbincang posisinya berada cukup jauh darinya, tapi Navya bisa menangkap isi pembicaraan mereka.

"Pria itu benar-benar gila ... dan kita sama gilanya karena mau bekerja untuknya," ucap seseorang.

"Jika kau masih mau uang tutup mulutmu," sahut orang lainnya.

"Ow ... lihatlah, wajahnya kali ini benar-benar hancur," suara itu terdengar bergedik ngeri.

"Diamlah, bekerjalah dengan baik. Kau masih suka uang, kan? Jangan banyak bicara lakukan saja sesuai perintah. Lagipula kita tidak melanggar hukum, kita hanya melakukan apa yang mereka suruh," sahut temannya.

"Tapi tetap saja, rasanya mengerikan membedah orang yang mukanya hancur atau tulang-tulangnya remuk. Terlebih kebanyakan mereka masih anak-anak. Mereka mati penuh dengan rasa sakit dan setelah mati, kita masih mengambil organ tubuh mereka. Mana sekarang malam Jumat lagi."

"Ck ... jika kau masih memiliki hati nurani maka teruskan pekerjaanmu sebagai dokter di tempat terpencil dengan gaji pas-pasaan itu. Lagipula kematian mereka memberikan harapan hidup pada banyak nyawa lainnya. Mereka mungkin berterima kasih karena pria itu akhirnya menghabisi nyawa mereka sebelum mereka merasakan kejamnya dunia pada orang-orang tanpa rumah dan keluarga seperti mereka."

"Dan meskipun malam ini malam Jumat, mayat-mayat ini tidak mungkin bangun dan mencekikmu."

"Hah ... kau benar, aku di sini untuk uang, kenapa juga aku peduli dengan kelakuan orang-orang kaya itu. Lagipula bukan kali pertama juga aku membelah mayat. Anggap saja aku sedang melakukan autopsi saat ini."

Obrolan-obrolan itu terus berlanjut dan suara mereka lama-lama terdengar samar. Navya menggerakan lehernya dan matanya melotot ketika dia berbalik dan mendapati mayat tanpa mata berada di sampingnya. Navya menjerit ketakutan, dia menjerit sekuat tenaga dan plak, tiba-tiba dia merasa seseorang memukul lengannya.

"Ampun Navya ... tidurnya rusuh banget," ucap Reta setengah sadar karena jeritan Navya. Wanita itu menggosok telinganya yang berdengung karena teriakan Navya. Sedangkan Chandra, wanita itu hanya terjaga sebentar dan kembali tidur.

Kalandra yang kebetulan sedang berjaga langsung mengetuk pintu kamar setelah mendengar jeritan Navya. Bukan hanya ada Navya di kamar itu, sehingga membuat Kalandra sungkan langsung masuk ke kamar meskipun kamar miliknya sendiri.

"Navya, kau baik-baik saja?" tanya Kalandra di balik pintu. Sedangkan Navya di dalam kamar masih berusaha mengendalikan dirinya dari mimpi buruk yang dialaminya. Inilah yang paling dia benci jika harus tidur di rumah ini. Mimpi buruk yang tiada henti menghantui setiap malamnya.

"Navya!" seru Kalandra dari balik pintu, sepertinya pria itu masih menunggu Navya menginformasikan keadaannya.

"Maaf ganggu tidur kalian, tidurlah lagi. Gue keluar dulu bentar," ucap Navya bangkit dari pembaringannya.

Navya membukakan pintu untuk Kalandra yang menatap cemas padanya.

"Kau baik-baik saja?" tanya Kalandra meraih tangan Navya agar semakin dekat dengan tubuhnya.

"Kau pikir aku baik-baik saja setelah mimpi buruk?" tanya Navya balik. Terlihat jelas raut lelah di wajah Navya.

Kalandra membawa Navya ke pelukannya dan Navya tidak menolaknya. Setelah beberapa menit mereka berpelukan, Kalandra menuntun Navya untuk ikut dengannya.

Paradise GardenCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang