"NAVYA!" teriakan itu entah sudah berapa kali terdengar dari lantai bawah. Si pemilik nama berulang kali memutar bola matanya jengah mendengar namanya yang terus saja menggema di rumah besar itu. Semenjak menginjakan kaki di rumah orang tuanya, tampaknya tidak ada satu pun hari tenang di hidupnya. Sudah tiga hari sejak dia sampai ke rumah orang tuanya, dan rasanya melelahkan sekali. Mentang-mentang hanya dia anak yang pulang, orang tuanya sama sekali tidak memberikannya waktu untuk sendiri. Disuruh inilah, disuruh itulah, dikenalkan kepada inilah, kepada itulah, Navya sampai kesal.
Kanjeng Ratu pemilik rumah ini sepertinya sangat tidak senang melihat putri bungsunya berleha-leha. Pernikahan Nitya akan diadakan di halaman belakang rumah mereka yang memang luas. Ibunya tidak memakai jasa WO karena dia ingin mempersiapkan pernikahan putri sulungnya sendiri, dibantu kerabat dan beberapa kenalan. Karena si calon pengantin yang tidak juga pulang, Navya selaku adik dari calon mempelai juga ikut direpotkan.
"Navya ... jangan pura-pura budeg, nanti budeg beneran tahu rasa. Sini turun cepet Mama butuh bantuan kamu," omel Sartika pada putri bungsunya.
Sebenarnya bukan tanpa alasan ibu tiga anak itu merecoki anaknya terus. Ketiga anaknya jarang pulang untuk bertemu dengannya juga suaminya, semenjak mereka memutuskan untuk tinggal di pedesaan demi kesehatan sang suami. Jika pulang, ketiganya lebih memilih tidur di kamar mereka dengan alasan lelah. Navya adalah putri bungsunya, mereka sudah hidup berjauhan sejak anaknya masih duduk dibangku SMA. Suaminya membutuhkan udara segar dan suasana tenang untuk kesembuhan penyakitnya. Anak pertama dan keduanya sudah bekerja dan tidak mungkin meninggalkan pekerjaan mereka. Si bungsu juga sekolah dan waktu itu masih pertengahan semester dan tidak memungkinkan untuk pindah sekolah. Tinggal terpisah membuat Sartika merindukan saat-saat bersama anak-anaknya meskipun mungkin anaknya merasa sebal dengan segala omelan khas ibu-ibunya.
"Nah, ini putri bungsu saya, ibu-ibu," ucap Sartika pada ibu-ibu yang berkumpul di rumahnya untuk mempersiapkan acara pengajian yang akan diadakan besok.
"Kirain ini calon pengantinnya," celetuk salah satu ibu-ibu itu, yang langsung dibantah Sartika.
Obrolan ibu-ibu berlangsung panjang lebar ke sana-kemari. Navya yang digandeng ibunya, mau tidak mau tetap tinggal. Gadis itu hanya bisa memasang senyum tiga jari di hadapan ibu-ibu itu ketika salah satu dari mereka melibatkannya dalam pembicaraan. Sapaan salam dari arah pintu masuk membuat Navya langsung berbinar. Dengan alasan menyambut tamu yang datang, Navya berpamitan pada ibu-ibu itu.
Binar mata Navya semakin bersinar saat melihat siapa yang datang.
"Abang Nattan!" seru Navya ketika mendapati tubuh jangkung sang kakak berada di ambang pintu.
"Tumben seneng banget liat Abang," ucap Nattan curiga. Seingatnya sang adik yang berbeda sembilan tahun darinya itu tidak pernah segirang itu bertemu dengannya. Yang ada, adiknya biasanya menadahkan tangan meminta uang padanya. Keduanya juga jarang bertemu karena kesibukan masing-masing, meskipun masih tinggal di kota yang sama. Bisa dibilang rumah yang ditempati Nattan adalah rumah utama mereka. Tempat tinggal keluarga mereka sebelum kedua orang tuanya memutuskan pindah ke daerah pedesaan.
"Abang datang di saat yang tepat," ucap Navya girang bukan main. Abangnya adalah kesayangan sang ratu di rumah ini, maklum putra satu-satunya. Belum lagi wajah abangnya bisa dibilang paling good looking di antara tiga bersaudara itu. Campuran setengah bule dan setengah oriental di darah orang tuanya bercampur dengan baik dan membentuk kegantengan kakaknya.
"Saat yang tepat, apa?" tanya Nattan.
"Siapa yang datang, Nav?" tanya Sartika dari dalam rumah.
"Bang Nattan, Ma," jawab Navya tak kalah keras.
"Cepetan masuk temuin Mama, keburu marah nanti Nyonya Hajat," ucap Navya pada kakaknya yang hanya dijawab anggukan bingung oleh sang kakak.
KAMU SEDANG MEMBACA
Paradise Garden
Horror2 hari sebelum pesta pernikahan mereka, pasangan yang sudah berpacaran lebih dari 5 tahun itu menghilang. Dengan alasan belum siap keduanya menghilang tanpa jejak. Menghindari aib kedua keluarga sepakat menikahkan adik mempelai sebagai gantinya. Nav...
