"Kamu ngapain?" tanya Kalandra bingung karena sejak tadi Navya terus membuntuti langkahnya. Hari sudah malam, wanita itu juga sudah memakai pakaian tidurnya, tapi bukannya tidur di kamar, wanita itu malah terus saja menjadi buntut Kalandra.
Sejak pagi mereka terus bersama, membersihkan rumah, membereskan barang, membereskan pakaian hingga menata bahan makanan di dapur. Mereka juga memasak bersama hingga membereskan kamar mandi bersama. Selain adanya sampo dan sabun mandi di kamar mandi, tidak ditemukan tanda-tanda lain, jika rumah ini pernah dihuni. Lantai atas juga masih kosong melompong, belum diisi perabotan apa pun meski sudah dipasang gorden.
Kecurigaan Navya tentang kemungkinan Nitya atau Ganes tinggal di rumah ini, sama sekali tidak terbukti. Taman belakang dan juga taman depan memang belum mereka bereskan, tapi sungguh tidak mungkin Nitya dan Ganes sembunyi di taman bukan, karena di taman belakang hanya ada gazebo yang hanya tertutup atapnya saja. Gudang belakang juga terlalu kecil untuk dijadikan tempat sembunyi.
"Tidurlah, kenapa terus mengikutiku," ucap Kalandra pada Navya yang duduk merapat di sampingnya.
"Ayo tidur bersama," ajak Navya.
"Hah?" tanya Kalandra kaget, pria itu langsung berekspektasi ke mana-mana mendengar ajakan Navya.
"Jangan berpikiran aneh-aneh," ucap Navya seraya memukul belakang kepala Kalandra, saat melihat wajah pria itu memerah dan memandang aneh ke arahnya.
"Maksudku kita tidur bersama-sama, aku takut suara aneh yang kemarin malam aku dengar, terdengar lagi," ucap Navya.
"Hei, aku tidak tahu jika kau sepenakut itu. Aku tidak menyangka wanita yang ...."
"Jangan banyak bicara, ayo tidur! Aku rasa kau pun akan mati berdiri jika mendengar tangis yang aku dengar semalam," ucap Navya memotong ucapan Kalandra.
"Hei, tidak ada apa-apa di rumah ini. Bukankah kemarin sudah diadakan pengajian. Hantu penunggu rumah ini sudah kabur karena pengajian kemarin."
"Lalu kenapa malam kemarin, aku masih mendengar tangis yang tak berwujud?"
"Oh, mungkin malam kemarin hantunya masih beres-beres dan menangis karena harus meninggalkan rumah ini."
"Kalau malam ini ada yang aneh-aneh lagi, itu artinya hantunya belum selesai beres-beres, begitu?"
"Bisa jadi, dari cerita yang aku dengar para hantu, setan atau apalah sebutannya juga menjalani hidup seperti kita, punya keluarga dan yang lainnya, hanya saja kita tidak bisa melihat mereka."
Plak
"Kau ini, sudah tahu berdua di sini denganmu saja rasanya menyeramkan. Kenapa malah bahas kehidupan mereka," omel Navya sambil memukuli punggung Kalandra.
"Au, kagak usah pake kekerasan bisa gak, sih?" protes Kalandra, seraya menahan kedua tangan Navya.
Dan seperti biasa, cekcok tidak penting di antara mereka terus berlanjut, melupakan sejenak tentang ketakutan akan penghuni lain rumah itu. Akhirnya setelah Kalandra terpaksa mengalah, percekcokan tidak penting itu berakhir. Di sinilah mereka, berbaring di atas ranjang bersisian sambil menatap atap. Keduanya belum bisa menutup mata karena memang jam baru menunjukan pukul delapan, terlalu awal untuk mereka pergi tidur.
"Ah, dari pada tidur gak jelas gini, mending aku selesaikan editan naskah beritaku," ucap Kalandra bangkit dari posisi tidurnya.
Navya langsung mencekal lengan Kalandra sebelum pria itu beranjak berdiri.
"Apa?" tanya Kalandra.
"Kerjakan di sini," pinta Navya dengan wajah sok imut, yang membuat Kalandra berdecih sebal.
KAMU SEDANG MEMBACA
Paradise Garden
Horror2 hari sebelum pesta pernikahan mereka, pasangan yang sudah berpacaran lebih dari 5 tahun itu menghilang. Dengan alasan belum siap keduanya menghilang tanpa jejak. Menghindari aib kedua keluarga sepakat menikahkan adik mempelai sebagai gantinya. Nav...
