Navya merasa sekujur tubuhnya sakit melebihi yang biasa dia rasakan saat akan terserang flu. Perlahan Navya mencoba untuk membuka matanya yang terasa berat. Navya mengerjapkan matanya menyesuaikan cahaya yang masuk ke matanya.
"Navya ... Navya ... Ya Allah Navya ...," panggil seseorang dengan histeris menyapa gendang telinganya, ketika dia baru saja menyesuaikan penglihatannya dengan ruangan serba putih tempatnya terbangun. Navya ingat dengan kejadian terakhir kali yang dia alami. Suara keras dan Kalandra yang terkapar tidak sadarkan diri. Kalandra ... Navya mengingat pria itu, apakah dia baik-baik saja? Di mana dia sekarang?
Navya kembali mengerjapkan matanya. Mengamati langit-langit di atas tempat dia berbaring. Navya ingin mencoba memutar pandangannya ke seisi ruangan, tapi dia tidak bisa bergerak. Memaksakan diri justru membuatnya mengerang kesakitan. Suara yang memanggilnya masih terdengar diikuti derap langkah cepat beberapa orang yang semakin mendekat.
"Navya ...," panggil seseorang yang suaranya terasa akrab di telinganya.
Beberapa orang berbaju putih ikut hadir di ruangan itu, membuat Navya sempat berpikir mungkin dia sudah berada di alam lain. Tapi, setelah orang-orang itu mendekat, dia sadar kalau mereka adalah dokter yang akan memeriksanya.
"Selamat siang Navya, kamu bisa mendengar suara saya?" tanya si dokter paruh baya pada Navya. Tentu saja Navya bisa mendengar suara dokter itu, karena dia berada tepat di sampingnya sekarang. Wajahnya hanya berjarak satu penggaris panjang zaman sekolah dengan Navya.
Navya ingin mengatakan kata iya tapi rasanya sangat sulit untuk membuka suara. Memilih untuk mengangguk saja sebagai jawaban pun, sama sulitnya. Navya tidak bisa melakukan apa pun yang dia inginkan sekarang. Tubuhnya menolak perintah otaknya.
"Cukup kedipkan matamu jika kamu bisa mendengar," perintah si dokter.
Navya menuruti perintah si dokter dan mengedipkan matanya.
"Apa kamu bisa melihat saya?" tanya si dokter lagi, yang dijawab Navya dengan anggukan.
Dokter itu menjalankan pemeriksaan pada tubuhnya. Dia meringis ketika si dokter menyentuh beberapa bagian tubuhnya.
"Jangan terlalu banyak bergerak, kamu masih perlu istirahat," ucap si dokter lalu berjalan menjauh. Terdengar mereka berbicara, tapi Navya tidak bisa menangkap isi pembicaraan mereka karena kembali semuanya terasa gelap.
*************
"Hei, kamu sudah bangun?" tanya seseorang ketika Navya kembali membuka matanya. Kali ini dia bisa melihat dengan lebih jelas—wajah ibunya yang berbeda dari biasanya—berada tepat di depannya. Tidak ada make up yang menghiasi wajah ibunya. Rambutnya yang biasa rapi ala sosialita juga hanya diikat asal hari ini.
Navya ingin membuka mulut untuk memanggil sang ibu, tapi tidak ada suara yang keluar dari mulutnya.
"Tidak apa-apa sayang ... semua baik-baik saja," ucap mamanya mengelus pipi Navya lembut. Wanita paruh baya itu membantunya untuk minum dan kembali mengelus halus pipinya. Navya sampai heran, kenapa ibunya yang strong berubah jadi lembek hari ini. Ke mana nyonya Sartika yang powerful itu? tanya Navya dalam hati. Tidak berapa lama, ayah dan kakaknya juga terlihat. Keduanya juga sama kusutnya dengan sang ibu, kedua pria dalam keluarganya itu kemudian menunjukkan ekspresi haru saat melihatnya.
"Akhirnya kamu sadar juga," ucap Nattan, membuat Navya—yang belum sadar seratus persen dengan keadaannya—menaikan alis bingung. Navya butuh waktu untuk mencerna keadaan di sekelilingnya, dan untuk beberapa saat dia hanya bisa menjadi pendengar percakapan orang tua dan kakaknya tentang betapa khawatirnya mereka. Karena Navya tidak kunjung bangun hingga seminggu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Paradise Garden
Horror2 hari sebelum pesta pernikahan mereka, pasangan yang sudah berpacaran lebih dari 5 tahun itu menghilang. Dengan alasan belum siap keduanya menghilang tanpa jejak. Menghindari aib kedua keluarga sepakat menikahkan adik mempelai sebagai gantinya. Nav...
