53. Dia Orangnya? Kau Yakin?

56.5K 8.3K 904
                                        

"Kau yakin tidak salah mengenali orang? Barangkali karena kepalamu mengalami pembedahan, otakmu jadi sedikit error," ucap Nattan memperlihatkan sketsa wajah yang dikirimkan Dharma padanya. Sketsa itu berisi potret seorang pria berambut ala boyband dengan karakter wajah yang bisa dibilang cukup tampan. Entah siapa yang membuat sketsa wajah itu, alih-alih menunjukan itu adalah sketsa buronan sebuah kasus pembunuhan, malah lebih terlihat seperti lukisan seorang fangirl.

Dengan susah payah karena masih sakit, Kalandra berusaha menegakkan tubuhnya agar bisa melihat sketsa yang diperlihatkan Nattan. Sungguh tidak pengertian memang Nattan. Sudah tahu adik iparnya itu sedang sakit, bukannya menghampiri malah dia yang menyuruh Kalandra mendekat. Mungkin juga Nattan sedang balas dendam, karena Kalandra baru saja membuatnya baper. Apalagi adegan yang dilakoni Kalandra, dia lakukan bersama adik tercintanya. Pria itu terkadang masih tidak rela melihat sembarangan pria memeluk adiknya, meskipun dia tahu Kalandra adalah suami sang adik.

"Aku yakin memang seperti itulah wajah psikopat itu. Meskipun aku tidak bisa mengingat wajahnya dengan detail karena kau tahulah. Hanya berapa menit waktu yang bisa digunakan seseorang yang sedang baku hantam untuk saling menatap, dan meneliti satu sama lain kan," ucap Kalandra sedikit kepayahan.

"Sepertinya biarkan Kalandra istirahat dulu, deh, Bang," ucap Naka merasa kasihan pada Kalandra.

"Iya, kasihan banget orang baru sadar udah dipaksa mikir. Abang ini terkadang memang tidak berprikemanusiaan," cibir Chandra. Wanita itu tidak akan melewatkan waktu untuk memojokan kakak dari sahabatnya yang pernah dia taksir saat pertama kali mereka bertemu dulu. Efek ditolak secara halus sebelum menyatakan perasaan menimbulkan dendam tersendiri untuk Chandra maupun Reta yang sama-sama naksir Nattan. Memang kakak laki-lakinya Navya itu memiliki ketampanan yang cukup membuat dua wanita pecinta makhluk tampan itu terpesona.

"Tapi ...."

"Kita coba tanya suster aja sih, Bang ... suster pasti tahu siapa dokter yang berkunjung ke kamarnya Navya kan? Mungkin mereka juga punya datanya," ucap Chandra memotong ucapan Nattan. Melihat keadaan mengerikan sahabatnya, Chandra yang biasanya malas mikir, mendadak menggunakan otaknya untuk membantu perkara yang sedang menjerat sahabatnya itu.

"Ah okay lah, Naka anterin Kalandra balik ke kamarnya," ucap Nattan akhirnya.

"Aku istirahat di sini saja bang, aku ingin menemani Navya," ucap Kalandra menolak untuk kembali ke kamarnya. Pria itu membaringkan diri di samping Navya bersempit-sempitan di ranjang rumah sakit yang memang didesain untuk satu orang saja. Mengabaikan resiko tulang rusuknya yang sakit akan menjadi semakin sakit bila tersenggol seseorang. Kalandra memilih untuk mencoba mengistirahatkan tubuhnya kembali.

"Ini emang gak akan dimarahi susternya?" tanya Naka.

"Ck, biarin aja sih, kamar VVIP ini," jawab Chandra.

"Ayo bang kita tanyakan ke nurse station-nya, mereka pasti tahu siapa dokter yang Navya katakan. Kita bisa mulai mencari dari sana," ucap Chandra memberi komando.

"Kamu, diam di sini dan jaga mereka," perintah Chandra pada Naka. Terbiasa mengurus sebuah acara dengan bantuan banyak orang, Chandra sangat mahir memerintah. Dan dengan polosnya dua pria itu mengiyakan saja perintah wanita berparas ayu itu.

"Permisi suster, kerabat saya yang dirawat di ruang VVIP itu, dokter yang menanganinya siapa yah?" tanya Chandra dengan sikap ramah tamah ala marketing-nya.

"Yang menangani ibu Navya adalah Prof. Hari," jawab suster bername tag Dian itu.

"Oh, Prof. Hari, apa bisa konsultasi dengan Prof. Hari, sekarang?" tanya Chandra lagi.

Paradise GardenCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang