51. Dia yang Berada dalam Ingatan

56.4K 8.4K 453
                                        

Pemandangan tanah lapang nan hijau terlihat sejauh mata memandang. Angin bertiup sepoi-sepoi membuat siapa pun sulit menahan diri untuk tidak tidur. Begitu pun dengan pria muda yang entah kenapa berada di tempat asing ini. Perlahan pemuda yang menyandarkan tubuh ke satu-satunya pohon di tempat itu juga menutup matanya. Tapi, baru beberapa menit dia terlelap suara orang-orang memanggil namanya membuat dia terbangun.

"Kalandra ...."

"Kalandra ...."

Suara itu terdengar terus bersahutan, menuntun pria itu untuk melangkah dan mengikuti asal suara itu.

"Kalandra ...."

"Kalandra ...."

"Ya Allah syukurlah ...."

Suara-suara itu kembali terdengar ketika pemuda dengan berbagai alat yang terpasang untuk menunjang hidupnya membuka mata.

"Kalandra ... ini Bunda, Nak. Kamu bisa lihat Bunda, kan?"

"Kalandra ... ini Ayah ... kamu bisa dengar, Nak?"

"Dokter ... dokter anak saya sudah membuka mata."

"Dokter ... dokter cepat ke sini."

Pria yang baru membuka mata dan sedang menyesuaikan diri dengan cahaya yang masuk ke penglihatannya itu, cukup merasa kaget dengan suara-suara yang langsung menyerbu telinganya. Suara derap langkah terdengar, tidak berapa lama dia merasa seseorang mendekat memeriksa tubuhnya, menyorotkan sinar senter ke matanya.

"Pak Kalandra, Anda bisa mendengar suara saya?" tanya orang asing berjas dokter, yang tentu saja dijawab Kalandra dengan anggukan.

"Syukurlah, sepertinya pasien pulih lebih cepat dari perkiraan. Jika melihat dari betapa parahnya luka di kepala pasien, sadar setelah seminggu operasi adalah keajaiban besar. Kita lihat kondisinya untuk beberapa jam ke depan sebelum kita lakukan pemeriksaan menyeluruh," ucap dokter berwajah asing itu.

Kalandra kebingungan. Dia mengalami disorientasi tempat. Pria muda itu kembali menutup mata, berusaha mengingat-ingat kenapa bisa dia berada di sini. Upayanya terkendala, karena sang bunda yang terus saja mengajaknya bicara dan mengucapkan syukur atas kesadarannya.

"Untunglah kamu sudah sadar, Bunda gak tahu gimana kalau kamu sampai tidur lama. Kasihan juga istrimu yang pasti nungguin kamu," ucap bundanya membuat Kalandra kembali membuka matanya. Mendengar kata istri membuat dia akhirnya mengingat semua kejadian sebelum membuka mata di tempat ini. Istrinya ... bagaimana keadaan Navya? Kalandra ingat bagaimana Navya berlumuran darah karena siksaan psikopat gila itu. Dia juga mengingat bagaimana tubuh Navya yang terus bergetar ketakutan.

"Navya ...," ucap Kalandra dengan suaranya yang masih serak.

"Navya baik-baik saja, dia sudah sadar kemarin. Luka yang diderita Navya kebanyakan hanya luka luar, meskipun beberapa bagian tubuhnya terkilir, keadaannya sudah cukup stabil," ucap Dewi memberitahukan putranya yang pasti penasaran akan keadaan istrinya. Dewi tidak habis pikir bagaimana mungkin keluarganya mengalami kejadian begitu mengerikan seperti ini. Dewi yang belum lama kehilangan putra pertama, merasa jantungnya mencelos mendengar kabar yang menimpa putra bungsunya. Apalagi keadan Kalandra cukup parah waktu pertama kali ditemukan. Pendarahan di otak karena pukulan benda tajam, dan beberapa tulang rusuk patah karena perkelahian, sukses membuat tubuh wanita paruh baya itu lemas seketika.

Mendengar kabar dari bundanya, Kalandra menghela napas lega. Mengetahui Navya baik-baik saja sudah cukup baginya. Apalagi setelah tahu kalau kondisi Navya tidak separah dirinya, itu lebih melegakan lagi. Kalandra tidak tahu bagaimana perasaannya jika terjadi sesuatu yang lebih buruk pada Navya, mungkin dia tidak sanggup hidup lagi seandainya Navya tidak selamat dari tragedi ini.

Paradise GardenCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang