35. Penyelidikan yang Tidak Tuntas

59.5K 8.4K 266
                                        

Navya memungut berkas-berkas yang berceceran itu. Berkas itu berisi beberapa artikel, coretan-coretan juga beberapa lembar seperti laporan kesehatan pasien. Artikel dalam berkas itu tidak jauh beda dengan artikel yang dibaca Kalandra. Kertas-kertas berisi coretan-coretan kasar tulisan tangan Nitya menarik perhatian Navya. Jika melihat artikel dan juga coretan-coretan itu, dapat disimpulkan sepertinya Nitya juga mencari tahu tentang Paradise Garden.

Di coretan itu Paradise Garden dihubungkan dengan beberapa nama. Navya tidak tahu nama-nama itu, entah nama orang atau nama tempat. Yang Navya tahu hanya satu tempat yakni rumah sakit tempat kakaknya bekerja. Sepertinya kakaknya juga tidak berhasil menemukan kaitan Paradise Garden dengan nama-nama itu, karena coretan itu penuh dengan tanda tanya.

Mengingat kembali pembicaraan dengan orang tuanya yang mengatakan jika kakaknyalah yang menginginkan rumah di Paradise Garden, Navya tidak habis pikir dengan apa yang berada di kepala Nitya. Jika Nitya sejak awal tahu perumahan itu bermasalah, kenapa dia malah memilih untuk menjadi penghuni di perumahan itu? Apa yang Nitya cari hingga dia berani bertaruh dengan nyawanya sendiri.

Navya tidak memiliki tingkat kepintaran yang luar biasa, dia pusing sendiri ketika mencoba memahami maksud dari coretan Nitya. Ditambah lagi, melihat berkas kesehatan yang berada di map yang sama dengan artikel dan coretan itu, Navya tambah tidak mengerti. Navya tidak pernah belajar kedokteran jadi dia tidak terlalu mengerti maksud dari dokumen itu. Yang pasti, orang-orang yang rekap medisnya berada di map itu, pastilah ada hubungannya dengan Paradise Garden.

Navya memilih untuk membereskan semua dokumen itu dan memasukkannya ke dalam tas yang dibawanya. Dia akan membahas apa yang dia dapatkan itu dengan Kalandra dan yang lainnya. Navya melanjutkan acara beres-beresnya. Setelah dari rumah ini, dia masih harus membereskan barang Nitya dari rumah sakit tempat Nitya bekerja. Lagi-lagi dia menemukan kumpulan album foto milik Nitya dan Ganes saat membersihkan lemari Nitya. Melihat kembali betapa banyaknya moment bahagia yang mereka abadikan bersama, bahkan sejak mereka masih muda, Navya merasa miris. Tega sekali orang-orang itu pada Nitya dan Ganes, mereka mengkandaskan hubungan satu dekade penuh kebahagiaan keduanya dengan sadis.

Ketukan pintu mengalihkan perhatian Navya, dia bergegas untuk membuka pintu. Karena tidak hati-hati, kakinya menyenggol kotak dan membuat isi kotak berhamburan. Navya menghela napas kesal, dia memilih untuk membukakan pintu untuk orang yang mengetuk dulu baru membereskan kekacauan karena keteledorannya. Syukur-syukur jika yang mengetuk pintu adalah Kalandra yang akan membantunya beres-beres.

Dugaan Navya benar, Kalandralah yang datang. Navya langsung mengajak Kalandra membantunya beres-beres. Mengabaikan omelan Kalandra karena lebih banyak yang belum beres daripada yang sudah selesainya, pasangan muda itu meneruskan acara bersih-bersih mereka

"Sepertinya Kak Nitya sangat menyukai anak-anak yah," ucap Kalandra memperhatikan foto-foto yang berserakan karena ulah Navya tadi.

"Kenapa tiba-tiba bicara seperti itu?" tanya Navya.

"Lihatlah, sepertinya Kak Nitya dan Bang Ganes benar-benar menjadi orang baik," jawab Kalandra mengajak Navya mendekat ke arahnya.

Pasangan itu memperhatikan foto-foto Nitya dan Ganes yang berfoto bersama banyak anak-anak. Sepertinya pasangan itu mendatangi beberapa panti asuhan untuk beramal. Di antara banyaknya foto kegiatan mereka bersama banyak anak-anak, ada juga beberapa foto dengan orang-orang dewasa yang sepertinya berasal dari penampungan tunawisma.

"Aku tidak tahu, mereka banyak melakukan kegiatan amal selama ini," ucap Kalandra menyadari betapa banyak hal yang tidak dia ketahui tentang saudaranya sendiri. Begitu pun Navya, tak banyak hal yang dia ketahui tentang Nitya, bahkan waktu pertemuan mereka bisa dihitung jari setiap bulannya.

"Kita bersaudara, saudara kandung malah, tapi kita tidak tahu apa pun tentang saudara kita," ucap Navya lesu.

"Aku tidak tahu apa yang selama ini Kak Nitya kerjakan. Yang aku tahu dia adalah dokter bedah di rumah sakit terkenal. Hanya itu. Aku juga tidak tahu apa pun tentang Bang Nattan, bahkan aku tidak tahu jika dia punya anak di luar sana, padahal aku sering menghabiskan waktu dengan Bang Nattan. Sepertinya akulah yang paling egois di antara mereka. Aku ingin mereka tahu tentang hidupku dan apa saja yang aku lakukan tanpa pernah bertanya bagaimana kehidupan mereka dan apa yang mereka kerjakan," ucap Navya mendadak emosional.

"Sst ... sudahlah ... saat dewasa memang sulit untuk bisa mengetahui bagaimana orang menjalani hidup mereka, bahkan saudara kita sendiri," ucap Kalandra menenangkan Navya, meraih wanita itu ke dalam pelukannya.

"Orang-orang yang memiliki foto sendiri ini, pasti memiliki hal spesial bagi Kak Nitya dan Bang Ganes," ucap Kalandra melihat ada sekitar 5 sampai 7 foto pribadi yang bercampur dengan foto-foto kegiatan amal Nitya dan Ganes.

"Em, mungkin ...," ucap Navya melihatnya sekilas. Setelah adegan sedikit emosional tadi, pasangan itu kembali melanjutkan pekerjaan mereka. Jika mengikuti sisi emosional dan sensitif dalam hati mereka, mungkin pekerjaan mereka akan lama selesainya. Mereka harus bergegas menyelesaikan pekerjaan mereka karena banyak hal yang harus dikerjakan.

Setelah selesai mengemas semua barang milik Nitya mereka mengangkut semua barang itu ke dalam mobil. Setelah memberikan kunci pada pemilik rumah, mereka melanjutkan perjalanan menuju rumah sakit tempat Nitya bekerja. Untuk ukuran wanita yang tinggal hampir sepuluh tahun, barang Nitya terbilang sedikit. Dan barang-barang itu didominasi oleh buku-buku bekas dibandingkan pakaian dan aksesoris. Nitya pasti sangat sibuk dengan pekerjaannya dan tidak memiliki banyak waktu untuk memanjakan diri sebagai seorang perempuan.

Navya mendapatkan nomor dokter asistennya Nitya, dan pria yang berusia mungkin beberapa tahun lebih muda dari Nitya itu yang mengantarkan mereka ke ruangan Nitya.

"Sayang sekali dokter Nitya tidak kembali setelah cutinya," ucap dokter bernama Ishak itu.

"Padahal dokter Nitya menjadi salah satu kandidat yang ditunjuk Prof. Ian untuk menjadi wakil direktur di departemen kami," ucap dokter Ishak lagi.

Sembari mereka berjalan menuju ruangan Nitya, dokter Ishak terus membicarakan tentang Nitya. Tak henti-hentinya pria itu memuji kehebatan Nitya sebagai dokter bedah dan senior panutannya. Baik Navya maupun Kalandra, tidak memperhatikan dengan jelas ucapan asisten dokter itu. Keduanya terlalu larut dengan suasana biru karena membereskan barang-barang Nitya.

"Ini ruangan dokter Nitya, maaf saya tidak bisa menemani kalian lebih lama karena ada operasi. Tidak ada dokter Nitya membuat jadwal operasi sedikit berantakan. Dan sampai hari ini, belum ada yang menandingi kehebatan dokter Nitya di ruang operasi," ucap dokter Ishak seraya beranjak pergi.

Navya dan Kalandra kompak menghela napas seperginya dokter Ishak. Tanpa bicara, keduanya mulai membereskan barang Nitya yang akan mereka bawa. Tidak banyak barang yang berada di ruangan Nitya. Figura foto yang terpasang di atas meja Nitya, membuat keduanya terpaku. Foto itu diambil saat Nitya dan Ganes melakukan prewedding dua bulan sebelum pernikahan. Navya ingat betul, ketika keduanya akan berangkat hari itu karena Nitya mengajaknya ikut serta. Tapi, karena saat itu dia sibuk dengan skripsi, Navya menolaknya.

"Kalau tahu mereka akan pergi cepat, aku mungkin akan lebih banyak menghabiskan waktu dengan Kak Nitya," ucap Navya menyesal.

Kalandra hanya mengusap bahu Navya untuk menenangkan wanita itu, dan kembali sibuk mengemasi barang milik Nitya. Terlalu banyak hal yang menyesakkan terjadi hari ini. Melihat semua barang peninggalan orang yang entah bagaimana kabarnya di luar sana, lebih menyesakan dibanding melihat orang yang sudah jelas tubuhnya bersatu dengan tanah. Harapan bersama rasa frustasi berbaur bersama.

"Sebenarnya apa maksud dari rekap pasien ini?" tanya Navya karena kembali menemukan rekap pasien dengan nama yang sama dengan yang berada di rumah Nitya. Kali ini, dia juga menemukan beberapa lembar identitas orang-orang yang tidak dia kenali. Tapi, ketika dilihat dengan seksama mata Navya melebar melihat foto dalam identitas itu.

"Kalandra ...," panggil Navya.

"Ini sebenarnya apa?" tanya Navya. Wanita itu berharap apa yang di pikirannya tidak benar-benar berjalan seperti mimpinya. Apalagi sebuah coretan kembali ditemukan di laci Nitya, yang membuat Navya ngeri dengan pemikiran yang terlintas di kepalanya.

Paradise GardenCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang