50. Mencari Kemungkinan Identitas Si Pelaku

54K 8.1K 1.2K
                                        

"Nitya pasti mengalami kematian yang menyakitkan," ucap Willy setelah membaca hasil autopsi jasad Nitya. Kakak Nattan itu, ditemukan di sebuah ruangan dalam rumah yang diklaim kosong oleh pengelola perumahan. Mereka menemukan fakta ini setelah berhasil mengantongi izin investigasi dan menekan Imran—si ketua RT—walau dia berkeras mengklaim dirinya tidak tahu. Meskipun pihak manajemen perumahan Paradise Garden terkesan menghalang-halangi usaha mereka untuk melakukan penyelidikan, Dharma dan rekannya tidak menyerah untuk terus menginvestigasi kasus ini. Bahkan petinggi kepolisian pun ingin mereka menunda kasus ini, setidaknya sampai identifikasi tersangka jelas. Karena itu izin untuk menyelidiki pihak manajemen dan pihak keamanan perumahan secara perorangan masih belum juga turun.

Nitya ditemukan dalam sebuah ruangan terkunci yang berada di belakang tangga rumah terduga pembunuh. Meskipun tidak ada bukti apa pun jika rumah itu pernah ditinggali, dari adanya ruang kendali CCTV yang memantau ruang rahasia itu, mereka dapat menyimpulkan jika rumah ini jelas pernah ditinggali. Nitya ditemukan dalam keadaan mengenaskan dengan sebelah kakinya terikat rantai. Tubuhnya sangat kurus, dan meski hampir sebulan hilang. jasadnya masih dapat dikenali. Dari pemeriksaan autopsi kemungkinan Nitya meninggal kurang dari satu minggu sebelum ditemukan. Nitya meninggal secara perlahan jika melihat banyaknya pembusukan di dalam anggota tubuhnya, hasil dari penyiksaan berulang. Bagaimana mata wanita itu membelalak saat ditemukan, siapa pun tahu jika mungkin Nitya mengalami ketakutan dan siksaan yang sangat parah.

Ditemukan juga jasad anak kecil yang sudah membusuk dan teridentifikasi sebagai Abela. Dari hasil autopsi, kemungkinan gadis kecil itu meninggal lebih dari 1 bulan lalu. Wajah gadis kecil itu hancur dan tempurung kepala anak itu juga sama hancurnya. Belum lagi perut anak itu terkoyak dan beberapa organ tubuhnya hilang. Abela ditemukan di tempat yang sama di samping Nitya. Sepertinya selama ini, Nitya dikurung bersama jasad Abela. Bayangkan bagaimana mengerikannya dikurung bersama mayat yang perlahan membusuk.

Nattan terlihat terguncang begitu Willy memberitahukan penemuan jasad Nitya dan jasad yang diduga sebagai anak Nattan. Willy melarang Nattan untuk melihat kondisi jasad kedua keluarganya, karena bahkan dirinya yang sudah terbiasa melihat jasad korban pembunuhan pun, merasa mual melihat kondisi dua wanita itu. Setelah tiga hari sejak penemuan kedua wanita itu, hasil autopsi akhirnya keluar. Willy tidak sanggup untuk mengatakan secara detail apa yang terjadi pada Nitya dan Abela dan hanya mengatakan jika kedua wanita berbeda usia itu mengalami kematian yang menyakitkan.

"Apa yang harus aku lakukan?" tanya Nattan mengacak rambutnya frustasi. Pria itu terlihat sangat lusuh sejak apa yang menimpa adiknya. Dan sekarang kabar ditemukan jasad kakak dan anaknya pasti memperparah kondisi pria itu.

Willy tidak tahu bagaimana dia bisa memberikan penghiburan pada Nattan. Meskipun dia terbiasa menangani berbagai kasus, ini kali pertama ada kasus yang menimpa seseorang yang dia kenal.

"Cara pelaku memperlakukan Nitya terlihat berbeda dari korban lainnya. Kemungkinan besar si pelaku dan Nitya saling mengenal. Mungkin juga pelaku adalah orang dekat bagi Nitya. Karena jika membandingkan metode pembunuhan Nitya dan pembunuhan brutal lainnya, pembunuhan Nitya lebih condong pada pembalasan dendam," ucap Dharma mengemukakan pendapatnya setelah memeriksa hasil penyelidikan dan autopsi.

"Apakah ada orang terdekat Nitya yang kamu curigai?" tanya Dharma pada Nattan yang masih memasang wajah frustasinya.

Nattan menggelengkan kepala untuk menjawab pertanyaan Dharma, karena dia memang tidak mengenal siapa pun orang di sekeliling Nitya. Hubungan Nattan dan Nitya tidak terlalu dekat meskipun mereka saudara kandung. Ketika berkumpul, jarang mereka membicarakan orang terdekat dalam hidup pribadi masing-masing. Mereka lebih sering bersenda-gurau, atau sekedar membully Navya, si adik bungsu. Membicarakan tentang diri mereka dan kegiatan sehari-hari akan menyita waktu berkumpul yang singkat itu, karena mereka harus segera kembali pada kesibukan masing-masing.

"Coba ingat-ingat kembali, mungkin ada orang terdekat Nitya yang kita lewatkan. Kemungkinan hanya itu petunjuk satu-satunya yang dapat menuntun kita pada si pelaku. Tidak mungkin kita hanya menunggu ada orang yang melihat pelaku untuk ditanyai. Pihak atasan meminta kasus ini segera ditutup, dan jika itu terjadi mungkin ini akan berakhir sebagai kasus yang tak terselesaikan," ucap Dharma menjelaskan betapa pentingnya Nattan mengingat orang-orang terdekat Nitya yang berpotensi sebagai tersangka.

Sekuat apa pun Nattan mengingat, dia tidak dapat mencurigai siapa pun karena hanya beberapa orang saja teman Nitya yang dikenalnya. Dan setahunya, hanya Ganes satu-satunya orang yang paling dekat dengan Nitya, itupun dia baru tahu setelah beberapa tahun keduanya menjalin hubungan. Nitya yang Nattan kenal memang tidak terlalu mudah bergaul dengan banyak orang. Sama seperti kebanyakan orang yang terlalu pintar, Nitya lebih sibuk dengan dirinya sendiri juga dengan buku-bukunya.

Sementara Nattan dkk mencari tahu identitas si pembunuh psikopat, orang yang mereka cari justru menjalani kehidupannya dengan normal. Pria itu berpakaian rapi dengan kacamata berbingkai menghiasi matanya. Jangan lupakan jas putih khas dokter juga melengkapi penampilannya. Pria itu mengumbar senyum hangat pada orang-orang yang menyapa. Tidak akan ada yang menyangka jika di balik senyum ramah yang memang menjadi tuntutan profesi, ada iblis yang bersemayam dalam tubuhnya.

**************

Navya membuka matanya melihat sekeliling, gerakan yang bisa dia lakukan masih terbatas karena tubuhnya masih sakit.

"Ada yang kamu butuhkan, Sayang?" tanya sang ayah begitu melihat putrinya membuka mata. Pria paruh baya itu mendekati ranjang tempat putrinya berbaring dan menggenggam tangan sang putri. Pria yang berusaha menguatkan diri menghadapi masalah yang menimpa keluarganya itu, mencoba menunjukan senyum penuh ketenangan. Sampai hari ini, Navya belum benar-benar bisa bicara karena kerusakan pita suaranya. Darren merasa hatinya hancur karena nasib buruk yang menimpa kedua putrinya. Dia tidak tahu dosa apa yang pernah dilakukannya hingga kedua putrinya harus menanggung semua ini. Darren berusaha untuk kuat karena Sartika yang biasanya menjaga dan menguatkannya justru tak bisa bertahan setelah kabar kematian Nitya disampaikan oleh putra mereka.

"Kamu mau minum?" tanya Darren pada putrinya yang dijawab anggukan oleh Navya. Gips yang menahan leher Navya sudah dibuka, Navya sudah bisa mengangguk dan menggerakan kepalanya.

"Mama sedang istirahat di rumah," ucap Darren menjawab tatapan bertanya dari putrinya.

"Hari ini, kita hanya berdua saja. Tidak apa-apa kan, Sayang? Ah, Papa jadi ingat waktu kamu kecil, biasanya kita berdua saja kalau Mama sibuk mengambil rapor sekolah kakak-kakakmu. Rasanya baru kemarin kamu memegang jari Papa untuk belajar berjalan, dan sekarang kamu sudah sebesar ini," ucap Darren mengenang masa lalu, seraya menepuk-nepuk tangan putrinya. Navya balas menatap ayahnya dan senyum kaku tercipta di wajah wanita muda itu. Sudah lama sekali sejak ayah dan anak itu berada sedekat ini. Beranjak dewasa membuat Navya sibuk dengan urusannya sendiri, dan jarang menghabiskan waktu dengan sang ayah. Apalagi mereka memang tidak lagi tinggal bersama setelah ayahnya sakit.

Ketukan pintu mengalihkan perhatian ayah dan anak itu. Darren bangkit dari posisi duduknya, begitu mempersilahkan orang itu masuk. Seseorang berpakaian dokter, diikuti oleh perawata memasuki ruangan dengan senyum ramah.

"Visit dokter pak," ucap si perawat ramah.

"Loh kok dokternya beda?" tanya Darren karena seingatnya dokter yang menangani Navya bukanlah dokter itu.

"Prof. Hari sedang menggantikan Prof. Ian untuk mengisi seminar. Untuk sementara yang akan menangani ibu Navya sampai beberapa hari ke depan adalah dokter ini," ucap si perawat bernama Dian, memperkenalkan dokter yang berada di sampingnya.

Navya mendengar pembicaraan ayahnya dengan petugas medis dari tempatnya berbaring. Prof. Ian, nama itu tidak asing bagi Navya. Meskipun dia tidak tahu ada berapa profesor yang memiliki nama serupa di rumah sakit tempat Nitya pernah bekerja ini. Tanpa bisa dicegah, pikirannya tertuju pada profesor Kak Nitya yang mungkin terlibat dengan kejadian di Paradise Garden. Meskipun sebenarnya, dia tidak ingin lagi menengok semua kegilaan yang terjadi padanya di perumahan itu, tapi dia sedikit penasaran bagaimana akhir kasus ini.

Ketika Navya sedang menebak-nebak apa yang terjadi setelah kejadian gila yang menimpanya, suara seseorang bicara tiba-tiba membuat tubuhnya merinding. Navya tidak mungkin salah mendengarnya. Suara itu ... suara yang menjadi mimpi buruknya.

Paradise GardenCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang