"Bisa ceritakan lebih detail tentang anak-anak yang hilang itu?" tanya Navya.
"Maksudnya?" tanya Aruni sedikit tidak paham.
"Anak-anak itu, jika kakak saya memang berniat membantu sejak awal, saya tidak keberatan untuk membantu apa yang kakak saya lakukan. Jadi, bisa tolong ceritakan lebih rinci tentang anak-anak itu. Dan bagaimana mereka bisa hilang?" tanya Navya. Dia berharap semua mimpinya hanya mimpi belaka. Rasanya sangat menyeramkan jika dia harus menghadapi semua kegilaan ini. Seorang psikopat yang berkeliaran di rumah, ditambah perdagangan organ yang didalangi orang yang kemungkinan berada di lingkungan yang sama dengan rumahnya berada. Tidakkah semua itu terlalu berlebihan untuk dihadapi seorang wanita muda dengan banyak mimpi yang belum terwujud seperti dirinya? Pernikahan impian bak putri negeri dongengnya sudah direnggut, masa iya mimpi-mimpi lainnya juga harus terenggut karena sesuatu yang bahkan dia tidak yakin kenapa bisa dia terlibat dengan semua kegilaan ini. Navya masih muda, bahkan dia belum sampai pada usia pertengahan duapuluhnya, masa iya dia harus mati di usia semuda ini, dengan cara yang mengerikan pula.
"Ada banyak anak-anak di sini, jadi kami terkadang tidak bisa memperhatikan semua anak dengan baik. Kami lebih sering fokus pada anak-anak yang masih kecil-kecil yang masih membutuhkan perhatian dari pada anak-anak yang sudah cukup bisa mengurus diri mereka sendiri. Kami juga tahu ada anak yang hilang setelah beberapa kali tidak melihatnya ikut makan bersama," ucap Aruni merenung, terdengar jelas jika wanita paruh baya itu tengah menyesali semuanya.
"Apa ibu mengingat anak-anak yang hilang itu? maksud saya tingkah berbeda anak itu sebelum hilang, atau apa pun itu?" tanya Navya. Yang dijawab dengan gelengan kepala oleh Aruni. Sepertinya Navya menjadi sedikit bebal karena banyaknya pikiran yang berputar di kepalanya, sudah jelas Aruni mengatakan jika dia baru tahu ada anak hilang setelah menyadari anak itu beberapa kali tidak makan bersama, mana mungkin wanita paruh baya itu sempat memperhatikan perbedaan tingkah anak itu.
Navya membuka tasnya dan memperlihatkan foto yang sengaja dia bawa dari kumpulan barang-barang milik Nitya.
"Ibu mengenali anak-anak ini?" tanya Navya.
Aruni melihat foto-foto itu dan mengenali 4 di antaranya sebagai anak asuhnya yang hilang. Navya meremas tangan Kalandra mendengar pernyataan Aruni. Kalandra balas menggenggam tangan Navya yang meremasnya terlalu kuat. Beruntung jam makan malam tiba, sehingga pembicaraan menyedihkan tentang anak-anak yang hilang itu berhenti.
Meskipun perasaan Navya sudah tidak karuan, dia tetap bersikap normal di hadapan anak-anak yang terlihat ceria menyambut makan malam. Ada sekitar 30 anak dengan berbagai versi usia di ruangan besar yang menjadi ruang makan itu. Selain anak-anak itu, ada juga beberapa bayi dan balita yang tidak ikut berkumpul di ruangan itu. Pantas saja Bu Aruni tidak bisa memperhatikan anak-anak secara seksama jika anak-anaknya sebanyak ini. Dan meskipun anak-anak harus berbagi porsi menu makan malam mereka karena Navya dan Kalandra tidak membeli sebanyak jumlah anak, mereka tetap terlihat bahagia.
Setelah ngobrol dan berbagi cerita dengan anak-anak, Kalandra dan Navya langsung pamit. Navya masih tersenyum ketika melambai pada anak-anak yang mengantarkannya bersama Kalandra hingga memasuki mobil mereka. Setelah mobil menjauh tangis Navya pecah, mengagetkan Kalandra yang menyetir di sebelahnya. Tangis Navya tidak bisa dihentikan, wanita itu terus menangis keras. Kalandra terpaksa menghentikan mobilnya di pinggir jalan untuk menenangkan Navya yang menangis semakin histeris. Kalandra tidak bisa berkonsentrasi menyetir mendengar orang yang menangis di sebelahnya. Apalagi sekarang waktu sudah lewat dari waktu maghrib. Takut-takut, Navya kerasukan tadi, karena tempat salat saat di panti asuhan memang terlihat cukup horor.
"Navya ... hei ... tenanglah ...," ucap Kalandra melepas sabuk pengamannya dan sabuk pengaman Navya agar mereka mudah untuk berpelukan. Kalandra mengelus-elus kepala Navya dan membaca doa sebisanya, benar-benar takut Navya kerasukan seperti pikirannya. Melihat Navya yang tidak bereaksi seperti orang kerasukan dalam film jika dibacakan doa, Kalandra yakin Navya mungkin tidak sedang kerasukan melainkan sedang ingin menangis saja. Kalandra tidak tahu, mendatangi panti asuhan akan membuat Navya seemosional ini. Hidup dalam lingkungan baik dengan ayah ibu lengkap terkadang membuat kita lupa, di luar sana masih banyak anak-anak yang membutuhkan uluran tangan karena sikap tidak bertanggung jawab orang tua kandung mereka.
KAMU SEDANG MEMBACA
Paradise Garden
Horror2 hari sebelum pesta pernikahan mereka, pasangan yang sudah berpacaran lebih dari 5 tahun itu menghilang. Dengan alasan belum siap keduanya menghilang tanpa jejak. Menghindari aib kedua keluarga sepakat menikahkan adik mempelai sebagai gantinya. Nav...
