"Kenapa kau malah diam di situ?" tanya Kalandra heran karena Navya tidak mengikuti langkah kakinya.
Pria itu berdecak sebal dan kembali mendekati wanita yang masih diam diambang pintu gerbang rumah. Kalandra mengangkat sebelah alisnya melihat ekspresi yang ditunjukan wanita yang beberapa hari dia nikahi itu.
"Kenapa dengan ekspresimu itu?" tanya Kalandra.
"Apa kau tidak merasa merinding?" tanya Navya dengan suara pelan.
"Merinding?" tanya Kalandra balik. Pria itu mengerutkan keningnya berpikir.
"Ah, apa kau cenayang, indigo atau semacamnya?" tanya Kalandra setelah beberapa menit diam.
"Kenapa bertanya seperti itu?" protes Navya, masih bersuara kecil karena perasaannya sekarang, bukan hanya tidak nyaman tapi mulai merinding ketakutan.
"Kalau kamu bukan salah satu dari orang yang berindra keenam berarti bagus," jawab Kalandra enteng. Sepertinya sifat menyebalkan Kalandra bawaan orok. Sejak mereka bertemu di saat anak-anak hingga sekarang sudah dewasa, Navya masih tidak mengerti. Kenapa bicara dengan Kalandra selalu membuat Navya kesal bukan main.
"Rumah ini rumah kosong, lihatlah sekeliling tempat ini juga sangat sepi. Jarak rumah satu dan yang lainnya juga cukup luas untuk jalan mobil. Kalau merasa merinding, yah, wajarlah. Makanya orang tua kita akan mengadakan pengajian supaya rumahnya tidak menyeramkan. Ayolah cepat, kita harus beres-beres sebelum orang tua kita datang," ucap Kalandra meraih lengan Navya dan menyeretnya agar masuk lebih dalam.
"Lagian kalau kamu bukan indigo atau cenayang, kamu gak akan bisa melihat mereka. Cuma mereka yang bisa lihat kita," ucap Kalandra dengan kekehan di akhir kalimatnya.
Navya hanya bisa menurut ketika tangan Kalandra tidak melepas lengannya. Navya merasa bulu kuduknya semakin meremang ketika mereka sudah sampai tepat di depan pintu rumah.
"Jangan bengong, nanti kesurupan," ucap Kalandra menggoda Navya yang wajahnya memucat. Dengan sengaja Kalandra melepaskan cekalan tangannya untuk menakut-nakuti Navya.
Navya langsung meraih lengan Kalandra sebelum pria itu berjalan menjauh. Kali ini Navya yang menggenggam erat lengan Kalandra. Navya melupakan ketidakmauannya bersentuhan fisik dengan Kalandra dan menempeli setiap langkah pria itu. Memasuki dalam rumah Navya merasa semakin merinding. Meskipun untuk ukuran rumah kosong yang belum ditinggali rumah itu terbilang sangat rapi. Udara dalam rumah itu sama sekali tidak pengap oleh debu. Furnitur ruang tamu rumah itu cukup lengkap, meskipun tidak ditutupi kain tidak berdebu sama sekali.
Navya terus menggenggam tangan Kalandra dan mengikuti langkah pria itu. Dari mulai membuka gorden hingga memeriksa semua ruangan rumah berlantai dua itu. Semua perlengkapan rumah lantai satu sudah lengkap bahkan ranjang di kamar utama sudah dipasangi seprai. Hanya lantai dua saja yang masih kosong, tapi gorden di lantai dua juga sudah terpasang.
"Mungkin ini bedanya perumahan biasa dan perumahan elit," gumam Kalandra.
"Semua sudah dilengkapi perabotan yang tertata rapi, meskipun hanya lantai satu saja. Dan sepertinya perabotannya masih baru," komentar Navya setelah mereka kembali ke lantai bawah tepatnya di bagian dapur. Navya menyentuh meja bar di dekat dapur dengan sebelah tangannya. Meja itu diselimuti debu tapi hanya debu tipis.
"Ayolah kita mulai bersih-bersih sebelum orang tua kita datang. Bangunin si bibi sama ponakannya juga, biar bantu kita," ajak Kalandra.
"Aku tahu kita pengantin baru, tapi gak usah gandengan terus dari tadi. Takut banget aku tinggalin," goda Kalandra yang dihadiahi tabokan keras di punggungnya oleh Navya. Kalandra sengaja mengajak Navya bercanda karena kasihan melihat wajah pucat Navya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Paradise Garden
Horor2 hari sebelum pesta pernikahan mereka, pasangan yang sudah berpacaran lebih dari 5 tahun itu menghilang. Dengan alasan belum siap keduanya menghilang tanpa jejak. Menghindari aib kedua keluarga sepakat menikahkan adik mempelai sebagai gantinya. Nav...
