9. Antara Suara Dengkuran dan Suara Tangis

81.8K 10.1K 492
                                        

"Masih memikirkan apa yang kamu lihat tadi?" tanya Kalandra pada Navya yang termenung sejak tadi. Masalahnya mereka tinggal bertiga dengan Nattan di rumah ini sekarang. Bisa gawat jika Navya terus melamun dan berakhir kesurupan. Meskipun tadi siang sudah dilakukan pengajian, bisa sajakan hantunya masih beres-beres dan belum benar-benar pergi. Orang tua mereka juga, tega sekali meninggalkan di rumah baru, dengan dalih pengantin baru membutuhkan waktu pribadi. Kalandra gengsi mengatakan kalau dia takut, apalagi setelah tadi siang Navya mengatakan melihat Nitya, tapi orangnya tidak ada. Beruntung Nattan terlambat datang ke acara, sehingga pria itu mau ikut menginap, sebagai penebusan dosanya. Kalau hanya ada mereka berdua saja, terlebih Navya yang masih betah melamun, dia tidak tahu apa yang akan terjadi.

Sejak tadi siang saat Navya mengatakan jika dia melihat Nitya, tapi yang lain tidak melihat, wanita itu lebih sering bengong.

"Navya ...," panggil Kalandra lagi.

"Waktu tadi aku melihat bayangan Kak Nitya, waktu masih siangkan? Mana mungkin itu hantu, aku yakin itu pasti Kak Nitya," ucap Navya yakin.

"Mungkin juga kan, terus dia lari karena takut ketahuan papa, bisa aja, kan?" tanya Navya terdengar meyakinkan dirinya sendiri.

"Sinyal terakhir ponsel Kak Nitya juga memang di perumahan ini, sih," ucap Nattan ikut bergabung setelah pria itu selesai membersihkan diri.

"Airnya seger banget, sabunnya juga wangi. Kalian sigap banget, sih, baru pindah rumah udah siap sabun dan sampo aja," ucap Nattan lagi, tangan pria itu mencomot cemilan di atas meja sisa acara tadi siang.

"Abang bilang apa?" tanya Navya.

"Sabunnya harum," jawab Nattan dengan mulut penuh.

"Emang kita udah beli sabun buat mandi?" kali ini Kalandra yang bertanya heran. Seingatnya mereka belum membeli perlengkapan mandi. Untuk kamar yang di tempati dia dan Navya saja belum ada. Bahkan tadi dia mandi tanpa sabun, beruntungnya deodoran tidak pernah tertinggal, jadi bukan masalah besar. Lagipula ketika dia tugas lapangan, terkadang dia juga tidak mandi. Anehnya, kamar mandi di luar kamar kok sudah dilengkapi sabun.

"Nih, cium wangi, kan," ucap Nattan dengan mulut yang masih dipenuhi makanan.

"Apa penting membahas sabun sekarang?" tanya Navya sedikit kesal. Apalagi melihat pria itu malah sibuk mencium wangi sabun di lengan Nattan.

"Tapi, ini penting ...."

"Ceritakan sejauh mana pencarian Kak Nitya yang Abang lakukan. Bukankah Mama nyuruh abang nyari Kak Nitya?" tanya Navya memotong ucapan Kalandra.

Nattan akhirnya menceritakan semua yang dia lakukan untuk mencari Nitya. Itupun, setelah pria itu puas memindahkan hampir semua kudapan di atas meja ke dalam mulutnya. Jika para rekan bisnis dan orang-orang yang bekerja di bawah Nattan, mengenal Nattan sebagai kolega dan bisnis yang cool. Apalagi dengan tampang dan tinggi badan Nattan yang memempuni, Nattan sukses menjadi sosok idaman para pecinta kisah CEO-CEO dalam novel. Tapi, bagi Navya yang mengenal Nattan sejak orok, abangnya itu tak ubahnya kakak yang menyebalkan dan membuatnya harus banyak-banyak bersabar. Nasib menjadi bungsu, yah, memang begitu. Apalagi jika kakak-kakaknya jauh lebih tua dan Navya sepertinya dia harus mulai menyetok sabar dalam jumlah besar karena Kalandra ternyata tak jauh beda dengan Nattan. Cerita yang harusnya serius terus diselangi candaan receh dua pria itu, yang tidak bisa Navya mengerti.

"Bisakah kalian lebih serius?" tanya Navya geram.

"Okay ... okay ... jangan marah cantiknya abang ... nanti cantiknya luntur," rayu Nattan yang disahuti kekehan oleh Kalandra, padahal tidak ada yang lucu sama sekali.

"Baiklah, intinya Kak Nitya tidak ada di manapun. Di kostannya, di rumah sakit ataupun di rumah temannya. Begitu juga dengan Ganes yang jejaknya hilang begitu saja. Nomor mereka tidak aktif dan mereka pun tidak pernah menggunakan kartu kredit setelah mereka menghilang sehingga sulit untuk melacaknya. Saat ke rumah sakit, pihak rumah sakit bilang, Kak Nitya sudah ambil cuti untuk pernikahannya bahkan sampai dua puluh hari."

"Oh, iya, waktu terakhir kali kamu bilang nomor Kak Nitya aktif. Dari lokasinya sekitaran tempat ini," ucap Nattan mengakhiri penjelasan.

"Tempat ini?" tanya Kalandra.

"Iya, perumahan ini," jawab Nattan.

"Berarti kemungkinan yang aku lihat tadi beneran Kak Nitya. Mungkin aja Kak Nitya memang ada di perumahan ini juga," ucap Navya menyimpulkan.

"Bisa jadi, wah gaji dokter spesialis itu pasti banyak banget, yah. Sampe kebeli rumah di perumahan elit macam gini. Belum lagi Kak Nitya dan Kak Ganes juga membiayai pernikahannya sendiri," ucap Nattan.

Ketiga orang itu membicarakan kemungkinan-kemungkinan yang terjadi pada Nitya dan Ganes. Mereka bersaudara, tapi tidak ada yang tahu persis bagaimana jalan kisah cinta antara Nitya dan Ganes meskipun mereka berpacaran dalam waktu lama. Ketiganya sepakat jika hilangnya Nitya dan Ganes terlalu ganjil. Nitya sangat mencintai pekerjaannya, bahkan wanita itu lebih memilih pekerjaannya daripada keluarganya sendiri.

Jika penilaian mereka tentang Nitya benar, itu berarti Nitya pasti akan kembali setelah masa cutinya habis. Itu berarti mereka harus menunggu dua puluh hari sebelum bisa mengadili Nitya. Masalah Ganes, Kalandra ternyata tidak tahu apa pun tentang pria itu meskipun mereka tinggal bersama. Urusan toko batik pria itu, ternyata Ganes sudah menyerahkan tanggung jawab dan perbukuannya pada Kalandra sebelum pernikahan. Tidak ada petunjuk di mana kemungkinan Ganes berada sekarang dan mengingat betapa luasnya pergaulan pria itu, rasanya melelahkan jika harus bertanya pada orang-orang yang mengenal Ganes.

Selesai mengobrol, ketiganya memutuskan untuk tidur. Karena tidak ingin tidur sendirian, akhirnya mereka memutuskan untuk tidur bertiga di ruang tengah. Beralaskan karpet dan bed cover ketiganya berbaring dengan Navya yang berada di tengah-tengah dua pria itu. Beruntung orang tua mereka membawakan bed cover lebih sehingga masih ada dua bed cover yang bisa dijadikan selimut.

Navya lupa jika tidur di samping Nattan sama artinya dengan bencana. Wajah pria itu boleh di atas rata-rata, tapi kalau tidur, masyaAllah. Nattan adalah tukang mendengkur, parahnya lagi dengkuran Nattan sangatlah keras. Navya sudah menutup telinganya dengan earphone, tapi tetap saja suara dengkuran Nattan masih terdengar keras. Navya tidak bisa tidur sedangkan orang yang menyebabkan dia tidak bisa tidur, tidur sangat pulas dengan dengkurannya. Navya melirik ke arah Kalandra, pria itu juga sudah pulas tanpa terganggu dengan dengkuran Nattan. Mungkin karena posisi tidur Kalandra tidak langsung berdampingan dengan Nattan, atau memang telinga Kalandra terlalu kebal hingga bisa tidur ditengah suara dengkuran yang keras.

Tidak bisa tidur di rumah baru dengan dengkuran sebagai backsound yang bersahut-sahutan dengan suara angin di luar, merupakan hal yang horor bagi Navya. Wanita itu merasa bulu kuduknya merinding sekarang. Navya merapatkan tubuhnya mendekati Kalandra, membesarkan volume musik yang dia dengar melalui earphone-nya, berharap musik melow yang dia dengarkan membuatnya tertidur.

Tiba-tiba musik yang Navya dengarkan berhenti, dia mencari ponsel pintarnya dan pantasnya musiknya mati karena ponselnya juga mati. Suara dengkuran Nattan masih setia mengisi suara di ruangan itu. Nattan mengubah posisi tidurnya menjadi menyamping memunggunginya, membuat suara dengkurannya sedikit mengecil. Tapi, suara desiran angin terdengar lebih jelas. Bulu kuduk Navya semakin meremang ketika bukan hanya suara desiran angin yang terdengar tapi, samar-samar dia mendengar suara tangis di kejauhan.

Navya kembali meringkuk dan semakin merapatkan tubuhnya ke tubuh Kalandra. Suara tangis itu semakin terdengar mendekat bersahutan dengan suara dengkuran Nattan. Navya menutup telinganya dan semakin meringkuk. Bergerak terus mendesak ke tubuh Kalandra, sehingga membuat pria itu terganggu tidurnya.

"Ada apa?" tanya Kalandra dengan suara seraknya.

"Ada suara orang yang menangis," jawab Navya berbisik.

Paradise GardenCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang