"Oh my God ...." seru Chandra.
"Kenapa?" tanya Nattan.
"Mukanya penuh darah ...," ucap Chandra ngeri.
"Ck, dia masih punya hidung aja masih untung Chand, liat tuh gayungnya aja sampe pecah gitu gara-gara kamu pake buat pukul muka sama kepala ini orang," ucap Nattan tidak habis pikir.
"Ih ... jijik banget, pasti ini darah bercampur sama ingusnya," ucap Chandra tidak penting. Wanita itu kembali ke kamar mandi untuk mencuci tangannya
Nattan menghapus noda darah di wajah orang itu untuk memperjelas penglihatan mereka.
"Benar ini orangnya?" tanya Nattan pada Kalandra.
Dengan bantuan Navya, Kalandra turun dari tempat tidur untuk mendekati Nattan. Navya memilih menyembunyikan wajahnya ketika mereka sudah berada sangat dekat dengan orang yang terkapar itu.
"Benar, dia orang itu," ucap Kalandra melihat wajah orang itu yang mirip dengan yang menghajarnya di ruang bawah tanah.
"Navya ... lihatlah ... orang itu sudah kita tangkap, tidak akan ada yang menyakitimu lagi," ucap Nattan meraih sebelah tangan Navya agar gadis yang menyembunyikan wajahnya itu melihat ke arahnya.
Chandra berinisiatif membawakan kursi roda agar Kalandra bisa duduk dan Navya bisa dibujuk untuk melihat orang itu. Chandra bukan seorang yang belajar masalah kejiwaan, dia tidak tahu apa cara Nattan benar atau tidak memaksakan Navya untuk melihat orang yang menyakitinya. Tapi, mungkin memang cara terbaik untuk menghilangkan rasa takut adalah memastikan orang yang menyakiti kita sudah tidak berdaya dan tidak mungkin bisa menyakitinya lagi.
"Navya ...," ucap Kalandra menggenggam tangan Navya yang menggandengnya, setelah dia berhasil duduk di kursi rodanya. Pria itu membawa Navya agar duduk di pangkuannya ketika wanita itu masih berusaha menyembunyikan wajahnya di lengannya.
"Dia tidak akan pernah menyakitimu lagi. Bang Nattan dan Chandra sudah mengalahkannya untuk kita. Lihatlah dia bahkan terbaring di lantai lebih parah dari pada apa yang dia lakukan padaku," ucap Kalandra.
Tiba-tiba pintu ruang perawatan terbuka, membuat mereka gelagapan menyembunyikan orang asing itu. Akan jadi masalah besar jika seseorang melihat keadaan orang itu terlebih dalam keadaan seperti sekarang ini.
"Sorry ... sorry ... kita telat datang ...," ucap Dharma memasuki ruang perawatan yang membuat penghuni ruangan itu menarik napas lega berjamaah.
"Di luar ramai sekali karena ada alarm kebakaran tadi, jadi sulit bagi kami untuk masuk menerobos," jelas Willy yang juga ikut masuk bersama dengan dua orang lainnya.
"Wow ...," ucap pria itu lagi melihat apa yang tersaji di depan matanya.
"Tutup pintunya ...," perintah mereka semua.
"Bisa jelaskan apa yang terjadi?" tanya Dharma, jiwa detektifnya bereaksi melihat pemandangan yang tidak biasa di depan matanya.
"Orang itu, dia orang yang menyerangku pagi itu," ucap Kalandra.
Dharma dan dua temannya mendekat. Willy langsung bersiaga dengan peralatannya yang memang langsung dia bawa begitu mendapat pesan dari Nattan.
"Sepertinya dia berniat untuk menyerang Kalandra dengan Navya lagi, dia membawa suntikan itu bersamanya," ucap Nattan menunjuk ke arah suntikan yang hampir saja tertendang rekannya Dharma.
"Dan bagaimana bisa jadi seperti ini?" tanya Dharma setelah memastikan orang yang dicurigai sebagai tersangka itu masih bernapas.
"Itu pembelaan diri ... benar ... itu pembelaan diri," ucap Chandra cepat, melihat tiga pria berprofesi sebagai polisi dengan bentuk tubuh kelewat macho itu, Chandra jadi sedikit gentar karena dialah yang memukuli orang asing itu.
Willy segera mengambil sidik jari dan sampel darah orang itu, juga beberapa foto. Dia juga menggeledah tubuh si penjahat dan menemukan satu suntikan lain beserta sebuah ponsel pintar. Willy mengamankan dua suntikan itu untuk mencari tahu isi cairan di dalamnya. Tidak ditemukan dompet atau identitas apa pun di tubuhnya. Sementara Willy memeriksa tubuh orang si penjahat, Nattan menceritakan situasinya juga tentang alarm pemadam kebakaran yang tiba-tiba berbunyi.
Rekan Dharma mencatat keterangan dari Nattan dan yang lainnya, sebagai bukti. Yang perlu mereka pikirkan sekarang adalah bagaimana membawa orang asing yang saat ini diduga sebagai salah satu dokter bernama Ishaq, dokter yang bekerja di rumah sakit ini. Mengingat rumah sakit ini adalah rumah sakit besar dan dilindungi oleh pemerintah, para petinggi tidak akan senang jika tahu tentang keributan ini. Melihat alarm kebakaran yang berbunyi di saat genting itu, kemungkinan ada orang lain terlibat sangat mungkin. Karena tidak ada kartu identitas yang dibawa oleh pria itu, butuh waktu untuk mencari tahu identitas pria itu sebenarnya.
Sejak awal kasus ini terus dijegal oleh para petinggi, sehingga bawahan yang jujur dan keukeuh ingin menyelesaikan kasus ini harus benar-benar selicin belut untuk menghindari konflik dengan petinggi.
"Karena TKP di Paradise Garden tidak menemukan sidik jari sedikit pun, sebelum kita memeriksa isi suntikan yang dibawa tersangka, kemungkinan ini hanya akan menjadi kasus penerobosan dan penyerangan biasa. Dan melihat tampang pelaku yang jauh dari baik-baik saja, kalian justru akan dituntut sebagai penyerang, apalagi jika terbukti pria ini adalah dokter di rumah sakit dan fakta kemungkinan ada orang lain di rumah sakit ini yang terlibat juga. Mereka bisa saja memutar balikan fakta dan justru memberatkan pihak kita," ucap Dharma menjelaskan situasinya.
"Kita pakaikan topi dan masker lalu bawa dia seolah dia baik-baik saja. Kalau menunggu sampai orang itu sadar, takutnya menimbulkan masalah lain. Lagipula sekarang sudah cukup malam, jadi tidak akan banyak menarik perhatian," ucap Willy mengusulkan idenya. yang langsung disetujui oleh Dharma dan rekan-rekannya.
Sementara tiga pria berprofesi sebagai abdi Negara itu bersiap untuk mengangkat orang itu dan menggendongnya seolah pria itu baik-baik saja. Willy segera membenahi peralatannya, pria itu sepertinya harus begadang semalaman agar esok pagi, dia punya bukti yang cukup untuk menjerat pria psikopat itu. Tak lupa, TKP tempat kejadian tadi juga dibersihkan seolah tidak terjadi apa-apa. Dan sepertinya, si penyerang sudah mensetting tempat yang akan dia gunakan sebagai TKP dengan baik, karena CCTV di ruangan itu sudah di matikan.
Mereka yang ditinggalkan di ruang perawatan hanya bisa menghela napas berat. Kejadiannya tidak sampai satu jam, tapi mereka merasa tenaga mereka terkuras seolah sudah seharian mengalami kerja rodi.
"Sayang sekali," ucap Chandra memulai pembicaraan. Gadis itu sudah bersiap tidur di sofa bed, sementara Nattan harus rela tidur di karpet karena Chandra tidak mengizinkan pria itu untuk tidur jauh darinya. Pasangan yang sakit, juga sudah tidur hanya beberapa menit setelah mereka berbaring di ranjang dengan posisi masih berdempetan.
"Sayang sekali apa?" tanya Nattan, pria itu masih mengkompres wajahnya yang kena pukul, agar tidak bengkak besok.
"Sayang sekali, orang itu terlalu ganteng untuk berakhir di penjara," ucap Chandra yang dihadiahi decakan tidak percaya oleh Nattan. Salahnya juga menanggapi ucapan Chandra hingga dia harus mendengar ocehan tak penting tentang tampang pria asing itu, yang katanya masih tampan walaupun sudah babak belur. Akhirnya pria itu harus sabar menjadi pendengar yang baik untuk teman adiknya itu, hingga akhirnya wanita itu terlelap. Tampaknya Chandra si sales bisnis, julukan yang diberikan adiknya memang tepat, karena wanita itu benar-benar hobi bicara.
Setelah semua orang tidur, Nattan menyelesaikan kegiatan mengompresnya dan membuang airnya ke kamar mandi. Pria itu memeriksa Navya yang sudah terlelap tidur di pelukan Kalandra. Pria itu menghela napas berat. Terjaga sendirian membuatnya mengingat kembali apa yang psikopat itu lakukan pada Nitya juga putri kecilnya, yang hingga akhir pun tidak bisa dia akui. Nattan mengingat kembali bagaimana rupa Nitya dan Abela saat ditemukan, dan pria itu tidak kuasa untuk menahan dirinya. Nattan menangis tergugu sendirian, tangisan pertama setelah kehilangan yang begitu dalam yang dialaminya. Selama ini, dia berusaha tegar untuk orang tuanya dan Navya. Dan sekarang dia tidak bisa menahannya lagi.
"Maaf ... maafkan ayah ...," ucap Nattan parau. Seharusnya dia menjemput Abela hari itu saat Nitya memintanya. Seharusnya dia lebih banyak menghabiskan waktu dengan putrinya ... seharusnya ... dan seharusnya ... kata itu terus terulang di benak Nattan dan membentuk lubang rasa bersalah yang semakin luas di hatinya.
"Maaf ... maafkan Ayah, Abela," bisiknya lirih. Pria itu terus menangis sampai tidak menyadari kalau ada seseorang yang ikut merasakan kesedihannya, tapi tidak berani mendekat untuk sekedar melepaskan beban luka pria itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Paradise Garden
Horror2 hari sebelum pesta pernikahan mereka, pasangan yang sudah berpacaran lebih dari 5 tahun itu menghilang. Dengan alasan belum siap keduanya menghilang tanpa jejak. Menghindari aib kedua keluarga sepakat menikahkan adik mempelai sebagai gantinya. Nav...
