"Navya ...."
"Navya ...."
"NAVYA ...." Teriak Chandra kesal karena sejak tadi Navya bengong saja padahal mereka sedang mendiskusikan tentang acara pernikahan Ayunda. Banyak hal yang harus mereka persiapkan untuk acara besar yang pertama kali mereka tangani itu. Jika dipikir lagi, menghandle acara besar untuk pertama kalinya, sedikit banyak membuat mereka gugup. Dengan banyaknya hal yang harus mereka siapkan, Navya malah bengong mirip sapi ompong begitu.
"Dari tadi kita ngobrol ke sana-kemari, lo malah bengong aja. Lo mikirin apaan sih? Ayunda ngomong apa sama lo sampe bikin lo gak fokus gitu?" tanya Chandra.
Navya menggelengkan kepalanya, mengusap wajahnya berulang kali dan meminta maaf karena tidak fokus. Navya bangkit dari posisi duduknya dan melihat ke sekeliling gudang yang jadi tempat mereka berdiskusi. Navya merasa tidak enak pada teman-temannya, karena dia tidak bisa fokus. Padahal mereka sedang membicarakan hal penting sekarang. Tapi, mau bagaimana lagi terlalu banyak hal yang menyerbu kepalanya saat ini. Dan otaknya tidak sanggup memilah-milah masalah mana yang harus didahulukan.
"Gue tahu, lo pasti banyak pikiran sekarang. Tapi pembahasan ini penting banget, bisa lo fokus dulu," pinta Bagas.
"Oke ... sorry gue gak fokus tadi. Jadi sampai di mana pembahasan kita?" tanya Navya setelah beberapa kali menghela napas. Pembahasan tentang persiapan pernikahan Ayunda akhirnya berlanjut. Pembahasan tentang katering, dekorasi, gaun pengantin, desain undangan, souvenir dan lain-lain berlanjut. Navya akhirnya bisa fokus untuk menyelesaikan pekerjaan, hingga saat rasa lapar menyerang barulah diskusi mereka berakhir.
"Hah ... laper nih, tapi males banget harus keluar cari makan," ucap Bagas menyandarkan tubuhnya.
"Di era yang serba mudah ini karena ada delivery order di mana-mana. Tapi betapa kunonya perumahan nan mewah ini karena delivery order gak bisa masuk," ucap Reta ikut menyandarkan tubuhnya.
"Ck, beli aja sana keluar," ucap Navya menyuruh orang-orang yang merasa lapar itu membeli makanan sendiri keluar.
"Vy, telepon laki lo, kali aja dia bakal pulang dalam waktu dekat," ucap Bagas seenak jidat.
"Ampun Gas, jiwa makan gratis lo emang udah gak ketolong. Bisa-bisanya nyuruh lakinya Navya buat beli makanan. Kita udah numpang di rumah mereka, minta makan pula," ejek Chandra.
Navya menggelengkan kepala mendengar ucapan teman-temannya. Tapi, dia tetap memutuskan untuk menelepon Kalandra. Pria itu sudah terlalu lama pergi, seharusnya sebelum jam makan siang dia sudah kembali. Pekerjaan Kalandra cukup fleksibel dan tidak membutuhkan Kalandra untuk stay di toko setiap waktu. Toko warisan pemberian Ganes itu hanya berjarak beberapa menit dari Paradise Garden, jika Kalandra pulang dan tiba-tiba dibutuhkan, dia bisa pulang pergi dengan cepat.
Saat ini hanya Kalandra yang bisa Navya andalkan dengan semua kegilaan ini. Nattan yang biasanya menjadi orang yang paling dia andalkan, meskipun abangnya itu berusaha bersikap normal, tapi Navya tahu abangnya tidak baik-baik saja. Kehilangan anak bukanlah hal yang mudah diatasi, apalagi kepergian anaknya dengan cara buruk. Orang tua mana yang masih waras menerimanya. Dan Navya tidak ingin menambah beban untuk Nattan dengan semua kegilaan yang dia lihat di mimpinya.
"Kalandra sedang di jalan, dia membawakan makanan untuk kita," ucap Navya setelah selesai menelepon Kalandra.
"Menurut kalian, seberapa besar kemungkinan orang mirip satu sama lain tanpa ikatan saudara?" tanya Navya pada teman-temannya. Setelah menyadari kemiripan mata Ayunda dengan orang yang berada di dalam mimpinya, Navya memperhatikan lebih detail foto keluarga di rumah Budiman Hartawan. Seperti saat melihat pertama kali, sulit menemukan kemiripan di antara semua anggota keluarga pejabat itu. Hanya kedua anak yang paling kecil dalam keluarga itu yang terlihat mirip dengan istri Budiman Hartawan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Paradise Garden
Horror2 hari sebelum pesta pernikahan mereka, pasangan yang sudah berpacaran lebih dari 5 tahun itu menghilang. Dengan alasan belum siap keduanya menghilang tanpa jejak. Menghindari aib kedua keluarga sepakat menikahkan adik mempelai sebagai gantinya. Nav...
