Untungnya apa yang ditakutkan Willy tidak terjadi, si psikopat masih baik-baik saja, itu pun karena instruksi Dharma yang meminta bawahan kepercayaannya untuk menjaga pria itu, dan tidak mengizinkan siapa pun masuk bahkan dokter sekalipun. Untungnya lagi, penyakit si penjahat hanya karena gangguan pencernaan, bukan masalah serius hingga harus dirawat lebih lama di rumah sakit.
"Ck, sepertinya selama hidupmu kau makan dengan baik, makanan sederhana penjara sampai membuatmu mengalami gangguan pencernaan," ledek Dharma memprovokasi si penjahat yang sejak hari penangkapannya memilih untuk menutup rapat mulutnya jika diintrogasi.
Si penjahat sepertinya memiliki ketenangan yang luar biasa, karena sebanyak apa pun provokasi yang dilakukan oleh pihak kepolisian, pria yang sampai sekarang identitasnya masih dicari itu tidak goyah. Willy mendekati si penjahat yang bersandar di ranjang rumah sakit dengan infus di tangannya. Willy memperhatikan dengan teliti wajah pria yang tidak bisa dia pungkiri cukup tampan itu. Willy memeriksa secara detail, bahkan meraba wajah pria itu dan merengkuhnya, yang membuat siapa pun merasa risih melihatnya. Willy mengambil alat pemindai mata dan memaksa si penjahat yang sepertinya masih kaget karena tindakan Willy mengelus-elus wajahnya tanpa bisa melawan.
"Apa yang kau lakukan?" tanya si penjahat itu.
"Bicara lagi!" perintah Willy.
"Sebenarnya apa yang kau inginkan?" tanya si penjahat itu risih karena Willy semakin mendekat padanya, bahkan paha Willy menempel pada pahanya.
"Bicara lagi!" perintah Willy semakin mendekati si penjahat itu. Willy merekam suara si penjahat untuk membandingkannya dengan suara dr. Ishak, untuk memastikan identitas asli si pelaku.
Provokasi Willy yang mendekati si pelaku, membuat mereka menemukan satu hal. Si penjahat tidak suka didekati dalam posisi yang terlalu dekat oleh pria. Ketika Willy menyentuh wajahnya, terlihat pupil matanya bergerak gelisah menandakan reaksi ketakutan meski hanya sebentar. Willy meminta Dharma untuk mendatangkan seorang psikiater untuk memantau gerakan dari si penjahat dan memastikan apa pria itu memiliki kelainan jiwa sejenis psikopat, atau hanya membunuh karena perintah dari orang lain. Mengingat ditemukan sejenis obat penenang dalam darahnya, dipastikan si penjahat mengonsumsi obat itu dalam jangka lama.
"Sudah cukup ... terima kasih atas kerjasamanya ...," ucap Willy sambil menyentuh paha si pelaku, yang langsung membuat si pelaku berontak.
"Kita tunggu hasilnya secepatnya ...," ucap Dharma pada Willy ketika pria itu pamitan.
"Ah iya, lakukan hal sama pada si Imran-Imran itu," ucap Willy saat Dharma mengantarkannya keluar dari ruang perawatannya.
"Maksudmu melakukan seperti apa yang kamu lakukan pada penjahat tadi?" tanya Dharma sedikit ngeri membayangkan dia harus merengkuh wajah Imran dengan kedua tangannya, dan bicara dalam radius sedekat itu.
"Bukan begitu maksudku," ucap Willy menyanggah, pria itu juga sedikit sebal dengan wajah ngeri yang ditunjukan oleh Dharma.
"Maksudku, temukan kelemahan pria itu, dan tekan dia sehingga pria itu membuka mulutnya. Kau tahu cara paling efektif untuk mendapatkan pengakuan dari penjahat adalah menyentuh sesuatu yang benar-benar penting untuknya atau paling meninggalkan trauma untuknya," ucap Willy dengan sangat yakin
*************
"Ini gawat ... ini gawat ...," ucap Chandra. Wanita itu menceritakan apa yang didengarnya pada Navya dan Kalandra. Nattan memilih membiarkan saja Chandra menceritakan semuanya sembari menikmati sarapannya yang telat.
"Bagaimana perkembangan kasusnya, Bang?" tanya Kalandra pada Nattan.
"Hasil identifikasi Willy paling cepat besok baru keluar. Kita harus banyak berterima kasih pada pria itu, karena Willy berusaha sangat keras untuk mencari identitas pelaku," jawab Nattan.
"Kita berdoa saja semoga semua ini cepat selesai," ucap Kalandra menghela napas lelah. Pria itu menarik Navya yang sejak tadi bengong mendengarkan cerita menggebu-gebu dari Chandra ke dalam pelukannya.
"Semua akan segera baik, kita akan baik-baik saja," ucap Kalandra mengecup puncak kepala Navya berulang kali.
"Ck ... nasib jomblo gini amat Ya Allah ...." seru Chandra menatap iri pada pasangan yang tidak tahu malu itu. Bagaimana tidak, dia baru selesai bercerita hal penting, minum dulu sebentar, dan sekarang pasangan itu sudah saling memeluk di depan matanya.
"Lo berdua emang ya, gak bisa apa tahan dikit? Dikit-dikit nempel, dikit-dikit nempel," omel Nattan seraya beranjak untuk menyimpan piring bekas makannya. Meskipun ada si bibi yang tinggal di rumah orang tua Kalandra, tapi Nattan sang bujangan yang sudah lama hidup sendiri, terbiasa mencuci alat makannya sendiri.
"Mau dengerin lagi gak lanjutan ceritaku?" tanya Chandra ngambek, ketika pasangan itu hanya tersenyum saja dan masih ada di posisi saling memeluk.
"Oke, terus gimana?" tanya Navya dengan senyum cengenesannya. Sejak kejadian mengerikan itu, pelukan Kalandra menjadi tempat teraman untuknya. Dengan pelukan Kalandra, bayangan seseorang yang bisa menyergapnya kapan saja menghilang. Mimpi buruknya juga berangsur membaik jika tidur di pelukan Kalandra, meskipun terkadang bayangan acak menakutkan masih sering mengusik mimpinya. Entah sejak kapan anak laki-laki yang mengganggunya sejak kecil, dan orang yang tidak sengaja melihat hal paling pribadi miliknya di saat remaja, menjadi orang yang berarti baginya.
"Akan sangat luar biasa, kalau nanti pas si Budiman kurang berbudi itu ditangkap saat menyampaikan pidato di depan umum, mirip-mirip drama thriller Korea gitu," ucap Chandra mengakhiri ceritanya.
"Memang sejauh mana info yang kita kumpulkan hingga bisa menangkap Budiman Hartawan di tempat umum?" tanya Kalandra.
"Aku ragu bisa menangkap Budiman Hartawan jika belum ada bukti pasti hubungan Budiman dengan pria psikopat itu," ucap Kalandra lagi.
"Kau masih berhubungan dengan teman-temanmu saat menjadi wartawan?" tanya Nattan tiba-tiba datang dari dapur.
"Masih, kenapa?" tanya Kalandra balik.
"Cari temanmu yang cukup berpengaruh untuk menyiarkan hot news," jawab Nattan dengan tatapan mata penuh rencana.
"Kita tidak mungkin bisa menangkap mereka dengan cepat jika tidak ada satu pun yang mau membuka suara. Kita pancing mereka untuk membuka mulut sendiri. Biasanya orang-orang besar akan berlomba untuk membuktikan ketidakbersalahan mereka jika skandal muncul, dan akhirnya boom ... mereka akan saling mencurigai," ucap Nattan membicarakan rencananya.
"Abang yakin, kita bisa melakukan itu? Maksudku apa akan ada media, terutama media elektronik yang mau melakukannya?" tanya Navya, wanita itu menegakkan tubuh dan menatap ke tiga orang di dekatnya.
"Kita tahu betul jika kasus ini melibatkan para petinggi, akankah ada media yang mau mengambil resiko?" tanya Navya, yang membuat ketiganya mendadak terdiam.
"Sebenarnya bisa saja, tapi ...," ucap Kalandra ragu.
"Tapi?" tanya Nattan.
"Tapi, mungkin ... mungkin kita harus membuka apa yang Nitya lakukan," jawab Kalandra tidak yakin.
"Emang, apa yang dilakukan Kak Nitya?" tanya Chandra yang memang tidak tahu. Karena tidak ada yang menjawab pertanyaannya, membuat Chandra semakin penasaran.
"Itu artinya akan menyeret nama rumah sakitnya juga bukan?" tanya Navya.
"Aku rasa tidak sampai ke sana," jawab Kalandra. Pria itu bangkit dari posisi duduknya menuju kamar almarhum Ganes, dan kembali beberapa menit dengan sebuah buku jurnal di tangannya.
"Ini jurnal milik Nitya yang aku temukan di tumpukan buku milik Ganes. Dan ... Nitya menceritakan semuanya di sini," ucap Kalandra menyerahkan buku jurnal bersampul coklat tua itu.
"Aku kira mempublikasikan ini akan mengungkap tentang perdagangan organ secara ilegal itu. Mungkin tidak langsung menyentuh Budiman Hartawan, tapi setidaknya akan ada banyak orang yang membuka suara jika tahu kejadian pelanggaran HAM tinggi seperti ini," ucap Kalandra.
"Oh my god ...." Navya terkesiap tiba-tiba.
"Kenapa?" tanya Nattan melihat adiknya yang berkaca-kaca sembari membaca isi jurnal milik Nitya.
"Kak Nitya ... dia ... tidak kebetulan menjadi korban ... dia mengenal si pelaku dengan baik ...."
KAMU SEDANG MEMBACA
Paradise Garden
Horror2 hari sebelum pesta pernikahan mereka, pasangan yang sudah berpacaran lebih dari 5 tahun itu menghilang. Dengan alasan belum siap keduanya menghilang tanpa jejak. Menghindari aib kedua keluarga sepakat menikahkan adik mempelai sebagai gantinya. Nav...
