43. Celah di Antara Kejahatan yang Sempurna

56.5K 8.4K 416
                                        

Karena Nattan sedang dalam suasana hati yang buruk dan sekarang entah pergi ke mana bersama Willy, sementara Naka sudah terlelap. Jadilah, hanya mereka berdua saja yang memutuskan untuk mencari tahu lebih dalam tentang Budiman Hartawan dan asal-usul keluarganya. Informasi yang di dapat dari laman internet tidaklah banyak membantu. Budiman terkenal sebagai seorang pejabat tanpa cela dengan kedermawanannya. Istrinya pun terkenal sama dermawannya. Latar belakang keluarga istrinya pun bukan main-main. Istri Budiman Hartawan yakni Sita Hartawan ternyata putri pejabat era orde baru, yang mengabdikan dirinya untuk amal hingga akhir hidupnya.

Mengenai Budiman Hartawan, tidak dibahas detail siapa orang tuanya. Hanya dikatakan jika Budiman terlahir dari keluarga petani sederhana sebelum dia bekerja di salah satu perusahaan konstruksi di ibu kota selama beberapa tahun, hingga dia mendirikan perusahaan miliknya sendiri. Tidak ada kehidupan pribadinya yang dibahas secara detail. Bahkan setelah jadi pejabat, kehidupan pribadinya tidak tersorot sama sekali. Hanya istrinya yang terpublikasi sedangkan anak-anaknya tidak.

"Hah, tidak ada apa pun yang bisa kita dapatkan di sini selain semua omong kosong ini." Keluh Navya, matanya pegal karena terus melototi layar laptop.

"Info tentang profesornya Kak Nitya juga terlalu umum dan selain kota kelahiran dan alamat rumah yang sama, tidak ada hubungan lain antara Budiman dan Adrian," ucap Kalandra ikut mengeluh. Jam sudah menunjukan waktu hampir tengah malam, matanya mulai sulit untuk diajak kompromi.

"Mau ke mana?" tanya Kalandra saat Navya beranjak dari tempat tidur.

"Keluar sebentar," jawab Navya sambil melangkah keluar, tanpa memberikan penjelasaan apa pun.

Navya keluar dari kamar untuk mengambil laptop milik Nattan, barang kali kakaknya sudah mencari tahu lebih banyak tentang Budiman Hartawan dan Profesor Adrian. Suasana malam terasa sunyi, hanya dengkur halus Naka dari ruang televisi yang terdengar samar-samar. Kalandra yang tadinya sibuk dengan laptopnya segera mengikuti langkah Navya yang keluar dari kamar mereka. Pria itu takut Navya tiba-tiba menghilang, meskipun dia tahu saat ini Navya masih dalam keadaan sadar 100%.

Navya mengotak-atik laptop Nattan, kebetulan laptop pria itu tidak dikunci, sehingga Navya tidak kesulitan untuk membukanya. Terlalu banyak file yang tersimpan dalam laptop Nattan hingga membuat Navya pusing dibuatnya. Mengerti jika istrinya bukan tipe penyabar, Kalandra menawarkan diri untuk mencari di laptop Nattan.

Setelah beberapa menit mencari, file tentang Budiman Hartawan akhirnya ditemukan. Mungkin tadi Nattan akan membahas ini saat mereka berkumpul tadi. Sayangnya informasi yang dibawa Willy tentang keterlibatan Nitya dengan operasi transplantasi itu membuat mood Nattan berantakan. Kalandra mengajak Navya untuk memeriksa apa yang berada di laptop Nattan bersama.

"Kita bacanya di kamar aja yuk?" ajak Kalandra, membaca dengan penerangan minim membuat mata Kalandra yang lelah semakin lelah.

"Di sini gelap," ucap Kalandra lagi.

"Ya udah nyalain aja lampunya. Kalau di kamar nanti takutnya kita ketiduran," ucap Navya seraya bangkit untuk menyalakan lampu.

Baru beberapa langkah, Navya langsung membeku karena mendengar suara seperti pintu pagar yang dibuka lalu ditutup kembali. Diikuti oleh suara seseorang yang sedang menyeret sesuatu. Karena keadaan tengah malam sangat hening, suara dari luar ruangan itu menjadi terdengar jelas. Kalandra pelan-pelan menutup laptop di hadapannya agar tidak memancarkan sinar. Dia juga menaruh telunjuk di bibirnya agar Navya diam. Keduanya harap-harap cemas ketika suara menyeret itu semakin terdengar jelas. Mereka berdoa dalam hati semoga siapa pun orang yang sedang menyeret sesuatu itu tidak mendekati rumah mereka.

Posisi mereka yang berada di tengah ruang tamu saat ini, membuat keduanya tidak bisa melihat aktivitas di luar rumah mereka.

"Suara itu bukan dari halaman rumah kita kan?" tanya Navya dengan isyarat mulutnya, yang dijawab gelengan kepala oleh Kalandra. Suara itu semakin lama semakin dekat hingga akhirnya suara itu menghilang dengan sendirinya.

Paradise GardenCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang