"Anak kecil bermata bulat dan berambut panjang?" tanya Nattan tiba-tiba bangkit dari posisi duduknya. Navya yang bersandar pada Kalandra sampai ikut bangun karena kaget dengan gerak refleks Nattan.
"Tidak mungkin ...," gumam Nattan, lalu beranjak berdiri. Nattan langsung kelimpungan sendiri. Pria itu meraih jaket, ponsel dan kunci mobilnya lalu berlari cepat menuju pintu depan.
"Abang? Abang mau ke mana?" tanya Navya heran dengan tingkah Nattan yang tidak biasa. Nattan tidak menghiraukan pertanyaan dari Navya, bahkan dia tidak berbalik sama sekali. Beberapa menit kemudian Nattan kembali.
"Kunci depan mana? Kunci pagar mana?" tanya Nattan rusuh.
"Ada apa, sih, Bang? Abang mau ke mana dini hari begini?" tanya Navya heran. Lagi-lagi Nattan tidak menjawab pertanyaan dari Navya. Pria itu malah mengedarkan pandangannya ke sekeliling entah mencari apa. Keempat orang di ruangan itu hanya menatap heran kelakuan Nattan, mereka masih tidak paham ketika Nattan kembali lagi dengan serangkaian kunci di tangannya.
"Abang mau ke mana?" tanya Navya lagi. Navya bangun dari posisi duduknya dan mengikuti langkah terburu-buru Nattan.
"Abang? Ada apa sebenarnya?" tanya Navya tidak paham. Navya menarik lengan Nattan yang terlihat terlalu gugup untuk sekedar membuka kunci pintu.
"Abang kenapa, sih?" tanya Navya lagi. Nattan menepis tangan Navya hingga Navya terjerembab ke belakang, beruntung Kalandra menahan tubuh Navya hingga wanita yang belum pulih dari rasa takut karena mimpinya itu tidak sampai jatuh.
"Bang, apaan, sih? Bisakan gak usah pake kasar," sentak Kalandra, tapi sama sekali tidak dihiraukan oleh Nattan yang masih mencoba membuka pintu.
"Apa mungkin bang Nattan kesurupan," bisik Bagas yang langsung di hadiahi tinjuan oleh Chandra.
"Kita harus manggil ustad kalau begini," ucap Bagas lagi tidak penting.
Nattan mengatur napasnya dan menutup matanya sesaat. Pria itu berbalik ke arah Navya yang berada di belakangnya.
"Maaf ...," ucap Nattan lalu meraih Navya kepelukannya.
Navya dibuat semakin bingung dengan tingkah kakak laki-lakinya itu. Apalagi ketika memeluk Nattan, dia bisa merasakan detak jantung Nattan yang berpacu sangat cepat, seperti orang yang khawatir akan sesuatu. Mereka berpelukan beberapa menit, sebelum Nattan melepaskan pelukannya terlebih dahulu.
Nattan kembali menutup matanya sesaat, setelah yakin dia lebih tenang, barulah pria itu membuka kunci pintu depan. Kalandra dan Navya hanya berdiri menyaksikan Nattan yang bergerak ke sana-kemari.
"Bang ...," panggil Navya ketika Nattan menyalakan mesin mobil.
"Aku akan menghubungi kamu nanti, aku harus pergi sekarang," ucap Nattan menjalankan mobilnya menjauh dari rumah itu.
"Bang Nattan sebenarnya kenapa, sih?" tanya Navya setelah mobil Nattan menghilang di tikungan jalan.
"Entahlah, dia bersikap aneh setelah kamu menceritakan tentang anak kecil yang kau lihat," jawab Kalandra sembari mengunci pintu gerbang yang dibuka Nattan tadi.
"Apa kau mengenal anak itu?" tanya Kalandra.
"Anak mana?"
"Anak yang kau bilang tadi kau lihat," jawab Kalandra sedikit kikuk karena dia pernah meragukan ucapan Navya dan mengatakan semua hanya halusinasi Navya.
"Anak itu ...." Navya terlihat berpikir sesaat.
"Aku rasa belum pernah melihat anak itu," ucap Navya mengingat-ingat wajah anak itu minus wajah ketika wajah anak itu berlumuran darah.
KAMU SEDANG MEMBACA
Paradise Garden
Horror2 hari sebelum pesta pernikahan mereka, pasangan yang sudah berpacaran lebih dari 5 tahun itu menghilang. Dengan alasan belum siap keduanya menghilang tanpa jejak. Menghindari aib kedua keluarga sepakat menikahkan adik mempelai sebagai gantinya. Nav...
