Navya menjadi orang yang pertama bangun dari tidurnya. Setelah membangunkan yang lain untuk melaksanakan kewajiban subuh mereka, Navya beralih ke dapur. Dengan keterbatasan kemampuan memasaknya, Navya memutuskan untuk membuat nasi goreng, telur ceplok, dan sosis goreng sebagai menu sarapan. Jika hanya telur dan makanan instan lainnya, di dapurnya cukup banyak tersedia.
"Lo bisa masak, Vy?" tanya Reta bergabung bersama Navya di dapur.
"Banyak omong lo, yang siapin sarapan kalau lo sama Chandra nginep di kostan gue, siapa?"
"Lo, sih, tapi yang masak, kan, si ibu yang dagang nadi uduk di depan," jawab Reta tanpa rasa bersalah.
"Ck, lo lupa meski gue bukan chef, tapi nasi goreng gue enaknya hampir sama ...."
"Kayak nasi goreng pinggir jalan, yang gurihnya luar biasa," ucap Chandra memotong ucapan Navya.
"Daripada cuma ngomong mending bantuin gue. Goreng telur sama sosisnya, noh. Jangan lupa sosisnya dipotong dulu," ucap Navya memerintah.
"Gue mau goreng telur aja," ucap Chandra segera mengambil teflon dan spatula. Menggoreng telur memang lebih aman daripada menggoreng sosis yang kadang minyaknya menciprat.
"Lo licik, ambil yang gampang," protes Reta tidak terima. Dua gadis itu rebutan ingin menggoreng telur saja daripada sosis.
"Udah sih, kalau gak mau goreng sosisnya, ya udah, nasi goreng aja sama telur ceplok."
"Nggak ... nggak ... gue mau, kok, goreng sosis," ucap Reta akhirnya, karena memang daripada telur ceplok gadis itu lebih menyukai sosis goreng.
Sementara para wanita memasak di dapur, pria bertugas membereskan alas tidur bekas mereka. Dengan wajah yang masih setengah mengantuk mereka membereskan alas tidur mereka, atau lebih tepatnya Bagas dan Kalandra yang beberes sementara tiga yang lainya masih berusaha fokus mengendalikan kantuk mereka.
"Tidak terjadi apa pun, kan, tadi malam?" tanya Nattan. Nattan dan Willy kebagian jaga paling awal maghrib sampai jam sebe;as malam, dan tidak ada yang mencurigakan selama rentang waktu itu.
"Aku tidak berjaga sampai selesai karena Navya mimpi buruk," jawab Kalandra.
"Tidak terjadi apa pun, selama aku dan Kalandra berjaga sampai jam setengah tiga malam. Setelahnya Bagas yang berjaga," ucap Naka yang berjaga bersama Kalandra tadi malam.
"Gas?" tanya Nattan karena pria itu sibuk sendiri dengan selimut-selimut yang dilipatnya.
"Selama aku berjaga juga tidak terjadi apa pun," jawab Bagas sedikit tidak yakin karena saat berjaga dia ketiduran dan baru bangun waktu subuh.
"Apa mungkin dia tahu kita memasang perangkap untuknya?" tanya Naka.
"Maksudmu?"
"Mungkin saja dia tahu kita memasang CCTV, bahkan dia bisa melihat apa yang kita lakukan dari tempat yang tidak terlihat. Mungkin saja di rumah ini sudah dipasangi CCTV untuk melihat aktivitas penghuni rumah. Dia mengamati kita, dan menertawakan kita dari suatu tempat," jawab Naka menjelaskan apa yang dia pikirkan berdasarkan pengalamannya menonton film bergenre thriller.
"Jangan katakan itu, terutama di depan Navya," ucap Kalandra bangkit dari duduknya. Dia tidak dapat membayangkan semenyeramkan apa jika pemikiran Naka benar adanya.
Pria-pria itu berekspresi tegang memikirkan kemungkinan pemikiran Naka benar. Mereka melihat sekeliling, mencari letak kamera lain yang mungkin sudah terpasang di rumah itu sebelum kamera milik mereka. Suara getaran ponsel membuat mereka yang sedang tegang kaget berjamaah. Nattan yang menyadari jika suara itu berasal dari ponsel pintar miliknya segera beranjak untuk mengangkat telepon.
Meninggalkan Nattan yang masih menelepon di luar, yang lainnya pindah ke ruang makan karena sarapan sudah siap. Meskipun menu sarapan mereka sederhana, tapi semua orang bersuka cita menikmati sarapan nasi goreng buatan Navya, termasuk Nattan yang bergabung di akhir.
"Tadi aku menerima telepon dari pemilik rumah yang disewa Kak Nitya," ucap Nattan pada Navya.
"Sewaannya berakhir bulan ini, tapi barang-barang Nitya belum dibereskan. Ibu itu memintaku membereskan barang-barang Nitya, tapi aku tidak bisa melakukannya karena, aku harus bertemu klien penting hari ini," ucap Nattan lagi, kode keras agar adiknya mau membantunya.
"Biar Vya yang bereskan," ucap Navya.
"Sekalian bawa barang-barang di rumah sakit tempat Kak Nitya praktek juga, yah. Aku sudah ke rumah sakit dan mengatakan Nitya menghilang dan tidak bisa dihubungi ketika rumah sakit meneleponku dan mengatakan cuti yang Kak Nitya habis," ucap Nattan.
Navya mengangguk tanpa berkomentar. Hal yang tidak biasa karena Navya yang Nattan kenal biasanya selalu menuntut imbalan jika diperintah olehnya. Yang tidak diketahui Nattan adalah Navya menyimpan harapan jika mungkin dia bisa menemukan sesuatu dari barang-barang milik Nitya, seperti saat membereskan barang-barang Ganes.
**************
Sementara ketiga temannya menemui Ayunda sang klien spesial, Navya memilih untuk mendatangi rumah kontrakan kakaknya. Kedatangan Navya sudah ditunggu oleh wanita paruh baya yang merupakan pemilik rumah. Letak rumah kontrakan Nitya tidak terlalu jauh dari perumahan Paradise Garden. Rumah itu juga sangat dekat dengan rumah sakit tempat Nitya bekerja. Navya datang sendirian karena Kalandra ada urusan di tokonya dan Kalandra akan menjemputnya jika urusan pria itu di toko sudah selesai.
"Neng adeknya Dokter Nitya?" tanya si ibu yang memperkenalkan dirinya sebagai ibu Rusti. Wajar saja ibu Rusti tidak mengenali Navya, karena selama Nitya tinggal di rumah ini, kedatangan Navya ke rumah ini dapat dihitung jari saking jarangnya bertamu.
"Iya, Bu. Saya adiknya," jawab Navya.
"Saya kira Dokter Nitya sedang ada urusan di luar kota seperti biasanya. Sejak terakhir kali ada pria yang menanyakannya, Dokter Nitya tidak pernah terlihat lagi. Pas tahu akhir bulan ini sewaan rumahnya berakhir, saya hubungi dia tapi nomornya sudah tidak aktif. Waktu ditanyakan pada teman kerjanya, katanya Dokter Nitya ambil cuti dan belum kembali. Bu dokter pernah cerita katanya dia mau menikah, yah, dan pindah ikut suaminya. Jadi, saya sewakan pada orang lain, pas orang yang mau sewa rumah lihat-lihat rumah, eh ternyata barang-barangnya Bu Dokter belum dibereskan," ucap Ibu itu bercerita sembari membuka pintu rumah kontrakannya.
"Ini kunci cadangannya neng, kunci asli rumahnya belum dikembalikan Bu Dokter. Nanti setelah selesai beres-beresnya antarkan lagi kuncinya ke rumah saya, yah," ucap Ibu itu, yang dijawab anggukan oleh Navya.
Dingin itulah yang pertama kali Navya rasakan ketika memasuki rumah minimalis sederhana berkamar dua itu. Rumah itu cukup berdebu menandakan sudah cukup lama rumah itu ditinggalkan oleh penghuninya. Bahkan cucian piring dan gelas di bak cuci piring nodanya sudah berubah jadi kerak. Terlepas dari debu dan beberapa piring dan gelas kotor di bak cuci piring, keadaan rumah itu cukup rapi. Sangat menunjukkan Nitya sekali yang suka dengan kerapian. Navya langsung memasuki kamar yang dia ketahui kamar itulah yang ditempati Nitya saat tinggal di rumah itu. Keadaan kamar juga masih rapi, tempat tidur, lemari dan meja belajar tertata rapi. Keranjang cucian juga kosong. Navya menarik koper besar yang berada di atas lemari. Melihat keberadaan kopet besar itu dan juga baju Nitya yang masih banyak tertata rapi di lemarinya, mematahkan dugaan Nitya kabur seperti alasan dalam suratnya. Mana mungkin ada orang kabur tanpa membawa bajunya sama sekali.
Navya membereskan semua baju Nitya ke dalam koper. Setelah selesai dengan pakaian, dia beralih membereskan buku-buku Nitya yang jumlahnya lumayan banyak itu. Maklum Navya adalah seorang dokter, jadi buku bacaannya pun tidak sedikit. Navya sudah menghubungi ibunya tentang barang-barang yang ditinggalkan Nitya, dan ibunya meminta Navya untuk membereskan barang-barang pribadi Nitya saja dan mengirimkannya ke rumah keluarganya. Masalah barang besar seperti furnitur tidak usah dibawa dan ditinggalkan saja.
Saat membereskan buku-buku Nitya, tak sengaja Navya menyenggol berkas-berkas yang berada di atas meja belajar, hingga membuat berkas itu berserakan. Dengan sedikit mengumpat Navya berjongkok untuk membereskan kekacauan karena ulahnya.
Navya melotot kaget ketika melihat kertas-kertas yang tercecer itu. Dia menutup mulutnya tidak percaya. Inikah alasan Nitya menghilang?
KAMU SEDANG MEMBACA
Paradise Garden
Horror2 hari sebelum pesta pernikahan mereka, pasangan yang sudah berpacaran lebih dari 5 tahun itu menghilang. Dengan alasan belum siap keduanya menghilang tanpa jejak. Menghindari aib kedua keluarga sepakat menikahkan adik mempelai sebagai gantinya. Nav...
