"Navya ... Navya ... bangun ...."
Kalandra mengguncang tubuh Navya agar membuka matanya. Navya menjerit-jerit dalam tidurnya, tubuhnya bergerak ke sana kemari dengan gelisah. Kalandra memaksa Navya untuk bangun dengan mengubah posisi berbaring Navya menjadi duduk. Meskipun mungkin cara itu adalah cara sedikit kejam untuk membangunkan seseorang, tapi Navya akhirnya berhasil membuka matanya dan terlepas dari mimpi buruk yang membuatnya menjerit-jerit.
"Hei ... hei ... tenanglah ...," ucap Kalandra meraih Navya kepelukannya, membiarkan Navya menangis untuk meredakan ketakutannya.
Navya masih menangis di pelukan Kalandra ketika Nattan memburu masuk ke dalam kamar pasangan itu.
"Ada apa, ada apa?" tanya Nattan rusuh.
"Mimpi buruk," jawab Kalandra meminta Nattan untuk duduk diam dan tidak menanyai Navya terlebih dahulu.
Lama kedua pria itu hanya bisa diam mendengarkan isakan Navya, tanpa menginterupsi, sampai akhirnya Navya berhenti menangis dengan sendirinya. Navya melepaskan pelukan Kalandra ketika dia mengangkat kepala, Nattan pun mulai duduk di hadapannya.
"Bang Nattan," ucap Navya menghapus air matanya dan tersenyum paksa pada Nattan.
"Ck, apa sekarang kamu malu terlihat menangis olehku?" tanya Nattan berusaha mencairkan suasana tengah malam yang lumayan mencekam itu.
Navya beralih memeluk Nattan untuk beberapa saat dan kembali ke rengkuhan Kalandra yang terasa lebih nyaman saat ini.
"Ck, bahkan sekarang kamu lebih suka dipeluk bocah itu dari pada abang," ledek Nattan.
"Tidurlah lagi, hari masih malam," ucap Nattan mengelus kepala Navya sayang. Nattan memahami, meskipun dia dan Navya kakak beradik, tapi sepertinya hubungan Navya dan Kalandra sebagai suami istri lebih erat daripada hubungan persaudaraan dengannya. Mungkin karena Navya berbagi banyak hal terutama masalah kasus ini dengan Kalandra, adiknya merasa lebih nyaman dengan Kalandra sekarang.
"Mau berbagi cerita sekarang?" tanya Kalandra. Mereka sudah kembali pada posisi berbaring saling memeluk.
"Aku ... ah rasanya terlalu mengerikan," ucap Navya menggelengkan kepalanya, meringis mengingat mimpi buruk yang baru saja dia alami.
Lama keduanya hanya terdiam memandangi langit-langit kamar. Navya tiba-tiba mendongakan kepalanya memandang wajah Kalandra. Tangan Navya bergerak menutup mulut dan hidung Kalandra.
"Apa yang kamu lakukan?" tanya Kalandra heran. Takut Navya kehilangan akal dan tiba-tiba ada keinginan untuk membunuhnya.
"Diam sebentar," ucap Navya bangkit dari pembaringannya dan melihat wajah Kalandra yang hanya terlihat matanya saja.
"Seberapa besar kemungkinan orang terlihat mirip ketika hanya mata mereka yang terlihat?" tanya Navya.
Kalandra mengerjap tidak mengerti dengan pertanyaan Navya, ditambah lagi posisi Navya yang duduk di atas tubuhnya membuatnya tidak fokus.
"Apa maksudmu?" tanya Kalandra dengan suara tertahan karena Navya masih menutup mulutnya.
Navya memperhatikan Kalandra dengan teliti, jelas mata Kalandra sama sekali tidak memiliki sedikit pun kemiripan dengan mata seseorang yang berada dalam mimpinya. Meskipun iris mata Kalandra juga berwarna hitam, tapi sama sekali tidak mirip dengan mata si pembunuh itu.
"Kenapa?" tanya Kalandra setelah Navya kembali ke posisi berbaring di sisinya.
"Aku ... aku melihatnya ...," ucap Navya perlahan.
"Dia ... aku melihat dia mengayunkan palunya memukul kepala seseorang hingga berdarah-darah. Di sana juga ada seorang wanita yang sedang menangis dengan anak yang berlumuran darah di pangkuannya. Dia ... mata orang itu ... aku ... aku ... merasa tidak asing dengan mata itu. Aku seperti pernah melihatnya di suatu tempat," ucap Navya dengan tatapan menerawang mengingat kembali iris mata hitam gelap yang bersitatap dengannya dalam mimpi.
KAMU SEDANG MEMBACA
Paradise Garden
Horror2 hari sebelum pesta pernikahan mereka, pasangan yang sudah berpacaran lebih dari 5 tahun itu menghilang. Dengan alasan belum siap keduanya menghilang tanpa jejak. Menghindari aib kedua keluarga sepakat menikahkan adik mempelai sebagai gantinya. Nav...
