Author POV:
Hari itu datang tanpa memberi peringatan. Hari yang sangat Baekhyun harapkan tak pernah datang, kini sudah berada di depannya. Baekhyun menatap kertas yang bertuliskan tanggal keberangkatannya. Itu tepat tanggal hari ini. Semua perlengkapan sudah siap. Dan bahkan Hae Bi sudah memasang wajah murung semenjak pagi.
Baekhyun tertawa kecil melihat ekspresi adiknya yang begitu manja. Kali ini ia sedang berada di antara EXO dan kelima gadis. Semuanya ada disana, kecuali Je Hyun. Ketika hendak berangkat, Baekhyun berkata pada Suho, “Hyung, bisakah kalian ke bandara duluan? Aku akan bertemu dengan Je Hyun sebentar. Tunggu aku disana, hyung.”
Suho tersenyum tipis dan menepuk bahu Baekhyun sekilas. Kemudian ia mengintrupsi agar mereka semua langsung saja ke bandara duluan. Sepeninggal mereka semua, Baekhyun segera menjemput Je Hyun, mengajak gadis itu ke bukit yang pernah mereka kunjungi itu.
Je Hyun yang diajak secara mendadak, hanya bisa menurut saja. Baekhyun menggenggam tangannya erat, membimbingnya menuju puncak. Tak berkata apapun sebelum akhirnya Je Hyun menyadarkannya dari keheningan itu.
“Kenapa? Kau mengajakku secara mendadak begini, apa ada sesuatu?” tanya Je Hyun.
Baekhyun menghela napasnya, ia menoleh pada Je Hyun dan memberikan perhatian sepenuhnya pada gadis itu.
Kim Je Hyun POV:
Aku melihat matanya, kali ini tampak sendu. Untuk seorang Baekhyun yang tak pernah bersedih di depanku, kupikir ini berarti masalah yang cukup sulit. Genggaman tangan Baekhyun sangat erat, seolah-olah dia akan pergi ke suatu tempat. Oh tidak! Jangan katakan..
“Je Hyun-ah, aku akan pergi ke suatu tempat.”
Aku merasa sendi tubuhku lemas. Apa maksud ia mengatakan hal itu? Baekhyun mengerti cara pandangku yang bingung, ia kembali menerangkan,
“Aku sudah memikirkan ke mana aku akan melanjutkan pendidikanku. Aku adalah putra pertama keluarga Byun, dan aku harus mengambil tanggung jawab itu.”
Aku berusaha sekuat tenaga untuk tetap fokus meski perasaanku benar-benar tidak nyaman saat ini. Aku merasa sesuatu yang buruklah yang akan menimpa kami, “Apa, pendidikanmu masih di Seoul?” tanyaku penuh harap atas jawabannya.
Tapi dia menggeleng, membuatku semakin merasa putus asa, “Lalu dimana?”
“Di luar Korea.”
Aku tau ini hanya kepergiannya sebentar ke luar negeri, tapi kenapa aku takut ia pergi, aku tak ingin ia pergi. Kenapa aku merasa, jika aku melepasnya pergi, maka aku tak akan bisa melihatnya lagi?
Baekhyun menunduk, kemudian mengangkat kepalanya lagi, menatap ke arahku penuh permohonan maaf. Bisakah ia tak memberiku tatapan itu? Seolah-olah tatapan itu mengatakan bahwa ia akan pergi meninggalkanku, selamanya.
“Maafkan aku, Je Hyun-ah. Maafkan aku, pilihan ini, harus memisahkanku denganmu. Kumohon, maafkan aku.” Pintanya sedih.
Aku sedih, tapi tak satupun kata-kata yang kukeluarkan untuk mengungkapkan betapa kecewanya aku padanya.
“Kumohon maafkan aku, aku berjanji, ini tidak akan pernah berakhir, Je Hyun-ah. Kau tetap kekasihku, sampai kapanpun, apapun yang terjadi, aku akan tetap dan selalu mencintaimu.”
Meski aku tak bisa percaya padanya, tapi aku berusaha agar hatiku percaya lagi. Air mataku sudah menggenang di mataku. Sosok Baekhyun sudah terlihat buram, terhalang genangan air mataku. Bibirku bergetar ingin mengatakan sesuatu padanya, “Kau berjanji?”
Baekhyun tersenyum, senyum yang begitu sendu, “Aku janji.”
“Aku juga mencintaimu.” Ucapku sedih. Air mataku mendobrak keluar.
KAMU SEDANG MEMBACA
Mistake Of Love
Fanfiction'Kau tidak bisa memilih dimana dan kapan cinta itu akan datang. Kau juga tidak bisa memilih pada siapa kau akan jatuh cinta.' Itu hanya sebuah kalimat konyol yang dibisikkan sebagian besar orang. Pada kenyataannya, kau bisa memilih, siapa yang akan...
