Emosi yang terpendam

1.1K 119 7
                                        

"Ehem..ehem" Jeong berdehem kuat membuyarkan tatapan yang saling melekat itu. "Chaeng, kok suasana jadi panas gini ya?" Sindirnya sambil mengipas-ngipas.

Dahyun menatap Jeong murka.

"Tu kan, sok gengsi pake nyembunyiin segala. Padahal udah ketauhan!" Sambung Chaeng.

Dahyun bungkam. Sekarang ia tidak ingin berbantah-bantahan dengan kedua temannya disaat hatinya dalam keadaan berbunga-bunga. Ia kembali berpaling menatap kearah depan hendak melihat wajah kekasihnya lagi.

Mata Dahyun membulat. Sana tak lagi berdiri disana. "Pacar, mana pacar?" Batinnya mencari-cari.

Dahyun menelusuri setiap sudut kantin lalu mendapati Sana sedang berbicara dengan seorang lelaki. Dahyun menajamkan penglihatannya hendak memastikan siapa lelaki yang sedang berbicara dengannya. Dan betapa kagetnya Dahyun saat melihat raut wajah lelaki itu. "Dia lagi!?" Pikir Dahyun.

Lelaki itu Daniel.

Tapi tunggu. Lelaki yang bernama lengkap Kang Daniel sedang menggenggam tangan Sana.

**

"Gue mau nanya, sebenarnya siapa sih yang jadi kekasih Lo? Apa aku mengenalnya? Apa dia kuliah disini?" Ujar Daniel.

"Lepasin gue!" Sana sedikit meringis kesakitan dikarenakan Daniel menarik tangannya kasar. "Gue gak ada urusan sama Lo!"

"Na, Lo harus jadi milik gue!"

"Lo gila!"

"Iya gue gila karena suka sama Lo!"

"Lepasin gue!" Sana terus merengek memohon Daniel segera melepaskan genggamannya.

"Gue bakal cari tau siapa kekasih Lo itu." Daniel semakin lancang. "Kalo sampe gue tau, gue bakal bunuh tu orang. Ingat itu Na. Pokoknya lo gak boleh dimiliki siapapun kecuali gue!" Ancam Daniel.

~~

"Bunuh?" Seseorang menyambar ucapan lelaki itu. "Haha. Jijik banget otak Lo!"

Sang penyelamat datang. Siapa lagi kalau bukan pacar jijik Sana.

"Lo siapa?"

"Gue...Siapa?" Dahyun tertawa sombong.

"Eh, Lo ngetawain gue?" Kali ini Daniel melepas tangan Sana dan beralih memegang kerah kemeja Dahyun.

"Kasian banget sih Lo!" Dahyun makin tertawa menghina. "Punya tampang tapi kelakuannya kotor. Jijik gue liat Lo!"

"Apa Lo bilang? Ko..kot__" Seseorang menyergah ucapan Daniel"

"Stop...stop!" Jeong memisahkan kedua insan itu. "Dan maafin temen gue yah, dia suka kelepasan soalnya!"

"Lo ngapain?" Dahyun menepis ucapan Jeong. "Minggir gak!"

"Dub udah! Lo gak tau dia siapa?" Bisik Jeong memohon. "Dia Daniel Dub, anak Pak Kang Joon. pendiri universitas kita!"

"Bodo! NTAR GUE BELI NI UNIVERSITAS, terus keluarin manusia bangkai kayak di_" Jeong menutup mulut Dahyun.

"Eh, lo ngatain gue manusia bangkai?" Emosi Daniel makin mengebu-gebu.

"Na, tolong bawa Dahyun" Bisik Chaeng.

Sana yang sedari tadi mematung karena gugup akhirnya berperan sebagai pemisah. Ia menarik lengan Dahyun dan membawanya keluar. Dahyun sempat mengelak dan ingin tetap beradu mulut dengan Daniel, tapi Sana berusaha menariknya dan memaksanya keluar.

Sana membawa Dahyun masuk kedalam mobil.

"Kenapa sih Lo gak bisa nahan diri!" Bentak Sana. "Kalo sampe Daniel mukul Lo gimana?"

Dahyun bungkam.

"Gue tau Lo emosi, tapi seenggaknya Lo harus kontrol diri. Daniel itu bukan cowok gampangan. Gue denger sama anak-anak dikampus dia itu orangnya nekat, bahkan dia bakal berusaha ngedapatin apa yang dia mau dikampus ini. Dosen aja gak berani D.O dia." Sana mulai berceramah membuat telinga Dahyun serasa terbakar.

"Kalo lo khawatir karena gue, yah gue maklum. Dia itu cuma gak waras aja kalo lagi suka sama cewek. Dia playboy dan gue tau pasti bukan cuma gue yang digangguinnya. Ada banyak! Makanya gue gak respond dia. Lagian gue bisa jaga diri kok Dub. Dan gue yakin Daniel gak bakalan berani berbuat lancang sama gue. "

"Lo bisa jaga diri?" Dahyun mengalihkan pandangannya menatap keluar kaca. "Berarti lo gak butuh gue"

"Yah, kok Lo jadi salah paham gini sih?" Sana mengerutkan alisnya. "Maksud gue itu, gue bisa jaga diri sama orang yang gue tau dia gak bakalan berani buat ngelukain gue. Bukan maksud gue gak butuh Lo!"

Dahyun kembali bungkam. Entahlah perasaannya mungkin masih bercampur aduk antara marah dan kesal. Ia ingin sekali membatah Sana, tapi hatinya berusaha untuk mengalah.

"Dub, Lo tau kan gue sayang sama Lo!" Sana meraih tangan Dahyun. "Gue gak mau lo terlibat masalah dengan siapapun, apalagi dilingkungan kampus. Lo ngertikan maksud gue?"

Dahyun mengangguk tanpa melirik pemilik suara itu.

"Yaudah, Lo tunggu sini. Gue masih ada satu pertemuan matakuliah lagi"

"Mmm" Dahyun bergumam.

Sana mengecup ujung kepala Dahyun sekilas. "Jangan kemana-kemana, tungguin gue disini"

Sana pun beranjak pergi. Dahyun menatap punggung Sana sambil cengar-cengir. "Untung aja udah jadi PACAR GUE, kalo gak, udah gue babat tu cowok brengsek!"

____

WWTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang