14 -Langit Asia-

318 17 7
                                        

"Bukan sekedar perjalanan biasa, ini perjalan yang sangat menyenangkan!"

-

Xavier dan Nadia masih duduk menikmati pemandangan ciptaan tuhan yang sangat indah.

"Jadi adik kamu masih di pesantren?" tanya Xavier memulai percakapan.

"Iya.." jawab Nadia.

"Berapa lama?" tanya Xavier.

"3 tahun, tapi kalau ada waktu libur ia pasti pulang"

"Aku nyesel Nad!"

"Nyesel? Kenapa?" tanya Nadia.

"Aku nyesel gak masuk pesantren!" ujar Xavier terlihat murung.

"Jangan gitu dong, mungkin tuhan punya rencana yang lebih baik! Kan kita gak tau" Nadia menyemangati.

"Aku juga nyesel!"

"Nyesel kenapa lagi?" Nadia menaikan sebelah alisnya.

"Nyesel kenapa baru ketemu kamu sekarang, kenapa gak dari dulu coba!" ujar Xavier tersenyum.

"Apaan sih Vier gak lucu!" Nadia tersenyum balik.

"Kalau gak lucu, terus kenapa senyum?"

"Senyum kan sedekah, emang gak boleh?"

"Ya elah boleh kok..." Xavier mengelus kepala Nadia. "Pulang yuk!?" ajak Xavier.

"Dikit lagi, baru berapa jam disini!"

"Baiklah!" Xavier berdiri.

"Eh mau kemana?" Nadia menahan tangan Xavier.

"Mau beli makanan"

"Kan aku gak laper!"

"Aku yang laper! Tungguin disini, gak jauh kok" Xavier melanjutkan langkahnya.

  Nadia menunggu Xavier sambil melempar kerikil ke muara. Nadia sangat menikmati pemandangan ciptaan tuhan yang indah.

"Hei Neng! Jangan dilempar atuh... nanti ikannya pada lari!" seseorang yang sedang memancing di muara tersebut berteriak ke arah Nadia.

"Eh.. maaf pak.. gak sengaja heheh" Nadia berhenti melempar kerikil ke muara.

"Tuh kan.. ikannya udah gak mau makan umpan!" teriak orang tersebut mengambil peralatan pancingnya dan beranjak meninggalkan muara.

"Maaf pak... maaf..." Nadia melihat orang tersebut mengemas alat pancingnya, ia berdiri berteriak meminta maaf.

"Ada apa?" Xavier datang membawa satu bungkus sate.

"Eh Xavier, kirain siapa" Nadia kembali duduk, Xavier pun ikut duduk. "Huufft... tadi ada bapak-bapak yang mancing ikan sama sekali aku gak liat, yah gak sengaja aku lempar kerikil ke muara buat nyari suasana gitu, eh ternyata bapak itu marah! Katanya ikannya pada lari!" Nadia menjelaskan.

"Terus?" tanya Xavier.

"Hufft, yah aku mau minta maaf Vier... nah bapak itu malah ninggalin muara!"

"Ohh gitu... ya udah telfon aja tuh bapak!"

"Ih apaan sih, mana ada kan nomor telefonnya"

"Yah kamu harus cari"

"Ih ngeselin!" Nadia memukul bahu Xavier. "Eh kok cuma satu bungkus sih.." ujar Nadia melihat sebungkus sate.

"Iyalah.. kan kamu gak laper!"

"Dasar cowok gak peka!" Nadia memutar bola mata dengan malas.

"Eh kok gitu, kan kamu gak laper, yah jadi aku beli satu bungkus doang!"

Langit Asia [Completed]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang