35 -Langit Asia-

206 11 0
                                        

"Aku bahagia. Karena kau pernah mencintaiku walaupun hanya sementara:)"
-

  Fidyah tak kuasa menahan air matanya. Ia terisak di dalam pelukan. Xavier menggaruk tengkuk yang tidak gatal. Entah mengapa Fidyah sebegitu sedih dengan perkataannya. Perlahan Xavier membalas pelukan Fidyah. Ia mengelus rambut Fidyah.

"Kenapa nangis?" tanya Xavier tertawa kecil.

"Kata-kata kamu menusuk banget," jawab Fidyah terisak.

"Menusuk? Aku hanya bilang kalau kamu bahagia sama Kevin, aku pasti juga ikut bahagia," ujar Xavier lembut.

"Emang kamu gak kenapa-kenapa gitu?"

"Kenapa-kenapa gimana maksudnya?"

"Ya, sakit hati atau kamu ngelarang aku sama Kevin, atau apalah ribet ih!" Fidyah kesal. Ia menghapus air matanya.

Xavier terkeken dengan sikap gadis yang ada dipelukannya. Xavier memberi sedikit jarak. Ia melepaskan pelukannya. Ibu jarinya menghapus aliran air mata Fidyah.

"Kamu benar, aku sakit hati" Xavier tersenyum dan merapikan rambut Fidyah kebelakang telinga.

"Terus kalau kamu sakit hati kenapa gak-"

"Karena aku punya alasan, kamu mau tau apa alasannya?"

Fidyah mengangguk.

"Aku gak berhak sakit hati dan ngelarang kamu buat cinta sama siapa aja. Karena posisi kita saat ini hanya sebatas teman, aku bisa saja melarang kamu dekat sama Kevin. Tapi, apakah itu pantas? Tentu tidak. Aku bersikap begini karena aku sayang sama kamu Fidyah, aku mau kamu bahagia walaupun itu bukan bersamaku," Xavier mencubit gemas pipi Fidyah.

Fidyah kembali terisak mendengarnya. Ia menuduk. Ia tak bisa menahan tangisnya.

"Aku... aku... aku minta maaf Vier,"

"Minta maaf? Buat apa? Seharusnya aku yang minta maaf," Xavier memegang pundak Fidyah.

"Ke-kenapa kamu yang minta maaf, seharusnya aku. Karena aku udah maksa kamu buat sakit hati dan ngelarang aku,"

"Kamu gak salah, apa yang kamu lakukan itu benar. Aku yang bersalah, karena gak bisa buat kamu bahagia,"

"Aku... aku bahagia kok,"

"Iya aku tau." Xavier kembali memeluk Fidyah. Entah apa yang ia rasakan gadis dihadapannya sangat membuat perasaannya bingung.

"Xavier?!" panggil Fidyah.

"Hmm ada apa?"

"Kamu... kamu gak punya perasaan yang lebih dari teman kepadaku?" tanya Fidyah hati-hati. Ia menggigit bibir bawahnya.

Xavier melepas pelukan.

"Punya. Perasaanku melebihi pertemanan. Aku sangat menyangimu lebih dari teman, namun sayang semuanya sudah terlambat"

"Kenapa?"

"Aku lelaki yang bodoh dan gak berani nyatain perasaan pada seorang wanita yang sejak dulu dicintai, aku sebenarnya mencintaimu Fidyah. Namun semuanya sudah terlambat, Kevin lebih dahulu menyatakan perasaannya dan aku merasa bahwa kamu juga mencintai Kevin,"

Fidyah terdiam.

"Kalau kamu gimana? Punya perasaan yang lebih dari teman denganku?" tanya Xavier terkekeh.

"Iya," jawab Fidyah seadanya. "Kenapa sih kamu ngedukung aku sama Kevin? Aku bahkan sempat berharap kamu yang lebih dulu nyatain perasaan, dan harapanku ditentukan oleh waktu. Setelah Kevin dekat denganku, aku mulai melupakan sedikit rasa cinta yang sejak dulu itu, dan ingin membuka lembaran baru untuk Kevin... tapi... tapi.. kenapa disaat-" Fidyah kembali menangis.

Langit Asia [Completed]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang