28 -Langit Asia-

211 10 0
                                        

"Aku belum mengerti dengan perasaanku sendiri. Aku pecundang. Apakah ini perasaan cinta atau sekedar teman bahagia?"
-

  Kevin dan Fidyah sedang duduk di halte. Mereka beristirahat setelah berlari. Kevin mengusap peluh di pelipis Fidyah dengan tangan nya. Fidyah menoleh melihat aksi Kevin.

"Maaf, gue nekat benget" Kevin terkekeh. Kemudian ia merapikan rambut Fidyah.

"Makasih ya Vin!" ucap Fidyah.

"Iya sama-sama" Kevin tersenyum.

  Terjadi keheningan beberapa saat. Tak ada percakapan di antara mereka yang terjadi. Kevin sejak tadi menatap wajah mungil Fidyah, lalu ia tersenyum kecil. Tiba-tiba Kevin menggenggam tangan Fidyah. Kevin tersenyum dan Fidyah sedikit terkejut.

"Lo masih gak percaya gue suka ama lo?" tanya Kevin, ia menatap Fidyah serius.

Fidyah tidak menjawab. Ia merasa bingung dengan pertanyaan yang di lontarkan Kevin.

"Lo mau bukti?" Kevin tersenyum.

"Bukti? Buat apa?" tanya Fidyah.

"Bukti kalau gue suka ama lo!"

"Maksudnya gimana?" Fidyah mengangkat alisnya sebelah.

"Lo tunggu disini!" Kevin melepas genggaman tangan nya dengan Fidyah.

  Kevin berjalan menjauh dari halte. Fidyah menatap heran dari kejauhan. Kevin tepat berada di tengah jalan raya. Masih sedikit kendaraan yang berlalu-lalang. Kevin melambaikan tangan ke arah Fidyah.

"Lo mau ngapain Vin?" teriak Fidyah. Ia berdiri melihat Kevin yang berdiri di tengah jalan raya.

  Kevin tersenyum lebar. Ia berjalan mendekati penjual es krim. Abang penjual es krim itu masih memperbaiki tempat jual nya. Kevin berniat untuk meminjam toa milik abang penjual es krim tersebut.

"Bang, es krim nya ada?" tanya Kevin. Ia melontarkan pertanyaan tersebut sebagai intermezo, pembuka percakapan. Ia sudah tahu bahwa es krim belum tersedia.

"Belum ada mas, entar siang baru ada!" jawab Abang penjual es krim tersebut.

"Bang, boleh minta tolong gak?" tanya Kevin.

"Ada apa mas?" tanya balik Abang penjual es krim.

"Boleh pinjam toa nya bang?"

"Toa? Buat apa?"

"Sebentar doang bang!" Kevin memohon.

  Abang penjual es krim meminjamkan toa miliknya dan memberikannya kepada Kevin. Setelah toa berwarna putih di tangan Kevin, ia kembalu berjalan ke tengah jalan raya. Sementara Fidyah menggaruk tengkuk nya yang tidak gatal, bingung dengan tingkah Kevin.

"SEMUANYA PERHATIAN!" suara Kevin muncul dari toa.

  Semua orang yang menikmati pekan pagi menoleh kepada Kevin. Sampai abang penjual es krim juga menoleh. Semua orang menoleh kepada Kevin.

"Ngapain tuh anak?" tanya Fidyah pada dirinya sendiri.

"PERHATIAN! GUE BERDIRI DISINI BUKAN UNTUK NYARI MATI! TAPI GUE MAU NGUNGKAPIN PERASAAN GUE BUAT SESEORANG!" Kevin berhenti. "SESEORANG ITU ADA DI HALTE SANA!" Kevin menunjuk Fidyah.

  Fidyah menoleh ke kanan dan kiri. Tidak ada orang yang berada di halte kecuali ia. Fidyah merasa orang yang di maksud Kevin adalah dia. Semua tatapan orang-orang tertuju pada Fidyah.

"GUE MAU BILANG! KALAU GUE SAYANG DAN CINTA SAMA CEWEK YANG ADA DI HALTE ITU! GUE TAU GUE JELEK, BURIQ DAN GAK SEMPURNA. TAPI ASAL KALIAN SEMUA TAHU, GUE CINTA BANGET AMA DIA! KITA TAHU BAHWA LANGIT DAN BUMI TAK BISA BERSATU, DAN SALING MENJAUH. TAPI RASA CINTA GUE GAK PERNAH JAUH! RASA SAYANG DAN CINTA GUE AKAN SELALU BERSATU DALAM DEKAPAN PERASAAN HANGAT GUE. SEKALI LAGI GUE CUMA MAU BILANG KALAU GUE BENER-BENER CINTA AMA CEWEK ITU!" Kevin menunjuk Fidyah. Kemudian ia tersenyum.

Langit Asia [Completed]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang