Bungkus dari es buah yang tak bersalah pun terjatuh di tanah dengan mengenaskan. Kini tangannya yang yang sedari tadi digunakan untuk untuk membawa bungkus es buah berubah menjadi mengepal kuat seakan menyalurkan emosinya disana.
"Argh... Kenapa gue jadi gini sih!" ujarnya frustasi sambil mengacak rambutnya lalu berlalu pergi.
Seseorang itu pergi ke tempat ia memarkirkan motornya lalu pergi dengan kecepatan di atas rata-rata.
Pikirannya berkecamuk atas kejadian tadi, perih sakit seperti ada banyak jarum yang menacap serta sesak ulu hatinya entah apa yang pantas mendeskripsikan itu yang jelas seseorang itu tak tau apa arti semuanya ini.
Sebelumnya ia belum pernah merasakan seperti ini tapi mengapa sejak mengenal dia ia semakin merasakan yang aneh dengan perasaannya sendiri dan merasa sesuatu yang aneh saat gadis itu dekat dan bahagia dengan yang lain.
Bukankah ini sebenarnya kemauannya!
"Argggghs... " ucap kesal sambil mengendarai sepeda motor, tangan satunya yang tidak digunakan untuk mengegas motor ia pukul pukulkan pada kepala motornya.
"Kenapa gue harus gini, Seharusnya gue harus seneng dia jauhin gue bangsat," lanjut ucapnya masih dengan emosi.
Setelah itu tidak ada kata-kata lagi yang keluar dari mulutnya, ia kembali fokus menatap jalanan di depannya. Melajukan motornya dengan kecepatan tinggi karena ia ingin agar cepat sampai di rumahnya dan merebahkan dirinya di kamarnya berharap ingin segera melupakan kejadian hari ini.
Tin tinn..
Bunyi suara motor dari arah luar berharap seseorang ada yang membuka segera gerbang rumahnya.
Tin tin tin..
Lagi, seseorang yang masih setia duduk di atas motornya kembali membunyikan klakson notornya kali ini dengan tak sabaran.
Tak lama dari itu seseorang menyahut dari balik gerbang besar itu, "Iya iya bentar den, bapak habis kebelakang"
Pengendara itu tak menjawab dan lantas langsung melenggang masuk bersama motornya setelah gerbang dibuka lebar.
"Hadeh.. Si aden pasti lagi ada masalah lagi, muka ko hari ini di tekuk terus. Pas pulang sekolah di tekuk, Sekarang habis main di tekuk. Perasaan sebelum pergi udah ceria eh sekarang di tekuk lagi," ucap Satpam itu sambil mengelus dadanya.
"Abang... " teriak anak kecil yang baru saja menyadari keberadaan abangnya yang baru masuk rumah.
"Hmm abang lupa ga kan sama pecenan anggi," ucapnya dengan nada gembira ala anak kecil seusianya.
Ya memang yang memesan es buah itu adalah Anggi sebelum abangnya yang merupakan Defan pulang dari rumah sahabatnya.
Defan seketika teringat akan permintaan adik kecilnya, ya es buah itu es buah yang dijatuhkannya ia lupa membeli lagi untuk adiknya dan malah pulang.
"Maafin abang Nggi abang lupa beliin," dustanya selembut mungkin agar adiknya mengerti. Beda bukan sifat Defan saat di rumah bersama keluarganya dan saat di luar rumah ataupun di sekolahan.
"Yah.. Abang," ucap anggi kecewa sambil memanyunkan mulutnya.
"Ya udahlah dek, abang kamu juga kayanya capek banget tuh. Yanudah gih bang sana masuk istirahat," ucap bunda menegahi.
"Tapi kan ibun. Anggi pengen ec buah,"
"Nanti minta ayah beliin aja ya sayang,"
"Ya udah bun abang istirah dulu," ucap Defan lalu melenggang pergi ke kamarnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Someone [Tamat]
Fiksi Remaja[BELUM REVISI] Bagaimana jadinya jika seseorang di masa lalu terus membayangi lalu kita bertemu lagi dengan orang yang hampir sama, membuat rasa lain tumbuh dalam sekejab mata namun berakhir rasa itu tumbuh sendiri tanpa adanya ikatan dengan masa la...
![Someone [Tamat]](https://img.wattpad.com/cover/193353436-64-k213636.jpg)