Risa sudah berganti pakaian dengan yang seharusnya Ia pakai ketika ada tamu laki-laki di rumahnya.
Sedangkan Richard masih dengan jubah tidurnya. Mereka berdua kini duduk saling berhadapan di meja makan, seperti biasa dengan gaya super dingin namun karismatik Richard melipat tangan di depan dada dengan kaki yang menyilang di atas kaki lainnya.
Ia tak berbicara hanya terus menatap Risa dengan penasaran,sedikit mengintimidasi dan juga Sexy.
“oke, jadi apa yang membuat seorang Risa yang sangat amat mencintai ketenangan ini sudah membuat keributan di pagi hari?”
Risa mencebik dia tidak suka di sebut sebagai pembuat keributan, tidak akan ada keributan kalau saja Ia tidak tidur dengan pria yang bukan suaminya.
Oh sungguh apa yang akan di katakan Ibu juga keluarganya jika Ia melakukan hal ini. Ia perlu bicara ini dengan Esme, Ia memang ingin hidupnya berubah tapi bukan juga menjadi wanita yang bisa tidur dengan pria yang bukan suaminya. Bagaimana mungkin Ia di rubah menjadi sejauh itu kalau bergandengan tangan dengan pria saja Ia tak pernah.
Richard terus menatap Risa sampai Risa mau bicara.
“jangan menatap ku begitu” ucap Risa
Lagi-lagi Richard di kejutkan dengan jawaban yang tak sesuai dengan expresinya,
“why?”
“ya..ya jangan aja” ucap Risa dan menggaruk lehernya canggung,
Richard berusaha menahan senyumnya dan menganggukan kepalanya.
Ia mencoba menghitung dengan tangannya apa-apa saja larangan yang di berikan Risa, “Tidak boleh menyentuh, Tidak boleh satu kamar dengan mu, tidak bole menatap mu, apa lagi?”
“jangan hanya berpakaian dalam seperti tadi, kamu harus menghormati ku sebagai wanita”
“hah? Risa? Are you insane?”
“insane? Wah..aku sedang melakukan yang seharusnya wanita lakukan!”
Richard mencondongkan tubuhnya menatap Risa “kamu monica Larissa kan?”
“ya, terus kenapa?” tanya Risa galak
“kamu lagi minta break atau putus ya?”
“ohh.. jadi kamu memacari ku Cuma karna ingin menyentuh ku?”
“meniduri mu lebih tepatnya” ledek Richard yang di tanggapi serius oleh Risa
“ya!” bentak Risa dan berdiri dari duduknya.
Richard tersenyum geli dan menggelengkan kepalanya sendiri.
“aku bercanda, duduklah. Pita suara mu baik-baik saja? sejak tadi kamu terus teriak” ucap Richard
Risa kembali duduk namun kali ini dengan wajah mencebik yang sangat menggemaskan, Richard akan bicara lagi kalau saja Ia tak mendengar bel apartement berbunyi.
Ia pun meninggalkan Risa dan kembali lagi dengan satu bungkus makanan di tangannya.
“Kita bicara sambil sarapan ya, aku belum makan sejak semalam”ucap Richard dan membuka makananya.
Risa memperhatikan Richard yang hanya memesan satu makanan, ia sungguh tidak menyangka bahwa pria kaya seperti Richard ternyata sangat pelit.
“Jadi sampai mana kita tadi?”
“tau ah” gerutu Risa
Richard menaikan satu alisnya, Sebenarnya Ia paling tak suka melihat orang lain marah-marah padanya apa lagi tanpa alasan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Turn (Never lose hope)
Fantasy"Sebutkan 3 permintaan mu" Monica tertawa sinis, Air matanya terjatuh bahkan disaat ia merasa sangat terpuruk orang lain tetap menganggap hidupnya hanyalah sebuah lelucon. "Apa menurut mu hidup ku lelucon? Apa menurut mu rasa sakit ku adalah mainan...
