Pemakaman Ibu Monica pun usai tentu saja dengan di bantu banyak orang. Magisa nampak jauh lebih tegar, Ia bahkan mampu menerima semua tamu yang datang. Berbeda dengan Monica yang bahkan saat prosesi pemakaman terus jatuh pingsan. Di rumah Monica sedang di adakan pengajian, semua urusan rumah di ambil alih oleh Magisa,Denis dan juga Willy. Sedangkan Richard saat ini berfokus pada Monica yang masih nampak terpukul. Sudah seharian ini Monica tak juga berhenti menangis.
Richard merangkul Monica membiarkan Monica menangis dalam pelukannya. Richard mencoba menawarkan makan dan minum namun semuanya di tolak oleh Monica.
Pintu kamar Monica di ketuk dan tak berapa lam terbuka. Munculah Willy, Willy sudah akan mengatakan sesuatu kalau saja Richard tak mengingatkannya agar tak bersuara. Mengingat Monica yang baru saja terlelap.
Willy memberikan kode bahwa Ia ingin bicara dengan Richard. Richard mengaangguk mengerti, Ia pun dengan sangat hati-hati merebahkan tubuh istrinya di atas kasur lalu menyelimutinnya. Setelah di pastikan bahwa Monica masih terlelap Richard pun keluar dari kamar Monica.
...
...
Willy menunggu Richard di dekat pintu kamar Monica.
"Mommy dan Daddy akan pulang ke indonesia hari ini. Bagaimana kalau mereka tau kak?"
"Aku akan menemui mereka"
Willy menggelengkan kepalanya. "Keadaan Monica belum siap untuk menemui mereka."
"Aku akan menemui mereka sendiri" ucap Richard
Willy menatap Richard khawatir. "Biar aku yang lebih dulu bicara dengan mereka. Kaka bisa bawa Monica keluar dulu dari Indonesia"
"Dia tidak akan mau.. Aku akan menemuinya. Kabari saja, tahan mereka jangan sampai datang ke sini" ucap Richard
Willy menganggukan kepalanya.
"Aku akan menemani Monica. Kamu bantulah Magisa. Kalau butuh apapun langsung kabari aku"
Willy mengangguk lagi, Richard sudah akan pergi namun Willy menahannya. Ia memberikan satu buah marshmallow.
Richard tersenyum tipis. Ia menggelengkan kepalanya.
"Apa ini?"
"Kado pernikahan mu.."
"Oke..Aku terima. Thank you" ucap Richard mengambil marshmallow itu dan memakannya.
"Tolong jaga kaka ipar ku"
"Aku tau.. Jangan lupa Kaka ipar mu itu adalah istri ku." Ucap Richard
Willy masih berdiam di tempatnya. "Dia akan baik-baik saja kan. Aku khawatir sekali"
"Akan baik-baik saja. Sepertinya Magisa lebih membutuhkan bantuan mu."
Willy menganggukan kepalanya. Richard menepuk pundak Willy lalu masuk ke dalam kamar Monica lagi.
Richard sedikit terkejut melihat Monica yang sudah berdiri tak jauh dari pintu. Wajahnya nampak sangat pucat.
"Hei..kamu udah bangun?" Tanya Richard dan mendekat pada Monica.
"Apa aku egois? Apa aku tidak bisa menerima kenyataan?" Tanya Monica.
Richard tersenyum tipis dan akan menenangkan Monica.
"Jawab Aku Richard. Apa sikap ku akan semakin menyulitkan orang lain?" Tanya Monica
Richard membenarkan rambut Monica. "Aku minta maaf karna memaksa mu menikahi ku di saat seperti ini. Bukan kamu yang egois tapi aku"
Air mata Monica kembali terjatuh. Richard menghapus air mata Monica dengan lembut.
"Aku tau, aku tidak akan pernah bisa menggantikan keberadaan Mama. Aku bahkan bukan pria yang baik, tapi aku akan berusaha untuk membuat mu bahagia. Aku akan menjaga mu dan Magisa"
KAMU SEDANG MEMBACA
Turn (Never lose hope)
Fantasia"Sebutkan 3 permintaan mu" Monica tertawa sinis, Air matanya terjatuh bahkan disaat ia merasa sangat terpuruk orang lain tetap menganggap hidupnya hanyalah sebuah lelucon. "Apa menurut mu hidup ku lelucon? Apa menurut mu rasa sakit ku adalah mainan...
