Richard memiringkan tubuhnya menatap Risa yang terlelap di kursi sebelahnya. Ia tak melakukan apapun hanya terus menatap Risa sesekali Ia tersenyum. Tak pernah sekalipun Richard mengira bahwa dia akan jatuh cinta dengan seseorang. Ia tak menyangka hidupnya akan seindah ini. Ia pikir Ia hanya akan menikahi wanita yang tak Ia cinta lalu hidup dalam belenggu selamanya.
Risa mengulet gemas, membuat Richard tak tahan untuk tak tersenyum lebar.
"Kita dimana?" Tanya Risa dengan mata yang belum sepenuhnya terbuka.
"Pantai.." Jawab Richard yang belum merubah posisinya.
Risa menegapkan tubuhnya dan benar saja, tak jauh di depannya ada laut.
"Aku ingin mengajak mu ke pantai yang lebih bagus. Tapi terlalu jauh" ucap Richard.
Risa tersenyum senang. "Kamu tau dari mana aku suka pantai?" Tanya Risa yang langsung saja turun dari mobil Richard mengikuti Risa yang berlari mendekat ke arah pantai.
"Jangan lari sayang.."
Bukannya berhenti Risa justru berputar dan melompat kecil merasakan angin malam khas pantai.
"Hah.. Aku merasa seperti benar-benar bernapas" ucap Risa.
Richard tersenyum lagi dan berdiri di samping Risa.
"Apa kamu mermaid hmm?"
Risa menganggukan kepalanya. "Aku paling suka princess Ariel.. "
Richard menoleh kepada Risa. "Kenapa?" Tanyanya
"Hmm.. Entahlah. Aku mendadak mengerti alasanya meninggalkan keluarga dan alamnya demi sang pangeran" ucap Risa
"Terdengar seperti mu"
Risa tersenyum dan mengangguk. "Iya yah.."
"Aku ariel dan kamu pangerannya. Pangeran yang tidak ada di duniaku..Jadi aku harus berubah dan masuk ke dunia mu" lanjut Risa dan tersenyum geli. Richard ikut tersenyum melihat Risa yang kini benar-benar nampak bahagia.
Ia mengulurkan tangannya dan meletakannya di kepala Risa.
"Tidak, kamu bukan Ariel. Kamu adalah Risa. Ariel terluka karna tidak mendapatkan pangerannya. Tapi kamu mendapatkan ku. Jadi kamu bukan ariel."
Mata Risa tak bisa berhenti memandangi Richard. Lewat tatapanya Risa benar-benar ingin menyampaikan betapa Ia bahagia saat ini memiliki Richard di sampingnya.
Keberanian Risa muncul begitu saja, Ia mengecup pipi Richard.
"Terimakasih" ucap Risa
"Karna membawa mu ke pantai?"
Risa menggeleng, "lebih dari itu.. Karna sudah menjadi alasan aku bahagia."
Tangan Richard kini menangkup kedua pipi Risa.
"Ya.. Dan akan terus menjadi alasan mu untuk bahagia. Jadi janga berani meninggalkan ku kalau kamu masih ingin bahagia"
Risa mengangguk dan mendekap Richard, yang tentu saja di balas dengan suka hati oleh Richard. Mereka berdua menatap ke arah pantai yang ombak mulai sedikit tinggi.
"Kamu tidak ada rencana untuk melamar ku hmm?" Tanya Risa tanpa melepas pelukannya
"Tidak ada..kita menikah saja langsung kan kita sudah akan punya anak"
"Ish.. Pelit sekali. Tapi mau bagaimana lagi. Aku tetap akan memilih menikah dengan mu meskipun kamu tidak melamarku" ucap Risa dan mengeratkan pelukannya.
"Nah.. Bagus kalau begitu. Memangnya kamu ingin lamaran yang seperti apa?" Tanya Richard
"Hmm.. Di pantai, dinner, ada bunga, ada lampu-lampu. Lagu romantis, orang-orang tersayang. Pria yang berlutut dan meminta ku menjadi ibu dari anak-anaknya kelak.".
KAMU SEDANG MEMBACA
Turn (Never lose hope)
Fantasi"Sebutkan 3 permintaan mu" Monica tertawa sinis, Air matanya terjatuh bahkan disaat ia merasa sangat terpuruk orang lain tetap menganggap hidupnya hanyalah sebuah lelucon. "Apa menurut mu hidup ku lelucon? Apa menurut mu rasa sakit ku adalah mainan...
