Bab 34

3.6K 358 48
                                        

Mata Risa nampak sangat sembab, Ia sungguh sudah sangat lelah untuk menangis. Namun air matanya tetap tak berhenti setiap kali kenangannya akan hidup yang tak Ia jalani terus bermunculan.

Ia tak tau lagi bagaimana harus Ia ungkapkan perasaanya saat ini. Hatinya lebih dari sekedar sakit dan hancur.

Apa yang harus Ia lakukan jika Ia kembali? Bagaimana caranya Ia hidup dengan orang-orang yang menyakitinya begitu dalam. Lalu harus bagaimana Ia saat Ia bertemu Richard yang bukan miliknya lagi? Cintanya pada Richard sudah terlalu dalam.

Air mata Risa terus menetes, wajahnya sudah membengkak karna terlalu banyak menangis.

Ia mengerti mengapa Risa melakukan ini semua. Ia mengerti bagaimana sulitnya Risa bertahan hingga sampai berada di titik ini. Ia mengerti Risa marah. Tapi Ia sungguh tak mengerti bagaimana Risa bisa ingin melukai anaknya sendiri. Anak yang tidak memiliki salah apapun padanya. Ia sungguh tak bisa untuk tak membenci Risa. Bahkan meskipun Ia mengerti Ia tetap sangat membenci Risa. Ia tidak bisa lagi hidup sebagai Risa, betapapun Ia menyukai kehidupan Risa. Ia tak sudi hidup sebagai Risa. Terlalu biadab Risa menggugurkan anaknya sendiri hanya karna menurut Risa anak itu akan merusak jalan hidup Yang sudah Ia pilih. 

Tangan Risa menyentuh perutnya sendiri.  "Maafin mama, kamu pasti sangat kesakitan disana.. " ucap Risa pilu. Tidak sedikitpun Ia mengerti bagaimana seorang Ibu bisa menyakiti darah dagingnya sendiri. Menyakiti mahluk yang menyatu dalam tubuhnya sendiri.

"Maaf karna mama terlambat datang.." Suara Risa terdengar sangat gemetar.  Ia berusaha untuk tetap tegar di hadapan anaknya.  Ia tidak ingin terisak lagi meskipun sangat Sulit. 

Perasaan Risa semakin hancur entah mengapa Ia merasa bahwa anaknya benar-benar mendengar Dan meresponnya.  Ia merasa sedang di dekap penuh sayang oleh anak Yang pernah Ia coba untuk musnahkan.  Ia merasa tangan mungil kecil anaknya sedang menyentuh pipinya karna anak itu ingin Ia tau bahwa semua akan baik-baik saja. 

...
...

Ponsel Risa berdering, Perlahan Ia membuka matanya yang masih sembab. Tangannya terulur mengambil ponsel.  Satu panggilan dari Adele. 

Risa terduduk dan mengangkat panggilan itu.

"Selamat pagi bu, Ibu maaf menganggu. Tapi saya dan Dimas sudah ada di depan apa kami boleh masuk?"

*Ya*

Hanya satu kata yang bisa Ia ucapkan. Risa menutup telfonnya dan tak beberapa lama Ia mendengar suara pintu apartementnya terbuka.
...
...

Risa keluar dari kamarnya dengan tampilan Yang sudah rapi.  Ia tak ingin kedua orang tersayangnya itu menjadi khawatir karna wajah sembabnya. 

"Kalian sudah sarapan? "

"Belum bu" Jawab Dimas lugu yang langsung mendapatkan pukulan dair Adele.

Risa tersenyum melihat keduanya. "Kenapa kamu selalu memukul seketaris tampan ku Adele?"

"Tau tuh bu..!" Adu Dimas

"Abis dia ngga bisa profesional bu"

Risa tersenyum lagi dan mengusap Adele.

"Terimakasih sudah mendidiknya dengan sangat baik. Tetapi lain kali jangan terlalu keras dengannya dan dirimu sendiri" ucap Risa

Adele menatap Risa entah mengapa Ia merasa begitu sedih mendengar ucapan Risa.

"Well.. Aku akan membuat sarapan lezat untuk kalian. Sebelum kita melakukan perjalanan dinas terakhir ku dengan kalian" ucap Risa

"Terakhir?" Tanya Adele

Turn (Never lose hope)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang