Bab 63

3.9K 411 35
                                        

Suasana canggung pun tercipta di antara Monica dan Richard. Monica terus menggenggam gelasnya tanpa berani mengangkat kepalanya. Malu? tentu saja. Dia pasti sudah gila melakukan hal seperti tadi.

"Kamu sampai kapan menunduk seperti itu? Malu?"

"Tidak"

"Ah..harga diri mu hancur karna mengakui perasaan mu di muka umum?" Timpal Richard yang ikut duduk di sofa ruangannya.

Monica masih tak juga menjawabnya. Ia hanya ingin merutuki dirinya sendiri.

"Kita pesan makanan ya.. Aku belum makan. Sebenarnya aku akan mencari makanan tadi. Kamu mau makan apa?"

"Aku masakin aja ya" ucap Monica cepat. Tanpa persetujuan Richard Ia meletakan gelasnya dan berlalu meninggalkan Richard.

Richard hanya dapat tertegun di tempatnya. Lalu tersenyum geli melihat tingkah Monica.

...
...

Piring terakhir Monica letakan di atas meja makan dimana Richard sudah menunggunya sejak tadi.

"Di kulkas mu hanya ada bahan itu.. Jadi hanya itu yang bisa aku masak"

"Aku bahkan tidak ingat punya barang-barang ini, aku tidak tau aku punya beras"

Monica menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Emm.. Sepertinya itu sisa beras saat aku masak buat kamu beberapa bulan lalu"

"Oh waktu aku mabuk.. Apa ini masih bisa di makan?"

"Bisa kok.. Kan cuma beras. Aku juga menyimpan dengan rapi." Jawab Monica

"Kalau gitu duduklah aku tidak ingin keracunan sendiri" ucap Richard

"Aku udah nyicipin kok..jadi.."

Richard meletakan sendoknya dan menatap Monica lekat. "Maksud ku adalah aku meminta mu untuk makan bersama ku. Kamu pasti belum makan kan, aku pasti sangat menyebalkan hari ini. Jadi duduk dan makanlah"

"Emm..aku yang nyebelin.. Aku minta maaf" ucap Monica.

Richard mengangguk, Ia berdiri dari kursinya. Mendekat pada Monica lalu menarik kursi untuk Monica.

"Ayo duduk dan makan dengan ku" ucap Richard

Monica pun meneruti permintaan Richard. Richard kembali duduk di kursinya. Ia memberikan piring kepada Monica untuk di ambilkan Nasi.

"Aku suka melihat mu mengambilkan nasi untuk ku" ucap Richard

Monica pun menjadi grogi saat mendengar ucapan Richard.

Richard dan Monica mulai makan bersama. Nyaris tidak ada pembicaraan di antara mereka kalau saja Richard tak terus memulai.

"Masakan mu lumayan.. Aku jarang sekali makan-makanan rumah."

"Euhm.. Kamu selalu makan dari chef restauran bintang lima kan?"

Richard menganggukan kepalanya. "Bahkan di rumah ku ada cheff"

"Aku tau" jawab Monica dengan polosnya.

"Tau?" Tanya Richard

"Menduga lebih tepatnya" ucap Monica menutupi kebodohannya sendiri. Ia tentu saja tau apa saja yang ada di rumah Richard karna dia pernah tinggal di sana sebagai calon nyonya Mahendra junior.

Richard tak mencurigai apapun Ia hanya mengangguk dan melanjutkan makannya.

"Rich.."

"Hmm?"

Monica kembali terdiam,Ia tak tau ingin memulai dari mana.

"Apa?" Tanya Richard lagi.

Monica menatap Richard lekat. Sungguh tak ada satu hal apapum yang kurang dari Richard. Tampan,Mapan dan sangat mencintainya.

Turn (Never lose hope)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang