Tiga hari Yang mengkhawatirkan untuk monica dan manis untuk Richard berakhir sudah, dan kini mereka telah kembali menjalani hari-hari mereka. Namun tentu saja Yang telah terjadi tidak akan terlupa begitu saja, terutama Richard yang mencoba meyakinkan hatinya untuk menyukai Monica. Ia yakin ada yang harus Ia luruskan antara dirinya dan Risa meski Ia sendiri tidak tau apa. Hal itu lah yang membuat Richard terus menerus mengganggu Monica. Sebenarnya ia hanya ingin terus menerus melihat monica.
Richard mengetuk meja Monica, Monica mendongak menatap Richard.
"Ayo"
"Kemana pak?"
"Makan siang"
"Dengan saya?"
Richard menganggukan kepalanya.
"Tapi pak, saya harus menyiapkan berkas untuk rapat setelah jam makan siang?"
"Lalu kamu akan menunda makan siang? Lalu sakit dan menuntut perusahaan,hmm?"
Monica menatap Richard kesal Ia tak mengerti mengapa Richard selalu saja berpikiran buruk padannya.
"Saya tidak akan melakukan itu"
"Ya kalau gitu ayo makan siang"
Monica tak bisa menolak lagi, Ia pun berusaha untuk tersenyum meski kesal.
"Baik pak.. Saya rapikan ini sebentar"
"Saya tunggu di bawah. Jangan lama saya bukan supir mu!" Ucap Richard galak dan meninggalkan Monica.
Monica menahan diri untuk tak melempar Richard dengan apapun yang ada di mejannya.
Sedangkan Richard terus tersenyum ketika Ia tau bahwa Monica sangat kesal padannya. Entah mengapa hatinya terus merasa baik-baik saja di dekat Monica.
...
...
Monica telah sampai di Lobby,Ia pun sudah melihat mobil Richard di sana.
"Lama" jawab Richard dari kursi penumpang di depan.
"Maaf pak" jawab Monica. Richard mengulurkan kunci mobilnya dan memberikan kepada monica.
"Saya yang bawa pak?"
"Lalu siapa? Saya? Memangnya kamu siapa? Istri saya?"
Demi Tuhan Monica ingin mengubur Richard hidup-hidup saat ini juga. Namun Yang bisa Ia lakukan hanya mengangguk dan cepat-cepat ke kursi kemudi.
Sepanjang perjalanan tak ada pembicaraan antara mereka, karna Richard Yang terus sibuk dengan ipadnya.
Bahkan sampai makan siang tersaji di atas meja mereka pun Richard masih berurusan dengan Ipadnya.
"Bapak tidak makan?" Tanya Monica
"Oh..sudah datang ya" ucap Richard dan meletakan Ipadnnya. Lalu memakan makanannya,sedangkan Monica masih menatap Richard. Meski sempat kesal namun saat seperti ini Ia merasa kasihan pada Richard. Richard pasti sangat amat lelah,karna begitulah yang Ia tau dulu, belum lagi banyak orang jahat yang ingin menghancurkan Richard.
"Kenapa?"
Monica menggeleng namun Richard dapat menangkap raut wajah khawatir pada Monica. Raut yang membuatnya merasa sedih tanpa alasan.
"Makan, makanan mu kita kembali ke kantor secepatnya." Ucap Richard dan melanjutkan makannya. Monica pun ikut makan bersama Richard.
...
Monica merebahkan tubuhnya di atas sofa,yang tentu saja mencuri perhatian sang ibu yang sedang merapikan ruang tengah.
"Sudah pulang? Tumben cepet"
KAMU SEDANG MEMBACA
Turn (Never lose hope)
Fantasi"Sebutkan 3 permintaan mu" Monica tertawa sinis, Air matanya terjatuh bahkan disaat ia merasa sangat terpuruk orang lain tetap menganggap hidupnya hanyalah sebuah lelucon. "Apa menurut mu hidup ku lelucon? Apa menurut mu rasa sakit ku adalah mainan...
