"Bahagiamu juga bahagiaku."
Happy Reading❤❤
Suara burung berkicauan di pagar balkon kamarnya namun suara kicauan burung itu terdengar sangat indah sekali, udara segar pagi hari mulai memasuki cela-cela jendela kaca yang masih tertutup oleh gordeng berwarna hitam, cewek itu masih saja bergulat dengan bedcover kesayangannya sama seperti kemarin jam weker—nya kembali berdering namun lebih awal dari pada waktu biasanya.
Ayo bangun Vivi
Jangan bangun Vivi enak juga rebahan
Ayo bangun Vivi, semangat ingat masa depanmu
Jangan dengarkan omongannya, ayo tidur kembali
Duh bisikan para setan tidak terlihat di telinganya membuat tidur Diviana sangat terganggu. Lagi dan lagi jam weker itu kembali berbunyi membuat ia langsung saja memencat tombol deringnya lalu menaruhnya di tempat semula.
"Udah jam enam pagi, gua harus mandi terus habis tuh siap-siap sekarang juga," ucap Diviana lalu meraih handuk kesayangannya dan berjalan ke arah kamar mandi.
Beberapa menit kemudian Diviana sudah selesai membersihkan tubuhnya ia segera keluar dari dalam kamar mandi dengan menggunakan seragam sekolahnya. Ia segera bergegas pergi untuk membereskan mata pelajarannya setelah itu ia langsung saja memasukannya ke dalam tas kecil berwarna hitam. Diviana segera keluar dari kamarnya lalu berlari kecil menuruni anak tangga menuju meja makan.
"Selamat pagi bibi dan babeh, ayo di mulai sarapannya," ujar Diviana tersenyum manis.
"Iya neng Vivi, ini bibi buatin kamu roti tawar di kasih susu putih kesukaan kamu."
"Makasih bibi."
TIN... TIN... TINNN...
Beberapa menit kemudian suara kelakson mobil di halaman depan rumahnya terdengar sampai ke meja makan membuat Diviana segera menghabiskan roti tawarnya dengan lahap.
"Bibi, babeh aku duluan ya kalian berdua lanjutin aja sarapan paginya," ujar Diviana lalu bersaliman kepara keduanya secara bergantian.
"Iya hati-hati ya neng Vivi, semangat belajarnya. Jangan bolos-bolos dan bikin ulah lagi ya di sekolah!" ucap bi Inah tersenyum manis.
"Oke siap bibi," sahut Diviana lalu berlari kecil menuju halaman depan rumah.
"Andai aja ibu dan bapak masih bersama di rumah ini, mungkin mereka berdua bangga sekali melihat putri kecil mereka yang sudah tumbuh menjadi perempuan yang sangat kuat dan dewasa," ujar bi Inah menoleh ke arah suaminya.
"Iya benar tuh bu, bapak aja bangga banget sama neng Vivi."
"Udah yuk pak kita lanjut lagi kerjanya."
Diviana pergi berlari kecil menuju depan rumahnya, saat sudah sampai di tempat sudah ada Diviana yang sedang berdiri di depan teras rumahnya membuat Gibran segera keluar dari dalam mobilnya lalu menghampiri Diviana.
"Selamat pagi jelekku," ujar Gibran tersenyum manis dengan mata yang membentuk bulan sabit.
"Selamat pagi juga pangeran kodokku," balas Diviana membuat Gibran sempurna melototkan matanya.
"Eh— sembarangan aja lo kalo ngomong! Gua ganteng kayak Manurios gini lo bilang pangeran kodok!" sahut Gibran menatap Diviana yang hanya tertawa saja.
KAMU SEDANG MEMBACA
Crazy Couple✔
Fiksi Remaja"Gue suka gila-gilaan tapi gak pernah gila benaran!" Gibran Deonovean. "Bagi lo tapi beda bagi gue, kehidupan kita gak sama!" Diviana Frazetta. Keduanya, selalu membuat kehebohan karena aksi gila mereka. Bahkan, kini keduanya sudah resmi berpacaran...
