Chapter 16

757 31 0
                                        

"Menjadi pelindungmu di kala sedih melanda hati."
- Gibran Deonovean

Sinar matahari memasuki cela-cela gordeng kamar seseorang. Ia langsung terbangun dari tidur nyenyaknya dan melihat ke arah jam dinding yang berada di dekat bingkai foto dirinya untuk melihat ia segera meregangkan otot-ototnya di kasur.


Gibran lalu beranjak untuk duduk di pinggir kasur berusaha mengumpulkan nyawanya terlebih dahulu, Gibran segera berdiri lalu membuka gordeng kamarnya menyambut datangnya mentari pagi dengan tersenyum manis ia lalu menatap hamparan gedung pencakar langit di sekitaran apartemennya.

"Zetta nungguin gua apa enggak ya kira-kira di rumahnya atau dia udah berangkat ke sekolah," ucap Gibran sedang memikirkan Diviana.

Gibran segera duduk di sofa kamarnya lalu mengambil sekotak rokok dan pematiknya ia mulai menyesap rokok itu perlahan, lalu berdiri dari duduknya dan pergi mengambil baju yang berserakkan di lantai akibat tadi malam ia melemparnya ke sembarang arah.

Ia lalu mengambil amlop berisikan uang di saku jaketnya, Gibran berpikir sejenak mau di apakan uang sebanyak ini. Ia tersenyum kecil menaruh amplop itu kedalam lemarinya dan segera pergi ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya lalu memainkan game online selama berjam-jam lama ponselnya.

***

Dilain tempat ada Diviana, cewek itu masih saja menunggu kedatangan Gibran di teras rumahnya. Jam sudah menunjukkan pukul tujuh pagi sebentar lagi membuat Diviana memutuskan untuk bergegas pergi dengan menaiki gojek, karena Diviana berpikir jika ia mengendarai mobil ada kemungkinan bakal terlambat sampai di sekolah.

Sumpah demi apapun Diviana sangat kesal sekali pada Gibran, sebenarnya ada apa dengan cowok itu dan kerjaan apa yang sedang ia lakukan tadi malam sampai membuatnya tidak menjemput Diviana. Mungkin Gibran sedang kecapaian atau mungkin cowok itu masih tertidur pulas di apartemennya ah ia pusing sekali memikirkannya.

"Bang gojek bisa buruan lagi gak saya takut terlambat soalnya!" ucap Diviana membuat abang gojek itu menambahkan kecepatan motornya.

"Siap neng bentar lagi sampai kok!"

Beberapa menit kemudian setelah lamanya melintasi jalanan di Ibu Kota akibat terkena macetnya akhirnya motor abang gojek itu sudah sampai di depan halaman sekolah SMA Darma Bangsa membuat Diviana lalu turun dan memberikan beberapa lembar uang kepada abang gojek. Lalu berlari kecil memasuki gerbang sekolah, ia tak lupa juga menyapa pak Deden yang sedang berdiri di pintu masuk gerbang. Diviana berjalan kecil melewati ramainya koridor utama ia takkan biarkan dirinya terlambat masuk kedalam kelas hari ini.

"Woi Vivi tumben banget lo mau masuk ke kelas sepagi ini kan biasanya juga bolos!" sahut cowok itu membuat Diviana menoleh ke arahnya, lebih tepatnya ke Ragil.

"Sibuk banget lo jadi orang Ragil, suka-suka gualah ini hidup gua kenapa lo yang ribet!"

"Ya maaf sih Zetta gua kan cuma terheran-heran aja sama lo kok tumbennya masuk ke kelas sepagi ini."

"Bodo amat gua gak perduli Ragil terserah lo aja deh sana!" ujar Diviana lalu duduk di bangkunya.

"Vi lo lagi marahan tah sama sih Gibran kok hari ini berangkatnya sendirian!" celetuk Amira membuat Diviana menggelengkan kepalanya kecil.

Crazy Couple✔Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang