"Waktunya melepaskanmu."
Happy Reading❤❤
Motor ninja milik Gibran sudah sampai disalah satu warung bubur kacang ijo, keduanya segera turun dari motor dan memasuki warung bubur, aroma bubur kacang ijo berhasil membuat cacing di perut Diviana berdemo.
"Astagfirullah udah di demo aja!" celetuk Gibran membuat Diviana memukul pelan lengannya.
"Apaan sih, Deo."
"Yaelah pake acara gak mau ngaku segala lagi nih anak hahaha."
"Gak lucu tau."
"Yaudah deh iya gua pesanin dulu bubur kacang ijonya."
"Nah gitu dong udah tau laper pake acara masih ditanya-tanya segala."
"Pak bubur kacang ijo dua ya!" ujar Gibran membuat bapak itu mengangguk kecil.
"Iya mas."
"Sabar ya cacing lagi dipesenin tuh bubur kacang ijonya hahaha!" ucap Gibran lalu terkekeh kecil.
"Gua tabok lo, Deo."
"Tabok aja nih nih gak bakal kerasa juga tabokannya hahaha."
"Nah ngesok banget lo ya, gua tabok juga nih pake jurus seribu bayangan."
"Duh jangan geh nanti sakit tau."
"Tadi katanya gak akan sakit terus kenapa sekarang malah ngeluh takut kesakitan."
"Ya kan gak sakitnya mah, kalo di pukul dengan sejuta kerinduan."
"Apaan sih lo alay banget jadi cowok."
"Astagfirullah gini banget punya mantan!" ucap Gibran membuat Diviana terdiam.
"Ini bubur kacang ijonya mbak masnya."
"Makasih pak."
Mereka berdua langsung melahap bubur kacang ijonya, Gibran lagi-lagi melirih ke arah Diviana yang masih sibuk memakan bubur kacang ijonya. Namun Diviana tak sengaja menatapnya membuat Gibran lalu membuang wajahnya ke arah samping ya Tuhan malu sekali dirinya. Tiba-tiba ponsel Gibran menyala menandakan ada telepon masuk dari seseorang.
"Davina," gumam Diviana tak sengaja melihat layar ponsel Gibran.
"Sebentar gua angkat dulu telponnya."
"Iya gapapa Deo."
Gibran lalu beranjak pergi dari bangkunya ia memilih unfuk telponan dengan Davina diluar warung bubur kacang ijo. Tak lama kemudian bubur kacang ijo milik Diviana sudah habis, setelah selesai Gibran segera masuk kedalam warung itu ia lalu duduk ditempatnya tadi.
"Ada apa?" tanya Diviana membuat Gibran diam seribu bahasa ia bingung ingin jujur atau tidak sama sekali.
"Davina nyuruh gua untuk pulang katanya ada hal penting yang mau diomongin sama keluarga gua dan keluarga dia."
"Yaudah lo pulang aja."
"Tapi gimana dengan lo?" tanya Gibran lalu menatap lekat wajah Diviana.
"Gua mah gampang, gak usah dipikirin."
"Yaudah kalo gitu gua pulang duluan ya!" ucap Gibran lalu membayar bubur kacang ijo mereka berdua.
"Iya Deo hati-hati ya dijalan jangan ngebut-ngebut ngendarain motornya."
KAMU SEDANG MEMBACA
Crazy Couple✔
Roman pour Adolescents"Gue suka gila-gilaan tapi gak pernah gila benaran!" Gibran Deonovean. "Bagi lo tapi beda bagi gue, kehidupan kita gak sama!" Diviana Frazetta. Keduanya, selalu membuat kehebohan karena aksi gila mereka. Bahkan, kini keduanya sudah resmi berpacaran...
