"Nyaman, satu kata saat berada di dekatmu."
Diviana masih nyaman berada di pelukan Gibran, hujan masih turun dengan deras. Suara gemuruh petir masih terdengar keras di telinganya. Gibran sama sekali tak ingin melepaskan pelukannya.
"Deo gua takut hiks," gumam Diviana semakin mengeratkan pelukannya.
"Sama hujan kok takut giliran sama gua gak takut nyebelin banget lo Zetta!" tukasnya.
"Bisa gak sih! Jangan ngajakin gua debat dulu tau lagi ketakutan."
"Gak bisa, kenapa memangnya hahaha."
"Deo dingin, gua gak suka!" lirihnya.
"Terus kalo dingin gua harus apa? Bakar api unggun atau peluk lo yang erat sampai mati gitu?" tanya Gibran dibalik pelukan mereka.
"Ih nyebelin banget lo jadi cowok, gua memang gak suka sama hujan tapi ada yang lebih gak gua suka, yaitu lo!" sarkasnya.
"Lo tunggu disini ya jangan kemana-mana, gua mau ke kelas dulu!" ujar Gibran lalu melepaskan pelukannya dan pergi meninggalkan Diviana.
Hujan turun semakin deras membuat udara semakin dingin. Diviana memeluk tubuhnya sendiri, suara gemuruh petir benar-benar memenuhi langit.
Diviana bersembunyi dibawah meja sambil menutup kedua telinganya menggunakan telapak tangan. Sumpah ia benar benar takut.
"Gua takut hikss, Deo lo kemana sih tega banget ninggalin gua sendirian disini hikss!" lirih Diviana semakin menangis histeris.
Dimas memberikan kode pada Gibran, agar tak masuk kedalam kelas. Karena didalam ada guru yang sedang mengajar dan Dimas bosen melihat Gibran yang selalu dihukum lari keliling lapangan sekolah.
"Tolong ambilin hoodie gua di dalam tas!" titah Gibran dengan bahasa isyarat.
"Oke tunggu disitu aja!" ujar Dimas tentunya saja menggunakan bahasa isyarat.
"Pak saya izin buang sampah ya!" ucap Dimas meminta izin.
"Yaudah silahkan."
Dimas lalu menghampiri Gibran, "Nih hoodie lo, heran gua sama lo kerjaannya bolos terus!" ujar Dimas memarahi sahabatnya.
"Ada hal penting yang harus gua kerjain diluar kelas, udah sana belajar lagi biar pintar! Gua pergi dulu!" sahut Gibran berlari meninggalkan Dimas.
"Terserah lo aja, emang gak ada berubah-berubahnya lo!" ujar Dimas menggelengkan kepalanya lalu masuk kedalam kelas.
Gibran berlari terburu-buru ke tempat tadi saat ia meninggalkan Diviana. Namun sampai di tempat itu ia tidak mendapati keberadaan Diviana di sekeliling itu, membuatnya langsung terdiam tiba-tiba.
"Zetta!" panggil Gibran sedikit berteriak lalu mendengar suara grasak-grusuk dari belakang tepat ia berdiri.
"De—Deo gua ada disini di bawah meja," ucap Diviana memanggil Gibran, langsung saja membuat Gibran lalu menundukan kepalanya.
"Astagfirullah Zetta! Lo benar-benar ya, ngapain lo pake nyumput segala di kolong meja! Lo kira ini lagi ada gerhana bulan apa!" pekik Gibran mengomeli Diviana habis-habisan.
Pengen sekali rasanya Diviana memberikan racun tikus ke mulut Gibran. Ia lagi ketakutan begini masih saja diomelin habis-habisan emang cocok lo jadi emak-emak rempong.
"Ayo gua bantu lo keluar dulu!" ujar Gibran mengulurkan telapak tangannya.
"Enggak mau, diluar masih hujan dan gua takut kalo nanti ada petir lagi!"
KAMU SEDANG MEMBACA
Crazy Couple✔
Roman pour Adolescents"Gue suka gila-gilaan tapi gak pernah gila benaran!" Gibran Deonovean. "Bagi lo tapi beda bagi gue, kehidupan kita gak sama!" Diviana Frazetta. Keduanya, selalu membuat kehebohan karena aksi gila mereka. Bahkan, kini keduanya sudah resmi berpacaran...
