16. Kesal

1.2K 82 3
                                        

Pagi yang cerah, secerah hati Laura. Laura tak melupakan betapa senangnya Rayhan tak sarapan bersamanya. Lihatlah, sekarang mereka hanya makan berdua.

Bunda dan Laura.

Tak ada lagi Laura yang merasa dicuekin. Tak ada lagi Bunda yang terus menggodanya. Tak ada lagi Rayhan yang menatapnya dengan tatapan bunda lo udah dipihak gue, gimana?

"Kok Rayhan gak dateng dateng ya? kita udah hampir selesai lho sarapannya" ujar bunda kebingungan karena tak tau apa yang terjadi semalem.

"Ah mungkin kesiangan kali bun" balas Laura dengan sedikit menutupi kesenangannya. Bisa bisa bunda nya menanyakan sesuatu jika dia terus saja tersenyum seperti orang gila.

"Kamu gak lagi marahan kan?"

Laura menggeleng sebagai jawabannya. Dia pun segera menghabiskan makanan nya.

"Ah iya bun. Aku mau bawa bekel dong" ucap Laura yang mengingat kesepakatan semalam.

Bunda menyergit, "Lah ini kamu kan udah makan, ngapain bawa bekel lagi?"

Laura bingung ingin membalas apa. Tidak mungkin dia bilang Buat Rayhan bun. Dia gak sarapan bareng lagi karena aku sama dia udah buat kesepakatan.

Bisa bisa terjadi peperangan disini.

"E- Anu. Itu- Bianca. Ya! Bianca minta bawain bekel karena katanya dia telat. Dia baru bangun sekarang jadi ga sempet sarapan. Dia minta tolong aku deh buat bawain bekel"

Ah jenius banget lo ra

"Ohhh. Bunda kira buat Rayhan"

Kenapa naluri seorang ibu selalu benar?

"Yaudah bunda siapin deh. Nasi goreng ini gapapakan?"

Laura mengangguk sebagai jawaban.

Telor tikus juga gapapa bun. Laura akan dengan senang hati memberikannya kepada Rayhan.

Setelah selesai sarapan, Laura pun berangkat.

"Ah, kamu sama sopir berangkatnya?" tanya bunda yang kebingungan karena sampai sekarang Rayhan tak kelihatan lobang hidungnya.

"Iyalah bun" jawab Laura dengan mantap.

Bunda nya heran, ada kejanggalan disini.

"Kamu beneran gak lagi marahan kan Ra?" selidik bunda.

Laura menghembuskan nafasnya dengan sabar.

"Enggak bun. Mungkin Kak Rayhan kesiang—

"Pagi tante"

Laura membulatkan matanya.

Suara Rayhan.

Kok dia dateng sih?

Dia ngibulin gue?

"Ah akhirnya yang ditunggu tunggu. Kamu pasti kesiangan sampe gasempet sarapan bareng" bunda menghampiri Rayhan yang kini tengah di depan pintu.

Laura mengikutinya, dan tak lupa membawa bekal untuknya.

"Ah iya tante, Rayhan kesiangan" bual Rayhan.

Rayhan sengaja datang agak siang karena menghindari sarapan bersama dan menikmati bekal dari Laura tentunya.

"Yaudah kalo gitu bunda siapin bekel ya buat kamu?"

"A—ah gausah tante" Rayhan melihat bekal di tangan Laura. Dia pun tersenyum senang.

"Rayhan udah bawa bekel ko disiapin mama"

LAURATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang