VOYAGE ; 1.2

2.4K 303 6
                                        

Bagi Danusa yang akan merasakan rasa bersalah seumur hidupnya setelah banyak yang terjadi akibat keegoisannya sebelum insiden tiga bulan lalu... adalah wajib adanya membenahi semuanya. Melihat Nora sudah pulih, dan usaha perempuan itu untuk kembali berjalan normal Nusa bahagia. Seumur hidupnya, dia baru menyadari jika dirinya begitu jahat dengan membiarkan Nora berjalan sendirian selama perempuan itu hamil. Sekarang saat semuanya tidak ada apa-apanya, Nusa justru merasa harus mempertanggungjawabkan segalanya.

"Kamu di sini?" Daniyara melihat heran pada putra keduanya. "Ngapain, Sa?" tanya Daniyara menekan suaranya yang jelas sekali tidak menginginkan adanya keributan lain.

Wanita yang sudah melahirkan tiga putra dengan masing-masing kekurangan dan kelebihannya itu menarik lengan Nusa agar menjauh dari pintu ruangan terapi Nora. Keluar, mereka berhadapan dengan mata menajam Daniyara yang menjelaskan pada Nusa agar menjauh dari jarak pandang Nora.

"Mama udah bilang, kan--"

"Nusa nggak mau, Ma! Nusa nggak mau menuruti mama untuk kali ini."

Daniyara menghela napas dengan berat. Sekarang matanya mulai berkaca-kaca. Hidupnya sudah tak lagi tenang dan bisa bahagia saat putra keduanya menghancurkan segalanya. Tak mau menuruti kesekian kali ucapannya. Danusa bahkan tak sadar jika kali ini  yang dirinya sebut sudah berulang kali dilakukan.

"Danusa... kenapa kamu sangat keras kepala??? Bukannya kamu sudah tahu risiko dari semua kekeras kepalaan kamu ini? Kamu nggak puas membuat hidup seorang perempuan rusak? Apa kamu nggak sadar, kami semua kehilangan salah satu sinar yang ditunggu... karena  ka--"

"Tante Dani!" Teriakan Nora membuat kalimat Daniyara terhenti.

Nusa mengubah tatapannya dengan wajah penuh dengan ekspresi bahagia yang ia miliki, dibandingkan dengan tatapannya pada sang mama sebelumnya yang menerangkan betapa putus asa dirinya. Putus asa dengan semua yang menyerang batinnya saat ini.

Membalikkan badannya, Daniyara membentuk senyuman. "Hai! Udah selesai terapinya?"

Dengan wajah semangatnya, Nora mengangguk. Masih menggunakan kursi roda yang sebenarnya tidak dia butuhkan jika saja seorang Danusa tidak merusak sesuatu yang sedang berkembang dan membuatnya hilang. Bukan hanya satu kehilangan, tetapi dua.

"Hai, Ra."

Nora agak bingung menjawabnya karena kejadian tiga hari yang lalu masih membekas dibenaknya. Danusa yang marah dan mengatakan bahwa Nora berbohong dengan semua kejadian terakhir yang diingatnya adalah pertama kalinya perempuan itu melihat Nusa yang berteriak hingga otot lehernya bergitu terlihat.

"Hai... Nusa."

Melihat situasi canggung yang keduanya lakukan, Daniyara membuat gerakan cepat untuk mendorong kursi roda yang digunakan Elnora segera berjalan menuju ruangan perempuan itu berada. Daniyara tidak berniat membuat pembicaraan tersebut lebih lama lagi karena dia akan semakin sedih jika melihat Nora dan Nusa berada di tempat yang sama. Hanya mengingatkan Daniyara pada bayi yang harus mereka ikhlaskan pergi.

Danusa mengamati bagaimana sang mama bergerak cepat dan meninggalkannya begitu saja dibelakang. Menarik pembicaraan dengan Nora hingga perempuan itu tidak sadar jika Nusa ingin lebih lama lagi berbicara dengannya.

"Elnora... aku akan menebus semuanya."

*

"Tante marah sama Nusa?"

Gerakan tangan Daniyara terhenti menyuapi Nora. Perempuan yang seharusnya bisa menjadi menantunya, justru harus melupakan masa lalunya sendiri yang sungguh menyedihkan. Nora bahkan tidak ingat jika dirinya pernah mengandung dan dicampakkan oleh sahabatnya sendiri, yang seharusnya menjadi pihak bertanggung jawab atas bayi itu. Sayangnya, Daniyara tidak mampu mengungkapkan fakta tersebut karena menyatakan hal itu hanya akan membuat Nora merasakan sakit luar biasa.

"Tante nggak marah sama Nusa." Kata Daniyara, menyuapkan kembali bubur tanpa rasa dari rumah sakit pada Nora.

"Tapi tante nggak ngajak ngomong Nusa dari tadi."

Terang-terangan Daniyara menghela napasnya kuat, membuat Nora paham bahwa tidak seharusnya dia membuat mama dari sang sahabat marah. "Maaf, Tante... kita ganti pembahasan aja, deh. Hehe."

Nora... kenapa kamu baik sekali dengan semua yang sudah terjadi? Andai kamu ingat, mungkin kamu nggak akan sudi manggil tante lagi.

"Tante bengong lagi."

"Hm?"

Nora mengambil lengan wanita itu dengan lembut. Dia hantarkan rasa sayangnya pada Daniyara. "Makasih, ya, Tante udah mau ngurusin aku di sini. Kalo nggak ada tante, aku nggak tahu aku bakal gimana."

Setelah usai dengan jadwal makan malamnya, Daniyara menyuruh dengan tegas agar Nora istirahat. Bahkan wajah lelap Nora sudah bisa dipastikan nyenyak setelah beberapa menit wanita baya itu mengusap kening Nora.

"Bahkan Nusa selalu menolak permintaan kamu untuk mengusap kening begini. Maafin mama yang nggak bisa jaga kalian. Maafin mama yang membuat cucu mama sendiri harus pergi."

"Bukan salah mama."

Daniyara tahu suara siapa itu. Dibiarkannya saja Danusa bicara.

"Itu semua salah Nusa, Ma. Jangan meminta maaf sama apa yang bukan salah mama." Kata Nusa dengan lugas.

"Kalo kamu tahu itu salahmu, berhenti mendekati Nora. Kamu hanya akan menimbulkan sakit berlebih padanya."

Tanpa membangunkan si objek pembahasan, Nusa membalas, "Nggak bisa, Ma. Nusa akan menebus segala yang sudah Nusa rusak dalam hidup Elnora."


Voyage#2 | TAMAT|Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang