"Pedulimu yang terkadang membuatku salah mengartikan apa maksudnya.
-----------------------------------------------------
BAGIAN XLVII
•
•
•
-Only You-
"Aduh geulis makanya kalau nyebrang teh hati-hati atuh neng."
"Luka kamu meuni banyak pisan ini."
"Untung cuma lengan, coba kalau di kaki atau yang paling parah di kepala? Ih mama gak bisa bayangin nanti keadaan kamu teh gimana."
Keyla memutar bola matanya malas sekaligus menatap mamanya dengan pandangan geli. Dari awal cewek itu memasuki rumah, mamahnya tidak ada henti-hentinya untuk mengoceh.
"Mama lebay, Keyla gak kenapa-kenapa."
"Gak kenapa gimana. Trus ini apa namanya sampe berdarah-darah gini? Ini darah neng bukan cat air."
Kirana dengan telaten membersihkan luka Keyla sembari tak henti-hentinya mengoceh.
Keyla terkekeh pelan mendengar kalimat terakhir dari mamahnya. Mamahnya ini kalau sudah ngomel-ngomel seperti ini rasanya lucu dimata Keyla. Entahlah, Keyla menyukai jika mamahnya khawatir seperti ini, meski sedikit terkesan berlebih tapi itu artinya mamahnya sayang padanya.
"Ini terakhir ya, mama gak mau liat kamu kaya gini lagi," ujar Kirana setelah menutup kotak P3K.
Tangan kanan Keyla memberi hormat. "Siap mamahku sayang."
"Papa udah berangkat ya, Ma?" tanya Keyla ketika Kirana hendak beranjak dari duduknya.
"Iya, kurang lebih dua jam yang lalu. Kenapa?"
Keyla menunduk lesu. Kirana yang paham lantas mengelus pelan rambut putrinya itu.
"Papa cuma satu hari setelah itu kamu bebas liburan sepuasnya sama papa," ujar Kirana membuat Keyla mendongak menatap mamahnya.
Kirana mengangguk, tersenyum lembut. "Papa ambil cuti tiga hari."
"Emang boleh Ma? Papa kan sibuk terus sama kerjaannya, nanti yang ada batal lagi."
"Enggak, papa udah pastiin itu."
"Serius Ma?!" Keyla menatap mamahnya tak percaya.
"Iya sayang. Yaudah gih kamu ganti baju terus langsung ke meja makan ya."
Keyla mengangguk. Perempuan itu langsung mengambil langkah pergi ke kamarnya dengan antusias. Moodnya berubah 180° dari pagi tadi.
-Only You-
"Fer, lo bener suka sama Keyla?"
Shireen menaruh gelas berkakinya di atas meja bar. Sekarang perempuan itu sedang berada di rumah Fery, lebih tepatnya di dapur dan posisinya saat ini berhadapan dengan Fery hanya terhalang meja bar.
"Kenapa lo tanya gitu," ujar Fery sedikit mendongak menatap Shireen karena posisi dirinya duduk sedangkan Shireen berdiri.
"Ya wajarlah gue nanya gitu. Tiap hari gue hampir ngeliat lo berdua terus sama dia."
Fery kembali menengguk minumannya. "Pikiran lo terlalu jauh."
"Lo sadar gak sih Fer, sikap lo itu beda tau gak ke dia. Perhatian lo juga beda."
"Perasaan lo aja kali."
"Lo suka sama dia?" tanya Shireen memincingkan matanya.
"Jangan ngaco."
KAMU SEDANG MEMBACA
Only You. [END]
Teen Fiction[FOLLOW DULU BIAR LEBIH NYAMAN DI BACA] [Baca dulu sampai part 10 siapa tau betah^•^] -Only You- "Kak, hidup itu pilihan. Kakak gak bisa dapetin semuanya. Pilih aku atau dia?" "Tapi gue gak bisa milih. Dia bukan pilihan...
![Only You. [END]](https://img.wattpad.com/cover/163940174-64-k770048.jpg)