57. Permintaan Maaf

352 34 1
                                        

"Tidak ada yang bisa menghentikan atau menentukan akan dengan siapa kita menaruh hati. Jatuh cinta adalah pilihan, rasa sakit itu konsekuensi, dan bahagia adalah bonusnya."

---------------------------------------------------
BAGIAN LVII


-Only You-

Pertengkaran kemarin benar-benar membuat Keyla masih merasa kesal dan malas dengan Fery. Ada sekitar 20 panggilan dan 30 chat dari cowok itu yang tidak Keyla jawab atau respon sama sekali. Bahkan call nya juga perempuan itu rejeck.

Demikian juga di rasakan oleh Fery. Rasa bersalah menyelimuti cowok itu ketika tiba di rumah sampai semalam dia menghubungi Keyla berniat untuk meminta maaf namun tidak ada respon yang dia dapatkan dari perempuan itu. Dan sekarang di sekolah, Fery berniat menghampiri kelas Keyla ingin berbicara sekaligus meminta maaf atas perkataannya kemarin.

"Woi Fer!" panggil Dimas dari ujung lorong deretan kelas sebelas. "Mau kemana lo? Kelas kita kan di atas," katanya.

"Samperin Keyla," jawab Fery. Membuat Dimas mendekat setelahnya.

"Widiehhh mentang-metang udah ada status baru ngapel tros," cibir Dimas.

"Lo ngapain disini?" tanya Fery.

"Biasa cuci mata lah cari yang seger-seger disini mumpung masih pagi," ujar Dimas lalu cowok itu menunjuk ke arah Asep dan Rafi yang sedang sibuk menggoda beberapa siswi yang lewat. "Tuh ada Asep sama Rafi juga, emang si Asep gak ada puasnya udah dapet yang bening masih aja tepe-tepe."

Fery menoleh sebentar pada dua temannya lalu pada Dimas. "Gue duluan," pamitnya yang di angguki langsung oleh Dimas.

"Yoi."

Fery membawa kakinya menjauh dari Dimas ingin segera menemui Keyla, rasanya cowok itu tidak tenang sebelum menemui Keyla dan meminta maaf.

Namun belum sampai di depan kelas perempuan itu, langkah kaki Fery justru kian melambat saat matanya menangkap sosok Keyla dan David yang sedang berbicara berdua di depan koridor kelas cewek itu.

"Gue minta maaf yah soal kemarin," ujar Keyla, cewek itu tidak enak hati karena ulah Fery kemarin membuat beberapa wajah dan sebagian tubuh David terluka.

David terkekeh pelan menanggapinya. "Gue yang harunya minta maaf. Lo sama Fery pasti lagi berantem gara-gara gue."

Keyla menggeleng kecil. "Cuma salah paham aja kok," ujarnya.

"Tapi kalau boleh jujur rasa gue masih tetep sama ke lo Key." David menatap kedua mata perempuan di depannya itu dengan serius. Sebelah tangannya memegang tangan kanan Keyla dengan lembut.

"Gue masih suka sama lo walaupun lo mungkin udah nolak gue."

"Kak tapi—" Keyla berusaha menarik tangannya dari genggaman David tetapi cowok itu kembali menariknya.

"Gue tau. Gue tau kalau lo udah sama Fery, musuh gue tapi gue gak bisa berhenti buat suka sama lo Key. Dan gue akan nungguin lo sampai kapanpun, gue orang pertama yang akan ada di depan lo saat lo dan Fery putus nanti." David lantas mengelus singkat pucuk rambut Keyla dengan sangat lembut. Meski lembut namun hal itu rupannya membuat Keyla sedikit risih dan tidak nyaman. Perempuan itu mulai bangkit dari duduknya.

"Gue duluan kak," pamit Keyla, cewek itu pergi ke dalam kelasnya.

Fery yang menyaksikannya sedari tadi hanya diam menatap nyalang pada objek di depannya itu. Kedua tangannya mengepal sempurna di kedua sisi celana abu-abunya membuat buku-buku jari cowok itu memutih karena terhentinya aliran darah, urat dan otot-ototnya pun tercetak jelas pada punggung telapak tangannya

Only You. [END] Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang