Mengawali harinya, Hastu bangun dan sholat subuh. Meski kedinginan karna ac semalaman, cowok itu enggan untuk meninggalkan ibadahnya. Ia pun masih berusaha membangunkan Rafa agar ikut sholat subuh.
"Subhanallah, Allahuakbar!!! Ni bocah tidur apa pingsan sih, susah bener bangunnya!" Gerutu Hastu.
"Raf! Bangun, Raf!" Hastu masih berusaha.
"Rafa!!"
Rafa tak sedikitpun bergeming dari ranjangnya. Cowok itu makin menenggelamkan wajahnya dibawah bantal.
Kesal, Hastu pun memilih membuka kembali barang-barang reparasinya. Hastu menggeluarkan semua benda yang belum selesai ia kerjakan. Hingga jam menunjukan pukul 06:00 pagi. Rafa bangun dengan mata masih terpejam. Tanpa sadar ia menendang jam weker kesayangan Hastu hingga pecah lagi.
"Rafa! Ya Allah, Raf. Jam gue." Cerocos Hastu.
"Apaan sih? Gue mo ke kamar mandi. Minggir gue mo lewat." Ucap Rafa.
"Lo gak sadar, udah nendang jam gue sampe ancur gini? Ah elu." Hastu bangkit memungut kembali jamnya.
"Ya sorry, gue masih merem tadi." Ucap Rafa. Hastu tak menyahuti.
"Lo marah?" Tanya Rafa tak enak.
"Kagak, udah~buruan mandi." Perintah Hastu.
"Gue ganti deh entar, yang mirip persis kek ini." Bujuk Rafa.
"Beneran gue gak apa-apa. Udah sono buruan mandi."
"Beneran?"
"Iya."
Rafa bangkit menuju kamar mandi sementara Hastu masih mengumpulkan pecahan-pecahan jam wekernya.
"Maaf mak." Ucap Hastu lirih.
####
Meski enggan, Hastu tetap mengiyakan keinginan Rafa dan Ayahnya. Cowok duduk dilantai depan, menunggu Rafa yang tak muncul-muncul.
"Astaga! Lo knapa duduk nglesotan gitu! Baju lo kotor!" Ucap Rafa heboh.
"Lantainya bersih kok, baru aja selesai dipel sama mbok Yem." Ucap Hastu.
"Ya tetep aja duduk dilantai itu kotor-"
"Gue sendiri yang ngepel, jadi udah gue pastiin udah bersih." Potong Hastu.
"Lo? Ngepel?" Ulang Rafa takjub.
"Iya lah, nungguin elo sampe lumutan kagak nonggol-nonggol, yaudah mending ngepel sekalian." Gerutu Hastu. Rafa hanya nyengir kuda.
"Yokk brangkat." Ajak Rafa sembari merangkul bahu Hastu.
"Jalan kaki, kan?" Tanya Hastu polos. Rafa menoleh. Menatap tak percaya pada sepupunya itu.
"Lo mo jalan kaki?" Tanya Rafa balik.
"Ya terus gimana?" Tanya Hastu lagi. Rafa menghela nafas.
"Lo yang bener aja, sekolah kita gak sedeket sekolah lo yang cuman naek sepeda aja udah nyampek!" Rafa gemas sendiri.
"Naik angkot?" Tanya Hastu. Rafa menghampirinya lalu kembali merangkul bahu Hastu. Jari tangannya menunjuk satu arah.
"Noh." Rafa menunjuk mobil ayahnya yang berjajar rapi.
"Tinggal pilih."
Hastu terdiam. Rautnya kembali berubah. Terbayang kembali dinginnya Ac semalam.
"Mo pake mobil yang mana?"
"Terserah lo aja. Tapi sehari ini doang gue ikut naik mobil sama lo." Putus Hastu. Rafa mengerutkan dahi.
"Why?" Tanya Rafa.
KAMU SEDANG MEMBACA
Langit dan Senja [complete]
Teen FictionMy fifth story😍. Sequel Devano. Baca yakk. Mei, 03, 2020 Cover by: me "Langit punya semuanya. Ia tak pernah kehilangan senja, fajar, matahari, bulan dan bintang. Ia setia menunggu senja datang menghiasi hari sorenya hingga malam menggantikan warna...
![Langit dan Senja [complete]](https://img.wattpad.com/cover/223461243-64-k449881.jpg)