"Pa!!!!" Teriak Ajeng membuat gempar seisi rumah.
"Diem kek, abang minta maaf." Mohon Akmal.
"Gak mao! Abang jahat! Aku laporin sama papa!" Ancam Ajeng.
"Abang kan gak sengaja, kan juga udah minta maaf."
Ajeng memutar otak.
"Oke Ajeng maafin, tapi ada syaratnya."
"Apa?" Tanya Akmal malas.
"Hari ini, Ajeng mo jalan."
"Sama siapa? Cowok? Awas ya kalo jalan sama cowok! Aku aduin ke mama!"
"Ya knapa ganti abang yang ngancam sih! Kan belom kelar Ajeng ngomongnya!" Ucap Ajeng kesal.
"Yaudah."
"Ajeng mo jalan ke mall, tapi pengen sendirian. Gak sama abang, gak sama Gibran juga gak sama Angga." Pinta Ajeng. Akmal menghela nafas panjang.
"Adek kan tau, abang disuruh jagain adek. Kalo ada apa-apa, tar abang yang kena."
"Sekali iniiiiii aja bang. Adek jenuh tau, tiap pergi kemana-mana dikintilin tiga cowok sekaligus, yang ada mereka-mereka mikirnya adek ini cewek aneh. Masa iya, ke mall bawa pacar tiga sekaligus."
"Tapi kan, kita bertiga bukan pacar-"
"Nah mangkanya!" Potong Ajeng.
"Boleh, ya? Ya ya ya ya?" Mohon Ajeng dengan mata berbinar. Akmal tak bisa menolak keinginan adiknya itu.
####
Rahajeng dan Akmal Wijaya, mereka baby twins dari pasangan Deva dan Vano.
Rahajeng, atau kerap dipanggil Ajeng, cewek super ceria yang tak bisa diam. Perfectionist, manja, baik, cantik, dan apapun yang diidamkan para kaum hawa, Ajeng memilikinya. Meski semua cewek iri akan kehidupannya, tapi Ajeng tetap punya batasan. Ada satu hal yang terkadang sangat sulit Ajeng dapatkan. Terkadang ia harus memohon, mengancam atau bahkan mengorbankan sesuatu hanya untuk kebebasannya dari ketiga ajudan kedua orangtuanya.
Hal yang wajar jika seorang ayah menginginkan hal yang terbaik untuk putri kesayangannya, tapi membatasi kebebasan membuat Ajeng iri pada mereka yang iri dengan kehidupannya.
"Dikira enak kali ya? Mereka gak pernah aja jadi gue, mo jalan ijin ampe moon moon, jalan kemana, sama siapa, cewek ato cowok kah, beli apa, penting kagak, kalo gak penting nitip ato online aja, yakali gue ini burung dalam sangkar!" Gerutu Ajeng.
"Sabar, tar cantiknya ilang lho." Sahut Nilam, sahabat Ajeng.
"Gue tu iri sama kalian. Pen deh tukeran rumah, tukeran nasib, tuker-"
"Hust! Diem tuh mulut, gak boleh ngomong gitu." Sembur Mayang.
"Tapi lo mau kan kalo serumah sama abang gue?" Goda Ajeng.
"Serumahnya nanti kalo udah halal." Sahut Mayang.
"Edan lu!" Sungut Ajeng. Mereka tengah menaiki eskalator menuju kedai fastfood langganan mereka. Lebih ke tempat nongkrong untuk ketiganya. Karna meski bebas secara raga, Ajeng masih di haruskan mengirim lokasi tempatnya berada kepada papa tercinta, Stevano Wijaya.
Mereka duduk di salah satu meja paling tepi hingga mereka masih bisa melihat banyaknya pengunjung yang datang ke mall dari lantai atas.
Ajeng mengeluarkan ponselnya.
"Lapor komandan," usik Nilam.
"Gak usah resek." Sembur Ajeng.
"Tapi gue tetep demen kok pen jadi lo, knapa? Karna lo kaya, cantik, dikelilingin cowok-cowok ganteng-ya meski endingnya disleding abang lo sih- tapi gue pen banget jadi lo,"
KAMU SEDANG MEMBACA
Langit dan Senja [complete]
Novela JuvenilMy fifth story😍. Sequel Devano. Baca yakk. Mei, 03, 2020 Cover by: me "Langit punya semuanya. Ia tak pernah kehilangan senja, fajar, matahari, bulan dan bintang. Ia setia menunggu senja datang menghiasi hari sorenya hingga malam menggantikan warna...
![Langit dan Senja [complete]](https://img.wattpad.com/cover/223461243-64-k449881.jpg)