TKP

72 9 7
                                        

Hastu menghampiri Ajeng yang berada di teras belakang.

"Udah pulang? Kok aku gak denger suara mobil kamu masuk garasi?" Tanya Ajeng.

"Mobilnya dipakai abang. Aku pulang pakai gojek." Jelas Hastu.

"Ohh, eh iya, aku tadi bikin kue. Aku ambilin bentar." Ajeng pun beranjak menuju dapur dan mengambil kue buatannya.

Ia kembali menghampiri suaminya dengan secangkir teh hangat dan beberapa potong kue diatas baki.

"Aku nitip apel tadi sama Gibran. Tapi gak tau knapa belom pulang-pulang sampai sekarang." Keluh Ajeng. Hastu tersenyum menanggapi keluhan istrinya. Ia mengambil sepotong kue hasil karya istrinya lalu mulai mencicipi kue tersebut. Kunyahan pertama membuat Hastu berhenti sejenak namun saat Ajeng menatapnya penuh harap, Hastu kembali menggigit kue ditangannya itu.

"Gimana? Enak gak?" Tanya Ajeng antusias.

"Mama kemana?" Ucap Hastu tanya balik.

"Mama bilang main kerumah mama Mira. Katanya sih, mama Mira butuh bantuan buat nentuin dekorasi pernikahan Rafa sama Riska." Jelas Ajeng. Hastu manggut-manggut. Ia menarik tangan Ajeng agar lebih mendekat. Ajeng pun duduk dipangkuan Hastu.

"Kuenya, enak. Tapi lebih enak lagi kalo gak bantet dan gak asin." Bisik Hastu. Ajeng mengerutkan dahi. Ia segera mengambil sepotong kue lalu mencicipinya sendiri.

"Uwweekkk."

Hastu menahan tawa melihat reaksi Ajeng. Ia segera menyodorkan teh hangat tadi untuk Ajeng.

"Uweeekkk."

Kali ini Hastu terkejut.

"Kamu gak apa-apa, sayang?" Tanya Hastu khawatir. Ajeng menggelengkan kepala.

"Kok kamu diem aja sih? Padahal kan asin semua!" Gerutu Ajeng. Baik teh maupun kuenya terasa asin. Hastu menghela nafas lalu membelai rambut istrinya.

"Karna aku lebih menghargai usaha kamu dari pada mengkritik." Jawab Hastu.

"Tetep aja, harusnya kamu kasih tau kekurangannya biar aku bisa perbaiki!" Ucap Ajeng kekeuh.

"Iya maaf." Ucap Hastu lalu mengecup sekilas bibir Ajeng. Cewek itu malah memukul pelan bahu suaminya.

"Jangan cium-cium!"

"Biarin."

Cupp

Cupp

Cupp

"Hastu!" Ajeng lalu membungkam bibir suaminya. Hastu mencoba memberontak namun malah membuat keduanya terjatuh dengan Hastu menindih tubuh Ajeng.

"Kalian berdua!" Teriak Angga. Hastu dan Ajeng pun mendongak ke sumber suara.

"Jan pamer didepan gue bisa kagak?" Rengek Angga. Cowok itu sedang berjongkok dengan raut galau.

Melihat ada kesempatan, Hastu pun kembali mengecup bibir istrinya. Yang langsung mendapat tatapan tajam dari Ajeng. Hastu pun hanya nyengir lalu membantu Ajeng bangkit.

"Kenapa lo?" Tanya Ajeng.

"Huwaaaa ha haha huwaaaa ha ha ha." Angga malah menangis.

####

Ajeng menghampiri suaminya bersama Angga di ruang tengah. Angga masih merengek. Merasa dirinya kali ini menjadi pecundang karna kesulitan menemukan hal-hal yang disukai Mayang.

"Lo bilang Yayang suka sama Akmal, yaudah gue bungkusin aja poto-poto Akmal buat dia!" Curhat Angga. Hastu dan Ajeng membulatkan matanya antara takjub dan ingin tertawa.

Langit dan Senja [complete]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang