Penyesalan Ajeng

137 15 2
                                        

Ost. Bab ini Gone by: Jin.

Hastu duduk di halte menunggu bis yang akan membawanya ke terminal. Ia menolak tawaran Rafa yang ingin mengantarnya. Sesekali cowok itu menghela nafas. Terasa berat. Hastu menoleh melihat jalan diujung. Jalan menuju sekolahnya. Sekolah yang membuat bertemu dengan Ajeng.

Hastu menunduk. Menggaruk kepalanya. Mengusap wajahnya. Duduk lalu berdiri. Hastu gelisah. Ia sangat penasaran apa yang membuat Ajeng merubah perasaannya untuk Hastu. Hastu ingin tahu, kesalahan apa yang ia buat hingga Ajeng tetap pada pendiriannya.

Hastu memainkan kakinya. Menendang udara dengan bosan.

"Lama banget sih bisnya!" Gerutu Hastu. Setengah jam ia menunggu.

"Tadi gue anterin gak mau." Sahut Rafa. Cowok itu tiba-tiba muncul dari arah belakang.

"Bentar lagi juga dateng bisnya." Ucap Hastu menghibur diri.

"Lo ngelamunin Ajeng?" Tanya Rafa. Hastu menoleh dan tersenyum konyol.

"Boleh kan?" Ucap Hastu.

"Sebenernya kalian knapa? Knapa Ajeng ngejauhin lo?" Tanya Rafa.

"Gue juga gak ngerti. Gue juga pengen tau kenapa." Ucap Hastu tersenyum getir.

"Nih." Rafa menyodorkan sebuah amplop.

"Gue masih punya tabungan."

"Ini bukan duit. Gue tau, lo sayang banget sama Ajeng. Tapi jan sampe hal itu bikin lo buta dan lupa ngurusin idup lo." Pesan Rafa. Hastu membuka amplop itu. Berisi foto-foto Ajeng.

"Tadinya gue pen kasih lo hape, tapi tabungan gue gak cukup." Cerita Rafa.

"Makasih ya, ini udah lebih dari cukup." Ucap Hastu. Riska yang berdiri tak jauh dari mereka pun terharu.

"Bagaimana gak bersyukurnya Ajeng punya lo. Gue beneran iri sama Ajeng." Gumam Riska.

####

Hastu sudah berada diterminal. Ia menatap bus yang akan membawanya pulang. Dua hari lagi hari peringatan kematian ibunya. Ia harus bergegas membersihkan rumah. Hastu menarik nafas lalu melangkah dengan pasti ke dalam bis.

"Sampai jumpa," ucap Hastu dalam hati.

"Ajeng." Lanjutnya lirih sembari menatap amplop pemberian Rafa.

####

Hari ini Ajeng bersiap untuk pesta ulang tahunnya. Deva sudah membuat janji dengan salon langganannya. Ajeng ditemani Mayang dan Nilam sedang menikmati one days girls mereka. Meski terlihat bahagia saat bersama kedua sahabatnya, Ajeng akan kembali murung saat sendiri. Pikirannya menerawang jauh memikirkan Hastu.

"Hari spesial." Gumam Ajeng.

"Apaan? Gue gak denger." Tanya Nilam. Ajeng membuka matanya. Mereka sedang melakukan perawatan wajah.

"Hari spesial itu apa aja sih?" Tanya Ajeng.

"Contohnya gitu maksud lo?"

Ajeng mengangguk.

"Biasanya sih mereka bilang hari spesial itu kayak hari pernikahan, hari ulang tahun, peringatan hari jadian atau peringatan hari pernikahan. Bisa juga hari peringatan kematian." Jelas Nilam.

Deg. Ajeng tertegun. Mungkinkah?

"Mbak maskernya udahan aja deh, Ajeng ada keperluan."

"Maaf mbak gak bisa. Masker ini sudah dipesan khusus ny. Deva. Kami takut menerima komplain." Tolak pelayan salon. Ajeng mendengus kesal.

"Lo mo kemana? Nikmatin hari ini, lupain sejenak masalah lo!" Pinta Nilam. Ajeng pun mengalah. Tapi pikirannya tetap tak tenang.

Langit dan Senja [complete]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang