Hastu menenangkan dirinya di balkon. Tak lama kemudian, ia mendengar pintu apartemen ditutup. Hastu menoleh. Ia berjalan menghampiri meja makan. Masih utuh. Itu berarti Ajeng pun tak makan. Hastu menutup matanya dan menghela nafas. Ia kembali ke balkon. Dari atas sana, ia dapat melihat Ajeng yang berjalan pulang. Sementara langit sedang mendung menggantung dengan kilat yang mulai menyambar di kejauhan.
Hastu berbalik, ia duduk di meja kerjanya. Mencoba tak peduli pada apa akan yang terjadi diluar sana.
"Udah gede. Pasti juga udah bisa mikir kalo ujan ya neduh." Gumam Hastu mulai membuka lembat demi lembar proposal didepannya.
Tak lama, suara petir menyambar membuat Hastu menoleh kembali kearah balkon.
"Bodo!" Gumamnya lagi. Ia kembali membaca proposal ditangannya.
"Apa-apaan sih nih bocah! Proposal jelek gini diajuin ke gue!" Hastu menggerutu. Ia menutup proposal itu. Gerimis mulai turun. Hastu kembali membuka proposal yang lain dan membacanya.
"Yang kek gini minta gue tanda tanganin? Lo pikir mainan anak TK!" Hastu kembali menutup proposal itu. Lalu kembali memgambil proposal yang lain.
"Pada gak becus kerja!" Ucap Hastu akhirnya. Ia menutup lalu menumpuk kembali proposal-proposal itu. Jelas pikirannya sedang terganggu. Hujan mulai turun deras. Hastu beranjak dari kursi kerjanya. Ia mengacak kasar rambutnya lalu melangkah menuju meja. Hastu meraih kontak mobil beserta jaketnya yang tergantung didekat pintu apartemen.
####
Hastu mengeluarkan mobilnya dari area apartemen. Seharusnya Ajeng belum jauh dari sana. Namun, rintik hujan menghalangi jarak pandang Hastu. Sesekali ia menoleh ketempat dimana kemungkinan besar Ajeng berteduh. Hingga Hastu hampir menabrak seseorang. Orang itu nampak jatuh tersungkur. Bukan karna terkejut pada mobil Hastu yang akan menabraknya, namun seperti ada yang mendorongnya. Hastu bergegas turun. Orang itu memegangi lengannya yang sakit.
"Ajeng? Lo gak apa-apa?" Tanya Hastu khawatir. Ajeng menatap Hastu. Ia masih memegangi lengannya. Hastu melepas jaket yang ia kenakan lalu membalutkannya pada Ajeng yang mulai menggigil.
"Siapa yang dorong lo tadi?" Tanya Hastu. Ajeng menggeleng.
"Deres. Balik ke apartemen gue!" Ucap Hastu ditengah derasnya hujan.
####
Ajeng mengenakan pakaian Hastu. Ia duduk dipojok sofa dengan tubuh masih menggigil kedinginan. Hastu menghampirinya dengan membawa secangkir teh hangat.
"Sory, gue ngerepotin mulu." Ucap Ajeng. Hastu terdiam.
"Masih dingin?" Tanya Hastu kemudian.
"Nggak terlalu." Jawab Ajeng. Hastu beranjak.
"Mo kemana?" Tanya Ajeng.
"Nyari selimut."
"Gue udah gak kedinginan."
"Gue kedinginan."
"Oh."
Tak lama Hastu kembali dengan selimut ditangannya. Ia beralih duduk disamping Ajeng. Ajeng menoleh menatap Hastu dengan aneh.
"Apa?" Tanya Hastu. Ajeng menggelengkan kepala. Hastu beringsut semakin dekat dengan Ajeng.
"Lo gak terimakasih ke gue?"
"Buat?"
"Udah jemput lo ditengah ujan."
"Gue gak minta lo khawatirin. Tapi kalo lo pengen gue berterimakasih-"
Hastu membungkam mulut Ajeng dengan kecupan lembut. Hanya seperkian detik. Namun berhasil membuat mata Ajeng membulat sempurna. Ajeng mematung ditempat, sementara pelaku duduk dengan membalutkan selimut ditubuhnya. Setelah berhasil membuat degup jantung Ajeng berdebar tak karuan, cowok itu berbaring dengan tenang dipangkuan Ajeng. Lagi-lagi Ajeng dibuat terkejut oleh Hastu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Langit dan Senja [complete]
Teen FictionMy fifth story😍. Sequel Devano. Baca yakk. Mei, 03, 2020 Cover by: me "Langit punya semuanya. Ia tak pernah kehilangan senja, fajar, matahari, bulan dan bintang. Ia setia menunggu senja datang menghiasi hari sorenya hingga malam menggantikan warna...
![Langit dan Senja [complete]](https://img.wattpad.com/cover/223461243-64-k449881.jpg)