"Cuman itu doang?" Ucap Mayang. Ajeng mengangguk. Semua siswi kelasnya tengah berkerumun. Ingin tahu kado istimewa apa yang didapat Ajeng tahun ini. Dan gadis itu menunjukan gelang yang ada dipergelangan tangannya.
"Dari sapa?" Tanya salah satu teman Ajeng.
"Dari~"
"Yang pasti bukan dari kambing." Lanjut Ajeng lalu beranjak pergi untuk menghindari pertanyaan yang lebih jauh.
"Lo mo kemana, bocah!" Teriak salah satu teman Ajeng yang lain.
"Mo nemuin abang. Urgent!" Teriak Ajeng.
"Dari sapa sih? Penasaran gue." Ucap salah satu cewek setelah Ajeng pergi.
"Keknya barang murahan deh." Sahut yang lain.
"Mungkin dari-"
"HASTU!" Ucap mereka bersamaan. Mereka pun tertawa keras setelahnya.
"Heran aja, apa sih istimewanya tu orang. Sampe-sampe bikin Ajeng tergila-gila gitu."
"Iya ya, apa jangan-jangan tu bocah kena pelet."
"Parno lu ahh, hari gini percaya sama begitua."
"Kali aja."
"Gak mungkin. Gue tuh tau dari awal mereka ketemu sampai sekarang."
"Gimana tuh?"
"Ajeng tuh awalnya takjub aja sama kepolosan Hastu. Sampe gak sadar dia suka sama tuh cowok."
"Gue mah gak yakin."
####
Ajeng pergi ke kelas Hastu. Langkahnya seringan angin. Sesekali gadis itu bersenandung. Ia nampak begitu bahagia.
Sesampainya dikelas, Ajeng celingukan mencari Hastu. Cowok itu tidak ada di kelas. Riska datang menghampirinya.
"Hastu ma-"
"Lagi dihukum." Potong Riska.
"Bisa lah, dua mapel dia gak ikut. Sampe jam istirahat mo selesai masih belom nonggol." Cerita Riska.
"Dia telat?"
Riska mengangguk.
"Cari sendiri. Jan ngajakin gue." Ucap Riska lalu berbalik kembali ke tempat duduknya. Ajeng mendengus kesal tapi juga penasaran.
"Knapa bisa telat sih? Rafa tadi pagi gue masuk udah di kelas, aoa gak barengan sama Hastu ya?" Gumam Ajeng.
Mulanya berjalan tenang, namun karna sebentar lagi bel masuk berbunyi, Ajeng bergegas mencari Hastu.
####
"Hastu." Panggil Ajeng.
"Ya?" Cowok itu menoleh. Ia sedang menyapu setelah lelah mengisi bak air dari seluruh kamar mandi.
"Telat?" Tanya Ajeng. Hastu nyengir.
"Kok bisa?"
"Gue lupa ngerjain tugas dari pak Bagus. Jadi capek gak capek ya ngerjain tugas dulu."
"Sampe malem?"
"Iya lah, tugasnya bejibun." Jawab Hastu masih melanjutkan hukumannya. Ajeng yang merasa ikut bertanggungjawab pun menghampiri Hastu. Gadis itu mengambil sapu lidi yang berada tak jauh dari Hastu.
"Mo ngapain?"
"Bantuin lo."
"Gak usah. Tangan lo bisa lecet."
"Gimana cerita-"
Braaakkk. Hastu menarik tubuh Ajeng yang oleng karna kakinya terlilit selang air. Mereka jatuh bersama dengan Ajeng menimpa tubuh Hastu. Hastu meringis menahan sakit di kepalanya yang terantuk bebatuan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Langit dan Senja [complete]
Teen FictionMy fifth story😍. Sequel Devano. Baca yakk. Mei, 03, 2020 Cover by: me "Langit punya semuanya. Ia tak pernah kehilangan senja, fajar, matahari, bulan dan bintang. Ia setia menunggu senja datang menghiasi hari sorenya hingga malam menggantikan warna...
![Langit dan Senja [complete]](https://img.wattpad.com/cover/223461243-64-k449881.jpg)