Ajeng melamun di depan kantor polisi. Ia ingin mengunjungi Vano dan Akmal. Teringat kembali persyaratan yang diajukan Riska kemarin. Ajeng mengepalkan kedua tangannya. Membuang jauh-jauh rasa takutnya terhadap Nathan. Ia yakin, Hastu pun bisa menghadapi Nathan. Ajeng mulai melangkah memasuki pelataran kantor polisi.
"Selamat siang pak." Ucap Ajeng.
"Ya? Ada yang bisa kami bantu?"
"Saya ingin mengunjungi seseorang." Jawab Ajeng.
####
"Stevano Wijaya, ada yang ingin bertemu dengan Anda." Ucap salah satu polisi. Vano mengangkat kepalanya perlahan. Wajah yang sangat dirindukan Ajeng itu kini jauh berbeda dari yang terakhir kali Ajeng lihat.
Wajah pucat dengan guratan halus di dahi dan sudut mata itu nampak begitu jelas meski dari kejauhan. Ajeng tercekat melihat Vano mencoba berdiri dengan merangkak lebih dulu. Tubuh tegap itu kini berubah menjadi lebih kurus. Hati Ajeng tersayat. Dinginnya dinding jeruji besi telah merubah Vano seratus delapan puluh derajat. Ajeng bahkan tak tega mengungkapkan apa yang telah menimpa dirinya dan Deva.
"Ajeng? Sayang? Kamu datang?" Ucap Vano.
"Pap-pap-papa, ma-maafin Ajeng karna gak bisa sering berkunjung." Ucap Ajeng terbata dan hanya di balas senyum tulus dari sang ayah.
"Papa disini gak apa-apa, Ajeng gak perlu khawatir. Gimana mama? Kenapa gak ikut?"
Ajeng menelan pahit salivanya. Ia tak mampu berkata-kata. Seolah mulutnya kaku.
"Ma-mama emm ada dirumah, Ajeng sengaja gak ngajak karna- karna kebetulan Ajeng lewat sini tadi." Jawab Ajeng terbata.
Vano menghela nafas.
"Mama masih seperti dulu?" Tanya Vano menyadari Ajeng sedang berbohong. Ajeng menunduk. Ia sadar telah ketahuan berbohong.
"Mama masih ingin bunuh diri, ya?" Tanya Vano. Ajeng tegar, ia mengangkat kepalanya lalu menatap Vano dan meraih tangan ayahnya itu.
"Ada yang ingin Ajeng tanyain ke papa." Ucap Ajeng. Vano mengangguk.
####
Hastu menyetujui keinginan Ira untuk datang berkunjung kerumah. Ira bilang, ayahnya ingin bertemu. Hastu tengah bersiap dikamarnya hingga pantulan bayangan dicermin menghentikan aktifitasnya mengancingkan baju. Ia teringat dengan bed cover yang tak diganti oleh Ajeng. Hastu berbalik lalu duduk diatas ranjangnya.
"Lo dimana?" Gumam Hastu sembari membelai bed cover-nya. Baru lah ia melihat flashdisk yang ditinggalkan Rafa tempo hari. Hastu jelas mengingat kalimat yang diucapkan Rafa bahwa ia tak ingin Hastu menyesal seperti dirinya.
Hastu pun bangkit dari duduknya menghampiri flashdisk yang ada dimeja. Hastu memunggut flashdisk itu. Menatap sejenak lalu menaruhnya di saku celananya.
####
Ajeng kembali menemui Nathan. Kembali bersimpuh dan memohon berkali-kali dikaki cowok itu.
"Gue gak bakal biarin lo ketemu mama lo sampai kapanpun." Ucap Nathan datar.
"Gue janji gak bakal ulangin kesalahan gue!" Kekeuh Ajeng.
"Kuping lo budeg? Gue bilang enggak ya enggak!" Nathan yang risih, menendang Ajeng hingga tersungkur.
Ajeng kembali duduk memohon dikaki Nathan. Ia tak akan pernah menyerah.
Namun bukan permintaannya dikabulkan oleh Nathan, gadis itu malah menerima berkali-kali tendangan dari Nathan. Berkali-kali terjatuh tak membuat Ajeng putus asa, ia hanya ingin bertemu Deva. Ajeng terus memohon hingga Nathan risih dan meninggalkan begitu saja Ajeng di ruang kerja Nathan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Langit dan Senja [complete]
Teen FictionMy fifth story😍. Sequel Devano. Baca yakk. Mei, 03, 2020 Cover by: me "Langit punya semuanya. Ia tak pernah kehilangan senja, fajar, matahari, bulan dan bintang. Ia setia menunggu senja datang menghiasi hari sorenya hingga malam menggantikan warna...
![Langit dan Senja [complete]](https://img.wattpad.com/cover/223461243-64-k449881.jpg)